Karir Pilihan

Pasrah Bukan Berarti Menyerah

9 Agustus 2018   14:58 Diperbarui: 9 Agustus 2018   18:46 488 1 0
Pasrah Bukan Berarti Menyerah
(dok. pribadi)

Ketika masih menjadi mahasiswa, emosi saya meledak-ledak dan tidak teratur. Sekali waktu saya merasa benar, saya akan mempertahankan kebenaran itu meski dengan bernada tinggi. Walau kenyataannya, bukankah kebenaran bisa disampaikan dengan cara yang asyik? Tidak usah marah-marah?

Entah pengaruh dari lingkungan atau orang terdekat, saya sulit menurunkan ego saya. Emosi saya masih meledak-ledak tiap kali melihat hal yang tidak saya setujui atau melihat suatu kebohongan di depan mata saya. Tanpa menelisik lebih dalam kebenaran yang terkandung dari hal-hal tersebut. Saya selalu mengambil kesimpulan dari permukaan yang terlihat, padahal itu salah.

Hingga suatu hari saya kehilangan orang yang sangat saya cintai, cinta pertama saya, ayah saya. Beliau meninggal saat saya sedang berada di tengah perjalanan menyelesaikan kuliah saya. Mendadak saya menjadi pribadi yang berbeda. Saya merasa jatuh sejatuhnya. Orang-orang yang pernah dekat dengan saya perlahan menjauh.

Mungkin bukan salah mereka, tetapi saya sendiri yang mengambil jarak dengan mereka. Tidak hanya itu, patah hati pun saya alami tidak lama setelah ayah saya meninggal. Di masa-masa itu saya bisa melihat siapa orang-orang yang benar-benar ada di sisi saya.

Karena itu pula saya mengambil kesimpulan bahwa saya tidak membutuhkan banyak teman tetapi hati saya tidak bisa terbuka dengan baik bersama mereka. Saya butuh 1-2 sahabat, tempat saya bisa mencurahkan segala pikiran dan isi hati saya tanpa ditinggalkan.

Setelah semua terlewati, dengan ilmu pemeranan yang saya dapatkan semasa kuliah, saya mencoba terlihat baik-baik saja dari luar. Saya lulus kuliah dan mencoba menjadi perempuan yang kuat. Semata-mata agar tidak banyak membuat orang lain khawatir, meski sejujurnya hati saya masih sangat rapuh.

Tapi sungguh, Tuhan tidak mungkin memberi kesusahan tanpa adanya jalan keluar dan sebuah pelajaran yang bisa kita ambil.

Saya diterima bekerja sebagai seorang guru, berkat doa ibu, padahal saya tidak pernah terpikirkan menjadi seorang guru. Tapi melalui profesi inilah beberapa sifat buruk saya berubah menjadi lebih baik.

Sebagai guru tentunya saya tidak hanya membagi pelajaran yang saya pahami, melainkan saya banyak belajar dari murid-murid saya sendiri. Bagaimana saya mengelola amarah saya ketika menghadapi sikap murid yang moody, banyak mencari perhatian, dan pikirannya sedang memikirkan hal lain di kelas.

Saya mencoba lebih santai saat beinteraksi dengan mereka dan tidak meledak-ledak seperti dulu. Beruntung saya pernah belajar ilmu pemeranan, bagaimana saya mengelola emosi saat berada di atas panggung. Ya, kelas ini adalah panggung saya dan saya sedang berperan menjadi guru.

Saya adalah seorang guru di sebuah bimbingan belajar. Saya paham bagaimana lelahnya belajar full-day di sekolah ditambah belajar di bimbingan belajar. Ada fase ketika mereka merasa sangat lelah dan "bertingkah" di hadapan guru.

Ketika perilaku mereka mulai memicu perasaan emosi saya, yang saya lakukan adalah duduk. Pura-pura membaca buku sembari mengatur nafas saya. Kemudian saya tersenyum, memikirkan hal-hal bahagia ketika bersama mereka. Lalu saya menatap mereka satu per satu dengan pancaran senyuman. 

Mengatasi sikap murid-murid yang sedang bertingkah dengan senyuman dan sedikit candaan. Memang terkesan lembek, tapi itu berjalan dengan baik di kelas saya. Mereka tetap mendengarkan perintah dan penjelasan saya. Hanya saja bila sudah keterlaluan, saya akan menegur mereka secara langsung. Saya belajar, menjadi menyenangkan itu baik tetapi kita harus tahu kapan waktunya untuk bertindak tegas.

Atas semua kesulitan yang saya hadapi selama masa lalu dan masa mengajar, saya mendapati diri saya berubah. Emosi saya tidak lagi meledak-ledak. Saya belajar banyak makna sabar dan ikhlas. Saya juga yakin bahwasanya Tuhan tidak akan menempatkan suatu umat-Nya dalam kondisi yang membuatnya tidak belajar.

Saya merasa hidup kembali dan banyak energi baik yang bisa saya ambil terutama dari lingkungan saya saat ini. Apa yang sudah saya jalani dalam hidup mungkin terlambat untuk berubah menjadi lebih baik di usia saya kini. Tapi belajar bukanlah persoalan keterlambatan dan hidup bukanlah perlombaan.

Saya bersyukur menjadi seorang guru dan banyak belajar karenanya. Saya mulai bisa berdamai dengan masa lalu saya.

Terakhir, menjadi guru juga membuat saya memikirkan kembali arah hidup yang saya inginkan. Orang bilang zona nyaman tidak akan membuatmu sukses. Saya merasa bahwa profesi guru adalah zona nyaman saya. Selagi muda, saya tentu ingin sukses berkarir sesuai dengan passion yang saya miliki, jika Tuhan menghendaki.

Kenyataannya kita tidak hanya memetik pelajaran hidup dalam kesengsaraan. Cobaan hidup juga bisa berupa kenikmatan yang kita dapat. Hal yang harus kita lakukan adalah mengambil energi baik dari segala hal yang terjadi dalam hidup, membuang segala pikiran buruk dan tetap menjalani hidup dengan bahagia dan bertanggung jawab.

Sebab bumi berputar, roda kehidupan terus berjalan. Ada kalanya kita pasrah dalam suatu keadaan. Tetapi pasrah bukan berarti menyerah.