Bisnis

Bayangkan, Seratus Juta Orang Sumbang Seratus Ribu Rupiah

9 Januari 2019   12:28 Diperbarui: 9 Januari 2019   12:35 198 2 0
Bayangkan, Seratus Juta Orang Sumbang Seratus Ribu Rupiah
Dok. Antaranews

Berbicara mengenai kesejahtraan rakyat indonesia tentu tidak lepas dari yang namanya finansial atau keuangan, seseorang bisa dikatakan sejahtra secara finansial apabila memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder secara normal kemudian masih memiliki jumlah tertentu untuk saving atau tabungan.

Jika kita melihat berita di TV atau media online, begitu banyak orang yang teriak-teriak mengatakan kalau pengangguran banyak, lapangan kerja sedikit, kriminalitas meningkat, hingga kelaparan. 

Selain pihak yang mengeluh, ada juga pejabat-pejabat atau politisi-politisi yang teriak-teriak pro rakyat dan pro kesejahtraan rakyat jika mereka terpilih menjadi wakil rakyat atau pejabat, sebagian ada yang percaya dan memilihnya, sebagian lain golput karena mereka beranggapan janji-janji politik lebih banyak ingkarnya daripada realisasinya.

Namun pernahkah kita berfikir kalau selama ini kita terlalu berharap pada orang lain yang terbukti banyak ingkarnya setelah mendapatkan jabatan, padahal kita bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan dari politikus-politikus itu dan tanpa mengharapkan uang dari negara yang bagi orang tamak merupakan ladang korupsi yang menggiurkan.

Yang kita perlukan hanyalah orang-orang yang betul-betul peduli pada sesama tanpa pamrih, saling percaya satu sama lain, dan tentu bukan orang munafik. saya yakin dari 260jt rakyat indonesia paling tidak 100jt orang masih memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, perduli pada sesama, dan ingin membuat negara ini maju dan sejahtra.

Bayangkan saja kalau 100jt orang masing-masing menyumbang Rp 100.000 maka uang yang dikumpulkan mencapai 10 triliun, mungkin ada yang berfikir kalau 100rb itu jumlah yang besar, padahal bagi orang yang bekerja sebagai pegawai baik negri atau swasta jumlah 100rb tidak sampai 10% dari jumlah gajihnya bahkan jumlah itu bisa lebih murah dari beli paket internet mereka atau rokok2 mereka, apalagi kita cuman mengeluarkan uang itu 1 kali seumur hidup untuk membantu orang yang membutuhkan.

Bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat bukanlah semata uang, melainkan pekerjaan yang bisa memberikan mereka penghasilan rutin sehingga mereka bisa hidup dengan tenang tanpa khawatir tidak bisa makan. ketika hidup menjadi tenang maka mereka punya kesempatan untuk mengembangkan pikiran mereka menciptakan terobosan-terobosan dan inovasi untuk membuat indonesia yang lebih baik.

Dengan uang 10 triliun itu, kita mampu menciptakan ribuan jenis usaha yang produktif dan menampung jutaan tenaga kerja. sehingga akan membantu negara mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahtraan sosial.

Indonesia ini kaya, namun rakyatnya manja, ibarat seorang anak kecil yang tinggal dikelilingi cokelat namun dia tidak mau mengambil cokelat itu dengan tangannya sendiri melainkan ingin diambilkan orang lain dan disuapi.

Jika kalian tinggal di kampung tentu tahu bagaimana perekonomian mereka, penghasilan mereka hanya mengandalkan usaha yang terbatas seperti bertani, berkebun, atau beternak. jika kebun mereka gagal panen maka mereka tak punya sumber penghasilan lain. inilah alasan kenapa banyak orang kampung yang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Padahal kalau kita amati, setiap kampung memiliki potensi besar untuk menjadi lumbung penghasilan bagi warganya asal dikelola dengan baik oleh orang yang tepat. mereka perlu arahan, pendidikan, dan dukungan untuk mengeluarkan potensi mereka dan itulah tugas kita mewujudkannya.

Sebetulnya tugas ini berada di tangan pemerintah dan sudah mulai berjalan melalui program desa dan dukungan dana melalui dana desa yang jumlahnya tidak sedikit. namun seperti kalian tahu kalau uang yang berasal negara itu adalah sasaran empuk para manusia rakus, sehingga dalam prakeknya program-program desa tak berjalan sesuai harapan yang penting uang keluar.

Indonesia bukan kekurangan orang pintar namun kekurangan orang baik yang betul-betul peduli tidak munafik, yang tidak terbutakan oleh ketamakan akan kekayaan dan jabatan.

Kita tidak bisa berharap lebih pada negara, kemampuan negara tergantung moralitas pejabat-pejabatnya. namun dengan menyatukan tekad dan cita-cita luhur maka kita bisa mewujudkannya bersama-sama melalui individu-individu unggul baik dari segi intelektual, moral, agama, dan kemanusiaan.

Saya membayangkan setiap kampung di indonesia menjelma menjadi kampung produksi unggulan dengan pembagian seperti berikut:

1. kampung pertanian

2. kampung perkebunan

3. kampung peternakan

4. kampung perikanan

5. kampung pengolahan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2