Mohon tunggu...
Jihan Fauziah
Jihan Fauziah Mohon Tunggu... Lawyer / Blogger / Ibu satu anak

https://www.jihanfauziah.com IG : j.jihanfauziah

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan Makroprudensial, "Belajar dari Kisah Rumah Tangga Dedi"

25 Juni 2019   20:51 Diperbarui: 25 Juni 2019   21:02 0 4 1 Mohon Tunggu...
Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan Makroprudensial, "Belajar dari Kisah Rumah Tangga Dedi"
dok-financialku-com-5d122974097f360c39074186.jpg


Dua tahun terakhir, beranda Instagram saya dipenuhi foto-foto pernikahan teman saya. Itu artinya, mereka mulai memasuki bahtera baru dalam kehidupan, yaitu bahtera rumah tangga. Salah satu teman saya tersebut bernama Dedi (nama samaran). Disini, saya akan menuliskan kisahnya siapa tahu menginspirasi teman-teman pembaca. Dedi adalah kepala rumah tangga. Usianya 28 tahun, menikah awal tahun 2018 lalu dan sekarang sudah memiliki satu orang anak. Dia bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta sejak lulus kuliah lima tahun lalu. Gajinya bisa dibilang cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Tidak dipungkiri, bahwa setiap rumah tangga memiliki permasalahannya sendiri. Salah satunya masalah keuangan. Dedi dan isterinya menyadari itu. Keduanya sangat terbuka terhadap literasi keuangan. Rupanya, bagaimana rumah tangga mengelola keuangan akan berdampak pada "Stabilitas Sistem Keuangan" Negara. Lha kok bisa? 

Kebutuhan pokok rumah tangga, terdiri dari sandang, pangan, dan papan (properti). Ada dua tujuan pembelian properti bagi rumah tangga. Pertama untuk rumah tinggal, dan yang kedua untuk investasi. Semakin lama, kebutuhan properti diproyeksi akan terus meningkat. Jika tingginya permintaan tidak diimbangi ketersediaan properti itu sendiri, maka harga properti cenderung naik. Jika kondisi keuangan rumah tangga cenderung membaik, wajar jika rumah tangga tersebut memilih untuk membeli properti. 


Mengenal Sistem Keuangan dari Kisah Dedi 

Ada baiknya kita belajar terlebih dahulu dari krisis keuangan global di tahun 2008. Krisis tersebut diawali dengan permasalahan sektor keuangan di Amerika. Bermula dari peningkatan harga properti, berujung pada ledakan permintaan kredit properti. Peningkatan harga tersebut ditunjang dengan sistem ekonomi yang baik sehingga perbankan mampu memberikan kredit dengan bunga yang rendah dan mudah diperoleh. Spekulasi tentang perhitungan pengambilan kredit dengan proyeksi harga jual properti di kemudian hari, membuat kredit pada sektor ini meningkat pada waktu itu. 

Kondisi di atas mendorong kenaikan harga properti yang tidak wajar. Bahkan bisa jadi harga aset tidak mempresentasikan harga fundamental yang mencangkup harga tanah, ongkos pembangunan, dan margin keuntungan pengembang. Jika hal ini dibiarkan terus terjadi, mengakibatkan nilai anggunan untuk kredit pemilikan properti menjadi jauh dibawah nilai pinjaman. Diperparah dengan kondisi perekonomian menurun dan kepastian pendapatan tidak menentu. Hal ini mengakibatkan kemampuan masyarakat untuk mengembalikan kredit menjadi tersendat sehingga kinerja kredit memburuk. Sedangkan nilai anggunan jaminan tidak bisa menutupi tanggungan kreditnya.

Dedi baru-baru ini mengalami kredit macet atas KPR yang diajukannya dua bulan setelah menikah. Pikirnya, dia akan terus bekerja di Jakarta sehingga anak dan isterinya diboyong dari kampung. Dedi membeli rumah secara KPR di daerah Depok. Dia yakin bisa melunasi tepat waktu seiring karirnya terus menanjak. Tidak disengka, perusahaan tempat Dedi bekerja tidak bisa melanjutkan operasionalnya karena diakuisisi perusahaan lain. Pegawai yang bidang keilmuannya tidak dibutuhkan, terpaksa di PHK dengan alasan efisiensi. Termasuk Dedi.

