Mohon tunggu...
Jimmy Wijaya
Jimmy Wijaya Mohon Tunggu... Lainnya - Insan Bangsa

Berbagi Cerita

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pahlawan Energi Berkeadilan, Siapa Mereka?

10 November 2020   09:07 Diperbarui: 10 November 2020   09:22 339
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kapal yang tenggelam di perairan Liukang Kalmas. Perairan ini selalu mencekam setiap cuaca buruk terjadi (Sumber : Tribun Timur)

Sebagian dari masyarakat, mungkin ada yang belum paham tentang bagaimana proses pelaksanaan program BBM satu harga. Karena minimnya informasi, kemungkinan ada yang menganggap eksekusi program BBM Satu Harga hanya sebatas asal menuntaskan saja. Dan, bisa jadi pula, ada yang berpikir pekerjaan ini cuma sekadar menggugurkan kewajiban belaka.

Jika ada yang berpikir demikian, simpanlah prasangka itu. Karena pada kenyataannya, pelaksanaan program BBM satu harga di lapangan sangat berat namun dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Tidak sedikit dijumpai hambatan dan rintangan yang terpaksa harus dilewati demi menuntaskan apa yang diamanahkan negara, demi kemaslahatan orang banyak.

Sudah tidak terhitung berbagai tantangan yang harus dihadapi insan Pertamina dalam menunaikan kewajiban satu ini. Akan tetapi, meski tidak mudah, dengan keikhlasan dalam menunaikan tugas, segala macam halangan itu mampu diatasi dan dilalui dengan baik.

Salah satu contoh yang kejadian dialami insan Pertamina di Marketing Operation Region (MOR) VII Sulawesi. Mereka terombang-ambing di lautan selama tiga hari dua malam saat melakukan pengecekan sarana dan fasilitas K3 di lembaga penyalur BBM Satu harga di pulau Kalu Kalukuang, Kecamatan Liukang Kalmas, Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau tersebut merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia.

Usai memastikan infrastruktur lembaga penyalur terpenuhi dengan baik, tiga pekerja Pertamina yang telah melaksanakannya tugasnya, bertolak kembali ke Makassar. Pelayaran menggunakan kapal kayu menuju Makassar ditempuh kurang lebih 20 jam perjalanan. Itu, jika kondisi cuaca lagi bersahabat. Jika ombak mengganas, waktunya lebih lama lagi.

Petaka pun terjadi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh jam lamanya, mesin kapal yang ditumpangi tiba-tiba mengeluarkan kepulan asap hitam. Mesin segera dimatikan dan dilakukan pemeriksaan. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata salah satu bagian mesin pecah.

Malang tak dapat ditolak. Posisi kapal kandas, berada jauh dari titik koordinat pulau yang ada di sekitaran Kabupaten Pangkep. Jangankan untuk meminta bala bantuan, jaringan seluler pun tak ada sama sekali.

Satu-satunya komunikasi yang dapat dilakukan hanya menggunakan Radio Marine Transceiver, yang saling terkoneksi antar kapal satu dengan kapal lainnya.

Rencana pulang pun ambyar . Situasi berubah menegangkan. Bayangkan jika kita berada dalam situasi seperti itu. Perasaan menjadi campur aduk menjadi satu, cemas, khawatir dan takut. 

Ditambah situasi kian mencekam, khawatir cuaca berubah menjadi tidak bersahabat. Penampakan lautan memang tampak tenang, namun teramat sepi. Tak satupun perahu dan kapal nelayan yang melintas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun