Jhon Miduk Sitorus
Jhon Miduk Sitorus Mahasiswa

The Caretaker Of Lovely Tobasa & Amborgang. Anak Kampung. Writer. Arsenal Fans. Kutu Buku Pecinta Sejarah. Bercita-cita Ingin Memperbaiki Birokrasi Tobasa Instagram : @jhonmiduk8

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Mengenal Kaum Sumbu Pendek dan Bumi Datar pada Pilgub DKI 2017

1 April 2017   19:30 Diperbarui: 1 April 2017   19:34 10182 16 13
Mengenal Kaum Sumbu Pendek dan Bumi Datar pada Pilgub DKI 2017
Ilustrasi demonstrasi. Sumber : Tempo.com

Pilkada DKI 2017 melahirkan sejumlah fenomena menarik yang patut untuk disimak seperti animo masyarakat yang begitu tinggi, perang di sosial media, media cetak, elektronik, kampanye sana sini, penggiringan opini, hingga adanya perubahan hubungan silaturahmi karena berbeda pilihan.

Masyarakat kemudia terbagi-bagi berdasarkan pilihan masing-masing. Terkini, dalam putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 identik dengan kelompok baju kotak-kota dan kelompok baju putih. Kelompok baju kotak-kotak mempresentasikan pasangan nomor urut dua Basuki Thahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Syaeful Hidayat. Begitu juga dengan kelompok baju putih yang mempresentasikan pasangan jagoan mereka dengan nomor urut 3 mantan menteri pendidikan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Ada perbedaan menarik yang sangat mencolok diantara kedua pasangan calon ini sehingga semakin membuat kesenjangan diantara masing-masing pendukung hingga ke akar-akarnya. Pasangan nomor dua identik dengan pasangan yang mendahulukan nasionalisme, pluralisme, dan kerja nyata yang dibuktikan dengan kinerja masing-masing Ahok dan Djarot selama bekerja sebagai aparatur negara selama ini.

Pasangan nomor urut dua terkesan identik dengan sisi agamisnya meski sebelum pencalonan gubernur kedua pasangan ini jarang mewakili sisi islamis. Anies Baswedan yang sebelumnya terkenal dengan manusia yang pluralis terutama atas prestasinya dan sumbangsihnya dalam dunia pendidikan, kini terlihat begitu anti terhadap perbedaan selain kaummnya. Front Pembela Islam yang selama ini di-antikan oleh dirinya soal pluralisme tak ketinggalan dirangkulnya demi meraih suara umat Islam.

Perbedaan tersebut semakin menarik kala para pendukung semakin meneriakkan program-program unggulan para jagoannya masing-masing. Masing-masing calon gubernur memang menawarkan program unggulan yang bagus tetapi tidak bisa ditampik bahwa pasangan Anies-Sandi yang terkenal dengan program Oke-Oce nya terkesan menjiplak program nomor urut dua yang telah berjalan sukses selama ini. KJS dan KJP milik Ahok-Djarot tinggal diubah nama menjadi KJS plus dan KJP plus.

Kembali kepada para pendukung, yang menjadi nyawa dan nafas masing-masing calon saat bertarung dan memantaskan diri untuk duduk di kursi DKI 1 dan 2 tanggal 19 April  2017 nanti. Ada hal menarik yang menjadi fenomena baru seputar Pilkada DKI 2017 ini.

Muncul sebuah istilah baru yang lebih merujuk kepada pendukung pasangan calon nomor tiga yaitu kaum “bumi datar” atau “sumbu pendek”. Entah dari mana awalnya istilah dan “cap” ini berasal yang pasti popularitas mereka semakin terkenal meski sebenarnya istilah ini merupakan “discredit” kepada mereka-mereka yang dianggap tidak bisa menerima perbedaan, pluralisme, demokrasi yang sehat, dan menempatkan agama pada tempatnya.

Berdasarkan defenisinya, kaum “bumi datar” memiliki kesamaan arti dengan “sumbu pendek”. Jika selama ini orang “yang sudah pernah belajar Ilmu Pengetahuan Alam di SD” tahu bahwa bumi itu “bulat pepat”, tetapi mereka ini tidak mau tahu bahwa bumi itu bukan bulat, atau tidak ada unsur bulatnya. Mayoritas mereka mengatakan jika bumi itu “datar”.  Mereka menganggap hanya dari kaumnyalah yang cocok untuk pantas menjadi pemimpin di suatu daerah dan menganggap kaum yang lain sebagai orang yang tidak pantas menjadi pemimpin didaerahnya. Biasanya orang lain dianggap kafir, musyrik, serupa dengan binatang, tidak pantas menjadi manusia, dan selalu meneriakkan nama agamanya dan Tuhannya tidak pada tempatnya yang pantas sehingga.

Defenitif pemikiran kaum bumi datar terhadap sains dan ilmu pengetahuan selalu dialamatkan kepada “Hanya Allah yang Tahu”, padahal Tuhan bukan tidak menjelaskan segala sesuatu secara nalar dan logika melalui kitab yang diturunkan-Nya kepada umant-Nya sehingga panggilan “sumbu pendek” pun layak disematkan kepada mereka. Kaum bumi datar ini selalu menganggap pemikirannyalah yang paling baik, paling benar, dan sudah pasti di Iyakan oleh Tuhan meski dalam doa-doa yang “jelek” sekalipun seperti sumpah serapah, mendoakan yang tidak-tidak, dan selalu menebar kebencian kepada umat lain. Mereka selalu percaya bahwa Tuhan selalu mengabulkan doanya, mereka selalu berusaha mengambil simpati masyarakat atau orang awam agar mau memberikan sumbangan yang mengatasnamakan ke“sukarela”an.