Suatu keputusan perusahaan yang tidak terbaca oleh Dedi sebelumnya. Untung saja Dedi dan isterinya memiliki literasi financial yang cukup bagus. Sebelum di PHK, Dedi dan isterinya sudah memperiapkan dana darurat, dana pendidikan dan asuransi. Setelah di PHK, Dedi langsung mengambil keputusan untuk kembali ke kampung dan mulai usaha baru dengan modal yang didapat dari pesangon. Sedangkan kebutuhan sehari-hari masih cukup menggunakan dana darurat sembari perekonomian keluarganya membaik.

Bagaimana dengan kreditnya yang mancet? Dedi memutuskan anggunan jaminan diberikan pada bank untuk dilelang. Apakah semudah itu bank mendapatkan keuntungan? Seperti yang saya jelaskan di atas. Bisa jadi, nilai jual anggunan tersebut menurun. Satu Dedi mungkin pengaruhnya tidak siknifikan. Tapi banyak Dedi, tentu sangat berpengaruh pada "Stabilitas Sistem Keuangan" . Logika sederhananya semakin banyak kredit properti yang beredar, tentu semakin besar resiko sistemik yang bisa terjadi. Resiko sistemik inilah yang menjadi ancaman bagi "Stabilistas Sistem Keuangan"


 Bagaimana Idealnya "Stabilitas Sistem Keuangan" Itu?

Siapa yang bisa menjamin kehidupan kita selalu stabil kedepannya? Tidak terbayang juga dalam benak Dedi karirnya berakhir karena PHK. Kondisi keuangan yang tidak menentu dan susah diprediksi inilah yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi "Stabilitas Sistem Keuangan". Apa sebenarnya yang dimaksud stabilitas system keuangan itu? Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 16/11/PBI/2014 tanggal 1 Juli 2014 tentang Pengaturan dan Pengawasan Makroprudensial memberikan arahan bahwa Stabilitas Sistem Keuangan merupakan suatu kondisi yang memungkinkan sistem keuangan nasional berfungsi secara efektif dan efisien, serta mampu bertahan terhadap kerentanan internal dan eksternal sehingga alokasi sumber pendanaan atau pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas perekonomian nasional. Sedangkan sistem keuangan merupakan suatu sistem yang terdiri atas Lembaga keuangan, pasar keuangan, infrastruktur keuangan, serta perusahaan non keuangan dan rumah tangga yang saling berinteraksi dalam pendanaan dan atau penyediaan pembiayaan perekonomian. Jadi, bisa disimpulkan bahwa tidak hanya Lembaga keuangan saja yang bertanggung jawab untuk menjaga Stabilitas Sistem Keuangan. Keluarga kecil seperti rumah tangga Dedi juga bertanggung jawab atas hal itu.

Kisah Dedi hanyalah sekelumit dari bagian sistem keuangan. Secara global, hal-hal yang mempengaruhi stabilitas sistem keuangan yang pernah terjadi antara lain sentiment negatif perang dagang, kuatnya indikasi perlambatan ekonomi global, serta berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter AS mengurangi risk appeatite investor global terhadap aset keuangan-keuangan negara emerging market, termasuk Indonesia. Stabilitas Sistem Keuangan hadir, untuk memberikan control secara preventif maupun represif dalam menghadapi guncangan ekonomi yang tidak pasti. 


Keputusan Dedi Bagian dari Resiko Sistemik

Sumber risiko sistemik tidak harus berasal dari institusi keuangan. Bisa berasal dari elemen sistem keuangan lain seperti kegagalan korporasi atau permasalahan di sistem pembayaran, bahkan bisa jadi di luar sistem keuangan. Ketika satu elemen berinteraksi dengan elemen lainnya, tentu akan saling mempengaruhi dan mampu memberikan dampak pada Stabilitas Sistem Keuangan. Bisa dikatakan, cangkupan resiko sistemik ini dampaknya sangat luas. Tidak hanya pada stabilitas keuangan saja tapi juga berdampak pada sistem ekonomi. 

Dedi dan keluarganya sebagai bagian dari elemen rumah tangga memutuskan untuk mengambil KPR. Keputusan perusahaan yang melakukan PHK terhadapnya, berpengaruh pada stabilitas keuangan Dedi yang juga berpengaruh pada Bank tempat Dedi mengambil KPR. Bayangkan jika ada jutaan Dedi. Jutaan perusahaan yang terkuncang. Ratusan Bank yang uangnya dipinjamkan dengan spekulasi ketidakpastian uang kembali. Jika jumlah kredit macet meningkat, tentu berpengaruh pada kepercayaan individu menyimpan uangnya di Bank. Jika ini dibiarkan, guncangan ekonomi siap bergemuruh kapanpun. 

