Mohon tunggu...
Jilal Mardhani
Jilal Mardhani Mohon Tunggu... Administrasi - Pemerhati

“Dalam kehidupan ini, selalu ada hal-hal masa lampau yang perlu kita ikhlaskan kepergiannya.”

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

16 Tahun GRANAT - Mempertimbangkan Strategi Putar Haluan

1 November 2015   00:31 Diperbarui: 1 November 2015   10:54 471
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Ancaman Nasional yang Membutuhkan Bela Negara. Sumber archive.constantcontact.com/"][/caption]

28 Oktober 2015 kemarin tak hanya untuk memperingati 87 tahun pencanangan Sumpah Pemuda. Tapi juga Gerakan Nasional Anti Narkotika dan Obat-obatan Terlarang (GRANAT) yang resmi berdiri 16 tahun yang lalu. Beberapa saat setelah Presiden Soeharto mengakhiri kekuasaannya di tengah jalan, berkumpullah 14 anggota masyarakat yang resah menyaksikan perkembangan pesat peredaran gelap dan penyalah gunaan narkoba. Mereka sepakat mendirikan lembaga yang non-partisan.

Sejak awal, organisasi nirlaba yang membiayai seluruh kegiatannya secara swadaya itu, mendapat simpati luas dari berbagai lapisan masyarakat. Dalam waktu singkat perwakilannya di daerah-daerah berdiri sehingga kini telah hadir di (hampir) seluruh propinsi yang ada di Indonesia.

Untuk gerakan sejenis, GRANAT adalah yang pertama di Indonesia. Bahkan jauh sebelum organisasi yang dimiliki dan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah, Badan Narkotika Nasional (BNN), berdiri.

Garis yang tegas bahkan keras terhadap wujud dan prilaku apapun yang berkait dengan penyalah- gunaan maupun peredaran gelap narkoba telah disuarakannya dengan lantang di ujung pemerintahan Presiden BJ Habibie yang sementara dan singkat itu (1998-1999). Berlanjut pada kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid - Megawati Soekarnoputri (1999 - 2001) yang ditengah jalan berganti dengan Megawati Soekarnoputri - Hamzah Haz (2001-2004). Lalu selama 2 musim perioda berikutnya, yaitu Susilo Bambang Yudoyono - Jusuf Kalla (2004-2009) maupun Soesilo Bambang Yudhoyono - Boedino (2009-2014).

Kini, di era pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla yang mulai memimpin sejak 2014 lalu, ia masih berdiri tegar. Tetap mengejar mimpinya terhadap Indonesia yang bersih dari narkoba. Karena cita-cita memang harus digantung setinggi langit. Betapapun muskilnya. Walau 2 diantara 14 pendirinya telah dipanggil Sang Khalik : Dr. Sudirman SpKJ (2011) dan Dr. Adnan Buyung Nasution SH (2015).

 

***

 

Sesungguhnya, candu hadir di tengah kehidupan hampir seumur peradaban manusia yang mengisinya. Semula ditemukan tak sengaja sebagai buah interaksi dengan alam sekitar. Demikianlah yang dialami suku asli Indian di daratan Amerika yang mengonsumsi daun koka. Begitu pula yang dilakukan budak-budak Afrika yang didatangkan ke sana. Mereka membawa mariyuana lalu digunakan saat istirahat malam hari setelah lelah bekerja seharian. Di sebagian wilayah Indonesia seperti tumbuhan itu semula justru merupakan bahan penyedap makanan (Dhira Narayana, Irwan M. Syarif, dan Ronald C.M., ‘Hikayat Pohon Ganja - 12.000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia’, Gramedia, 2011).

Penyalah-gunaan kegunaan tumbuhan itu kemudian hari berkembang menjadi sebuah ketagihan yang tak hanya merusak kesehatan hingga merenggut nyawa. Tapi juga prilaku, tatanan sosial, dan budaya hidup masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun