Jimmy Haryanto
Jimmy Haryanto penulis bebas

Pecinta Kompasiana. Berupaya menjadi pembelajar yang baik, karena sering sedih mengingat orang tua dulu dibohongi dan ditindas bangsa lain, bukan setahun, bukan sepuluh tahun...ah entah berapa lama...sungguh lama dan menyakitikan….namun sering merasa malu karena belum bisa berbuat yang berarti untuk bangsa dan negara. Walau negara sedang dilanda wabah korupsi, masih senang sebagai warga. Cita-cita: agar Indonesia bisa kuat dan bebas korupsi; seluruh rakyatnya sejahtera, cerdas, sehat, serta bebas dari kemiskinan dan kekerasan. Prinsip tentang kekayaan: bukan berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak yang sudah kita berikan kepada orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kemacetan Parah di Danau Toba Seharusnya Bisa Dihindari

3 Januari 2018   15:34 Diperbarui: 4 Januari 2018   15:44 508 1 0

Setelah Presiden Joko Widodo meresmikan bandar udara Silangit di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara menjadi bandara internasional tanggal 24 November 2017, harus diakui jumlah pengunjung yang datang ke Danau Toba meningkat pesat, termasuk kunjungan para perantau ke kampung halaman. Itu kabar baik.  

Bandara Silangit yang dibangun pada masa penjajahan Jepang itu kini berkapasitas 500.000 penumpang per tahun. Landasan pacu dengan panjang 2.650 x 30 meter, bisa mengakomodasi pesawat berbadan sempit Airbus A320 dan Boeing 737-800.

Sebenarnya Bandara Silangit sudah berstatus sebagai bandara internasional tanggal 28 Oktober 2017 yang ditandai dengan penerbangan perdana Garuda Indonesia dari Bandara Changi Singapura ke Silangit bernomor penerbangan GA 8510 dari Changi, Singapura tepat pukul 13.30 WIB.

Kini sudah ada enam maskapai penerbangan yang mendarat di atau bepergian ke bandara Silangit yakni Wings Air, Susi Air, Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, dan Citilink.

Namun di balik berita baik itu ada kisah yang cukup mengernyitkan dahi. Para pengunjung ke Danau Toba belum bisa menikmati kehidupan wisata pada umumnya. Bagaimana tidak, di bulan Desember dan Januari yang merupakan puncak kunjungan wisatawan ke Danau Toba, fasilitas pengunjung belum merasa nyaman.  

Kurangnya Peran Pemerintah Daerah

Berjalan dari kota Tarutung menuju bandara Kuala Namu, Medan, yang biasanya ditempuh hanya dengan tujuh jam, namun tanggal 2 Januari 2018 harus ditempuh selama dua belas jam. Apa yang terjadi?

Banyak wisatawan yang sudah memesan tiket ke Jakarta menjadi kehilangan kesempatan. Karena sudah di bandara dan pesawatnya sudah berangkat, maka para pengunjung harus merogoh kantong lebih dalam karena harga yang jauh lebih tinggi dan hanya mau menerima uang tunai.

Setelah diamati lebih dalam, ternyata penyebab kemacetan karena hari pekan ada di perkotaan di sekitarnya seperti Siborongborong, Laguboti, Balige, Porsea, sementara tanpa hari pekanpun ada pusat kemacetan seperti persimpangan di kota yang selalu macet. Seandainya Bupati Tapanuli Utara mau memerhatikan itu dengan melebarkan jalan di sekitarnya dan memberikan petunjuk jalan alternatif saat hari pekan, maka para pengunjung dapat berjalan dengan lebih lancar.

Jalan berlobang-lobang juga ikut membuat kemacetan. Seharusnya pemerintah daerah harus rajin untuk mengawasi agar jangan sampai ada jalan yang berlobang-lobang yang bukan saja tidak membuat nyaman para pengguna jalan tapi bisa membahayakan keselamatan mereka yang pada akhirnya dapat mengurangi minat turis untuk mengujungi Danau Toba.

Akomodasi

Dari Bandara Silangit, para pengunjung masih merasa kesulitan untuk mendapatkan transportasi dan akomodasi yang baik. Kota Siborongborong merupakan kota kecil yang belum memiliki banyak hotel sehingga para wisatawan akan mencari tempat penginapan di kota Sibolga, Tarutung, Balige, Parapat, Pematang Siantar dan Medan.  

Ada informasi hotel yang bisa dijadikan sebagai panduan seperti Noah Hotel di Silando, Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara 22312 yang dilengkapi dengan nomor kontak dan harga hotel sekitar Rp300.000 - Rp500.000, dan informasi tambahan Lokasi: 2,3 km dari Bandara Silangit.

Seharusnya Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Tobasa harus mampu mengundang para investor agar mau bekerjasama dengan pengusaha hotel yang sudah ada agar pelayanannya dapat diperbaiki.

Dari mengunjungi Danau Toba, sangat terlihat bahwa pihak pemerintah daerah belum menunjukkan kesungguhannya untuk menyambut kedatangan wisatawan ke Danu Toba. 

Semoga dengan membaca ini mereka tergugah agar ikut dengan penuh semangat membangun kawasan Danau Toba secara kreatif dan penuh kesungguhan dan bukan hanya menunggu uluran tangan atau anggaran dari pemerintah pusat.