Kaum “bumi datar” dan “sumbu pendek” merupakan kaum yang paling aktif dalam setiap demonstrasi. Dimana ada demonstrasi, disitu mereka ada. Belum ada penelitian yang pasti mengapa kehadiran mereka selalu ada, apakah karena mereka memang ahli dalam bidang “tuntut menuntut” kepada pemerintah? Atau apakah karena memang benar umat mereka atau sebagian “ulama” selalu di “zolimi” oleh pemerintah? Atau hanya harapan kepada sebungkus nasi bungkus gratis dilapangan?

Kaum yang aneh ini memang selalu terlihat ekstrem dimana-mana sehingga tidak heran jika banyak kaum anak-anak yang dibawah usia terjerumus kedalam pemikiran dan anekdot mereka. Tetapi pertanyaannya, benarkan agama yang diperjuangkan? Benarkan Tuhan Allah yang diperjuangkan sejuang-juangnya dengan cara yang sebaik-baiknya?

Perhatikanlah bahwa setiap parade politik, tak ketinggalan nama-nama mereka selalu ada dan meneriakkan hiruk pikuk yel-yel mereka masing-masing. Tempat ibadah pun menjadi arena untuk berkampanye dan menyuarkaan secara langsung untuk tidak memilih salah satu calon dengan alasan “beda”, “bukan pribumi” dan “kafir”. Padahal, Pilkada adalah arena berdemokrasi, bukan arena beradu argument soal agama siapa yang terbaik. Pilkada adalah soal bagaimana mengadsministrasi keadilan sosial kepada warga sehingga mampu menciptakan keadilan ke berbagai umat.

Parade tersebut lama kelamaan makin terlihat seperti aktivitas kegiatan jual beli barang bekas di Pasar Senen. Semua orang tahu bagaimana murahnya baju, celana, jacket, singlet, hingga pakaian dalam bekas dijual di pasar Senen. Semua orang tahu jika anda membawa uang Rp 100.000,00 ke pasar Senen soren jam 17.00 WIB, maka anda akan pulang dengan pakaian 1 karung goni.

Begitulah agama terlihat, begitu murahan dan tidak bernilai karena diperdagangkan begitu bebas di arena politik. Agama yang seharusnya mengajak kedamaian kepada semua pihak, kini hanya miliki kaum “bumi datar” dan “sumbu pendek”. Bahkan urusan mensholatkan jenazahpun musti ditanya terlebih dahulu “ada pilih siapa? Bukan nomor 2 kan?”.

Teror batin lahir dimana-mana, padahal mereka masih sesama umat yang satu keyakinan. Teror mulut lahir dimana-mana, padahal mereka masih bertetangga, atap dan dinding masih satu atap satu sama lain. Bahkan hubungan silaturahmipun menjadi terputus hanya karena seseorang memilih calon nomor urut dua. Tak jarang ada tetangga yang diam-diaman saat Pilkada saat ini berlangsung, itu hanya karena beda pilihan dukungan.

Kaum “sumbu pendek” dan “bumi datar” selalu berusaha mendapatkan simpati dengan semaksimal mungkin kepada mereka-mereka yang awam, tidak tahu latar belakang masalah, dan iming-iming nasi bungkus dan uang beberapa puluh ribu, yang penting ikut. Mereka selalu terlihat bermuka yang mengharapkan rasa “iba” dan “kasihan” agar orang lain merasa mereka yang benar. Tetapi bagi orang yang mampu berpikir dengan rasional, mereka tidak akan mampu terbawa arus jebakan simpati yang dilahirkan oleh mereka.

Diprediksikan, jika pasangan nomor urut 3 Anies-Sandi kalah nanti di Pilgub DKI nanti, para kaum “bumi datar” dan “sumbu pendek” akan melakukan aksi demonstrasi yang “mungkin” lebih besar dari yang sebelumnya terjadi. Eits, berkaca dari aksi 313, sepertinya sudah banyak kaum mereka yang sudah sadar dan “ogahan” dipengaruhi oleh pikiran “sumbu pendek” dan “bumi datar”. Opsi terakhir, mereka diprediksikan akan membuat “gubernur tandingan” seperti yang telah dilakukan sebelumnya oleh pimpinan junjungan agung mereka meski tidak memilki peran dalam hal apapun terhadap DKI Jakarta. Hanya kebencian dan perang batinlah yang mereka bisa lakukan.

Kaum mereka hanyalah sedikit atau pewarna dalam dunia demokrasi agar terlihat bagaimana nasib orang-orang yang tidak memiliki moral yang tinggi, integritas terhadap masyarakat, intoleransi, dan pikiran sempit. Ketiadaan mereka jelas akan mengakibatkan kebosanan dalam dunia politik di DKI Jakarta dan tanah air Indonesia. Setidaknya dengan adanya mereka, kita tahu rasanya bagaimana orang-orang yang bepikiran seperti anak-anak dan tidak lulus SD. Saya pikir, anak SD dikampung saya lebih mengerti soal pluralisme, menghargai sesama, dan mengedepankan aspek prestasi individu dan track record dibanding kepentingan kelompok untuk menjadi seornag pemimpin.