Jihan Fauziah
Jihan Fauziah Advokat / Author Wanna Be

Ibu satu anak, Pengacara di Kota Madiun, masih belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Nulis, Siapa yang Mau Baca?

9 November 2018   22:58 Diperbarui: 9 November 2018   23:17 54 2 0

Selamat datang di era visual. Era dimana gambar menjadi peraga utama melebihi tulisan. Apalagi gambar bergerak atau vidio. Ya, belakangan ini banyak orang mulai beralih ke media vidio seperti Youtube. Contoh saja Raditya Dika yang mengawali karirnya menjadi blogger sampai akhirnya menerbitkan buku. Sekarang dia lebih banyak berkutat di dunia vlog dan juga film. Industri media mulai banyak yang guklung tikar. Profesi wartawan mulai dipertanyakan. Ada apakah dengan selera orang di jaman sekarang?

Itulah yang membuat saya sejenak berhenti dari menulis. Hampir satu tahun ini saya tidak menulis. Apa lagi suami saya bukan pembaca bahkan bukan penulis. Suami saya seorang Vidio-editor di salah satu TV lokal swasta. Semakin ciut diri saya untuk menulis. Siapa yang mau baca? Apakah kita akan terus mengikuti idealisme sedangkan zaman bergerak untuk berubah? Tumbuh dan terus tumbuh? 

Pernahkah kalian mengamati berapa kali tulisan yang paling direkomendasikan atau paling populer di suatu blog atau media online dibaca? Bagaimana jika dibandingkan berapa kali vidio yang paling populer dan direkomendasikan di youtube di tonton? Saya sudah melakukan riset kecil-kecilan. Tapi saya membiarkan anda untuk melakukan riset sendiri. Setelah mengerti, apakah anda masih akan tetap menulis lagi?

Saya menyukai dunia literasi dan soal tulis menulis sebenarnya sejak SD. SMP saya mencoba mengembangkan minat. Hingga SMA saya ditunjuk menjadi tim sekolah yang mengisi rubrik tentang sekolah di salah satu media lokal cetak. Sampai akhirnya saya kuliah di tahun 2011, di Surabaya saya juga mendapatkan wadah menulis yang menghasilkan uang. Lumayan buat tambah uang jajan. 

Begitupun ketika tau tulisan saya ternyata layak di baca di media publik. Terlebih, setelah lulus kuliah di tahun 2015, saya bekerja sebagai kontributor Surabaya Majalah Tempo. Senang sekali rasanya. Berada dalam lingkaran dunia jurnalis yang melibatkan literasi. Sampai saya tidak terlalu peduli ada vlogger-vlogger muncul seperti Bayu Skak, yang berkreasi dengan ciri khasnya hingga bisa mendompleng uang dari sana. Dan setelah itu, munculah vlogger-vlogger lain dan sekarapun semakin menjamur di berbagai kalangan baik muda maupun tua.

Meskipun begitu, sebenarnya saya masih percaya suatu hari budaya membaca dan menulis akan trus hidup bahkan terus mengalami perkembangan. Vidio hanyalah cara menyampaikan informasi. Tapi, biarkan tulisan menyampaikan rasa untuk diresap dalam hati. Pada dasarnya, tergantung passion kita dimana. Mau di tulisan atau di vidio keduanya sama. Sama-sama memberikan informasi dan argumentasi. hanya saja pengemasannya berbeda

Jadi setelah ini, masihkah mau menulis?

Tapi kembali lagi, sebenarnya kita passion dimana? jangan sampai kita melakukan sesuatu karena ikut-ikutan atau karena gengsi semata

Akhir-akhir ini juga dunia beauty-vlogger