Mohon tunggu...
Jihan Fauziah
Jihan Fauziah Mohon Tunggu... Lawyer / Blogger / Ibu satu anak

https://www.jihanfauziah.com IG : j.jihanfauziah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Buku Pertama dan Surat Wasiat

31 Juli 2019   04:09 Diperbarui: 31 Juli 2019   04:53 0 2 0 Mohon Tunggu...

Edgar dan bosnya duduk di hadapanku sekarang. Disertai kehadiran dua orang saksi, mereka tengah bersiap membaca surat wasiat yang telah dipersiapkan Wijoyo sebelum peristiwa itu terjadi.

Seminggu yang lalu, Wijoyo telah menutup mata setelah hampir setahun dirinya sempat berkali-kali dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Serangan pertama terjadi sesaat setelah Wijoyo mendapatkan surat panggilan Tim Penyidik Kepolisian Daerah Jawa Timur sebagai saksi dalam satu kasus korupsi proyek yang melibatkan perusahaannya di Surabaya.

Aku pun jadi disibukkan dengan segala administrasi yang diperlukan oleh Tim Kuasa Hukum Wijoyo selama ia dirawat. Membantu pengacaraya, menelusuri arsip seperti laporan keuangan tander pembangunan Rumah Sakit di Universitas Hangair dan surat-surat perjanjiannya dengan rekanan pengembang proyeknya. Sampai dua kali dipanggil pihak kepolisian, Wijoyo belum juga angkat kaki dari rumah sakit.

Ketenanganku mulai terusik. Wartawan bagaikan lalat ribut yang tak hentinya memburu pertanyaan sebagai bahan gunjingan seantero negeri ini. Sekalinya Wijoyo tenar di media karena kasusnya, apapun yang menyangkut Wijoyo tak akan lepas dari sorota media. Termasuk aku yang juga dianggap sebagai putrinya. Aku memang putrinya. Tapi putri angkat.

Sudah lama duda konglomerat itu merindukan seoarang anak. Sampai akhirnya ia bercerai dengan isterinya di usia pernikahan yang ke 17 tahun karena tak kunjung mendapat momongan. Aku adalah hadiah dari isterinyanya saat pernikahan mereka menginjak usia ke 15 tahun. Waktu itu aku masih menjadi gadis mungil yang polos. Keputusan untuk mengadopsiku, menyekolahkanku dari SMA hingga sarjana ternyata tak membuat rumah tangga Wijoyo dan isterinya menjadi lebih baik.

Setelah lulus sarjana, aku diperkenankan bekerja di kantornya. Untuk membayar semua kebaikan Wijoyo, aku terpaksa menerima tawarannya bekerja sebagai asisten pribadi kongloromerat yang menjadi pemegang saham mayoritas pada lebih dari delapan perusahaan. Sebenarnya, aku sering tak setuju dengan segala kebijakan Wijoyo di perusahaan. Sosoknya yang otoriter, keras, dan sewenang-wenang membuat semua orang harus mengikuti kehendaknya. Termasuk aku. Sejujurnya aku ingin membebaskan diri dari berbagai kehendak busuknya.

Aku lebih banyak tak punya daya. Aku malas debat kusir. Aku memutuskan untuk diam dan tidak membangkang ketika deretan perintah mulai keluar dari mulutnya. Muak, iya. Tapi aku bisa apa. Aku hanya bisa lari ke perpustakaan. Tempatku melampiaskan segala rasa penatku. Sambil berharap bertemu dia kembali. Lelaki dermawan yang memberiku buku.

Lelaki itu, apakah dia pernah menengokku kembali di panti asuhan, dan menemukanku tidak ada disana. Tapi aku yakin, seseorang yang begitu mencintai akan sesuatu akan dipertemukan dengan orang lain yang memilii cinta yang sama. Aku begitu mencintai buku, sejak seorang dermawan kecil memberiku hadiah untuk ulang tahunku yang ke 8 tahun. Pemberian itu sangat berkesan karena menjadi benda pertama yang benar-benar bisa aku miliki, tanpa harus berbagi dengan teman panti asuhan yang lain. Buku itu berjudul Toto Chan. The Little Girl at The Window. Aku menyukai buku ini sampai sekarang. Aku yakin, lelaki itu pasti juga mencintai buku dan suatu saat kami akan dipertemukan karena ketertarikan kami.

Ketika di panti asuahan dulu, hampir setiap malam aku membaca buku ini. Tentang seorang gadis kecil polos saking polosnya sekolah pertamanya tidak bisa menerima siswa seperti dia. Akhirnya, dia pindah di sekolah yang kelasnya berupa gerbong kereta. Disana, Toto Chan belajar dengan girang. Dia begitu bahagia berada di sekolah yang mengajarkan untuk selalu menjadi diri sendiri. Itulah yang membuatku terpana. Aku bahkan tidak mengenal diriku sendiri sampai sekarang. Dari rahim siapa aku lahir pun, aku tidak tahu.

Satu lagi yang membuatku paling terpana di luar cerita dari buku inu. Pada halaman terakhirnya, kutemukan tulisan :

Bukan kebetulan kau menerima hadiah ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
KONTEN MENARIK LAINNYA
x