Indonesia, telah belajar dari kondisi ekonomi yang tidak pasti pada krisis 1998. Pada waktu itu, rupiah terjun bebas menjadi Rp 17.000 per USD. Masyarakat kehilangan kepercayaan dan menarik uang tabungannya di bank secara besar-besaran. Kondisi ekonomi tidak menentu. Harga bahan pokok naik. Namun, ada baiknya. Indonesia belajar dari kegalaln ekonomi tahun itu. Sehingga, ketika AS diguncang masalah perekonomian yang berdampak pada ekonomi global. Indonesia sudah punya pengalaman untuk membentengi diri setelah dihempas badai di tahun 1998. Bank Indonesia, dengan bangga menyajikan solusi dari masalah sistemik tersebut dengan Kebijakan Makroprudensial.


Kebijakan Makroprudensial Solusi Meminimalisir Resiko Sistemik 

Istilah makroprudensial sebenarnya sudah beredar sejak 1979. Namun, kebijakan makroprudensial baru populer pasca krissis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008. Sebelum itu, ternyata Indonesia telah menggunakan kebijakan makroprudensial. Tepatnya pada tahun 2000, pasca krisis di tahun 1998. Pada waktu itu, Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan negara melalui pendekatan mikroprudential dan macroprudential. Namun sejak disahkannya UU No, 21 Tahun 2011 tanggal 22 November 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia fokus mengatur kebijakan makroprudensial. Sedangkan kebijakan mikroprudensial dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Kebijakan makroprudensial mencangkup sistem keuangan secara keseluruhan tidak hanya Lembaga keuangan saja seperti cangkupan kebijakan mikroprudensial. Pasar keuangan, koperasi, rumah tangga, infrastruktur keuangan masuk ke dalam cangkupan kebijakan makroprudensial dengan tujuan akhir meminimalkan terjadinya risiko sistemik yang dapat dilihat dari peningkatan jumlah gangguan pada sistem pembayaran, aliran kredit, dan penurunan nilai asset. Dari skema yang saya sajikan di bawah ini, bias disimak posisi rumah tangga seperti keluarga Dedi ternyata juga memiliki peran dalam mewujudkan "Stabilitas Sistem Keuangan."


cakupan-sistem-keuangan-5d1222ad0d82304e9913d782.jpg
cakupan-sistem-keuangan-5d1222ad0d82304e9913d782.jpg

Bank Indonesia, dalam melaksanakan strategi operasional kebijakan makroprudensial fokus pada empat elemen utama yakni, identifikasi sumber risiko sistemik, pengawasan makroprudensial melalui monitoring dan analisis terhadap risiko yang telah teridentifikasi sebelumnya serta pemberian sinyal risiko, respon kebijakan melalui desain dan implementasi instrument kebijakan makroprudensial, dan protocol manajemen krisis (PMK).


Membuka Usaha Baru di Kampung Halaman, Solusi Cerdas Keluarga Dedi

Kena PHK? Kecewa pasti iya. Apakah kecewa berkepanjangan bisa dijadikan solusi? Tentu tidak. Keluarga Dedi segera bangkit dari keterpurukan. Sawah Bapaknya di kampung, dia sulap menjadi obyek wisa berbasis edukasi. Jika rencana Dedi tersebut berjalan lancar, tentu tidak hanya keluarganya saja yang diuntungkan. Stabilitas Sistem Keuangan di daerah juga turut kecipratan berkat peran Dedi. Setiap dari kita hampir pernah terkena guncangan financial. Selanjutnya, bagaimana cara kita menyikapi guncangan itu. 

Bank Indonesia dan Lembaga Keuangan lain seperti kementrian keuangan dan OJK telah bekerja keras bangkit dari keterpurukan ekonomi 1998. Kita perlu memberikan apresiasi kepada Bank Indonesia. Kemampuan menjaga Stabilitas Sistem keuangan telah diakui secara internasional dengan diperolehnya penghargaan The Best Systemic and Prudential Regulator pada acara The Asian Banker Annual Leadrship Achievement Award yang diselenggarakan pada 25 April 2012 di Bankok. 

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan Stabilitas Keuangan Indonesia tetap terjaga ruang peningkatan pertumbuhan kredit masih terbuka berkat kebijakan makroprudensial yang digagasnya. Tetapi sebagai warga biasa kita selalu siap siaga jika sewaktu-waktu goncangan ekonomi melanda. Tidak ada salahnya, mulai menerapkan prinsip ekonomi sehat demi Stabilitas Sistem Keuangan Negara yang baik tetap terjaga. 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x