Mohon tunggu...
Jhon Miduk Sitorus
Jhon Miduk Sitorus Mohon Tunggu... Ekonomi, Politik dan Sepakbola

Instagram @Jhonmiduk8

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Momen Kelam Tragedi 6-1 di Old Trafford, Masihkah Ada Harapan Juara?

5 Oktober 2020   02:22 Diperbarui: 5 Oktober 2020   02:46 92 11 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Momen Kelam Tragedi 6-1 di Old Trafford, Masihkah Ada Harapan Juara?
Pemain Spurs merayakan gol setelah berhasil membobol gawang David de Gea pada lanjutan Liga Inggris 4 Oktober 2020 di Old Trafford. MU dicukur habis 6-1 oleh spurs. sumber : twitter @Sport360Arabiya

Manchester United (MU) bak dijadikan bulan-bulanan oleh pemain Tottenham Hotspurs (Spurs) pada pertandingan Liga Inggris 4 Oktober 2020 di rumah MU sendiri, Old Trafford. Bagaimana tidak, hasil memilukan dipanen dirumah sendiri usai diporak-porandakan Spurs dengan skor sangat mencolok, 6-1.

Tak ada gairah bermain, tak ada perubahan strategi sepanjang permainan. Yang berubah hanyalah angka dipapan skor sambil mengharapkan pertandingan cepat usai.

MU sebenarnya langsung unggul terlebih dahulu setelah Bruno Fernandes sukses menjebloskan sikult bundar ke gawang Hugo Loris pada menit ke-2. Tetapi segalanya berubah sejak menit ke-4, musibah dimulai. Kala itu Taguy Nbombele sukses membalas ketertingalan dengan mengoyak jala David de Gea pada menit ke-4 disusul gol Heung Min Son pada menit pada menit ke-7. Semuanya berlangsung begitu cepat tanpa ada yang menduga bahwa MU akan tertinggal secepat itu.

Musibah makin berat pada menit ke-28 kala Antony Martial kedapatan sang pengadil lapangan mencekik leher gelandang Spurs, Erick Lamela. Tanpa ampun, Wasit langsung menghadiahkan kartu merah kepada Martial. Tak lama kemudian Spurs langsung memanfaatkan keunggulan pemain pada menit ke-30 sukses membobol gawang MU lewat gol Harry Kane dengan memanfaatkan umpan matang Heung-Min Son. Skor kemudian semakin menjaul saat Heung-Min Son mencetak brace pada menit ke-37 dengan memanfaatkan umpan dari Sergie Aurier. Hingga turun minum, MU sudah ketingalan 4-1.

Pada babak kedua, Spurs memaksimalkan keunggulan jumlah pemain dengan membobol MU dua kali pada menit ke-51 oleh Sergie Aurier dan penalty Harry Kane pada menit ke-79. Hingga peluit panjang dibunyikan, MU tak mampu berbuat apa-apa selain meladeni permainan Harry Kane dan kawan-kawan.

Tragedi pembantaian di Old Trafford ini membuat MU untuk sementara mengendap di peringkat ke-16 klasemen sementara Liga Inggris hasil dari 3 kali pertandingan dengan 1 kemenangan dan 2 kekalahan. Sedangkan Spurs berada di peringkat ke-6 dengan perolehan 7 poin hasil dari 2 kemenangan 1 seri dan 1 kalah.

Dominasi Spurs memang harus diakui jauh lebih berkualitas pada pertandingan kali ini. Bayangkan, tim tamu bahkan menguasai permainan hingga 62% dengan total 22 tembakan. Bandingkan dengan MU yang hanya menghasilkan 5 tembakan dimana hanya 2 diantaranya shot on target. Dari total 22 shoot Spurs, 8 diantaranya shot on target.

Meski persentase tembakan tepat sasaran Spurs rendah, tetapi ada hal yang patut menjadi perhatian yaitu tembakan dari dalam kotak penalti. 16 dari 22 tembakan Spurs berasal dari dalam kotak penalti MU, ini artinya pertahanan MU begitu rapuh sehingga tidak mampu mengawal pergerakan pemain MU hingga bebas merangsek ke area mulut gawang David de Gea. Skema permainan MU memang benar-benar tidak memiliki pola yang rapi sehingga terkesan kelabakan begitu bola dipegang oleh pemain Spurs.

Hasil ini kembali mengingatkan kita kepada memori kelam dimana MU juga pernah dibantai dengan 6 gol oleh tim lawannya di Old Trafford. Tahun 1996, Southampton sukses menggilas MU dengan skor 6-3 dan tahun 2011 MU kembali di pecundangi oleh tim sekota Manchester City dengan skor 6-1. Kala itu, selebrasi ala Mario Balotelli dengan kaos bertuliskan "Why Always Me" mungkin menjadi salah satu memori yang paling diingat baik oleh fans setan merah, Manchester City maupun para pecinta sepakbola.

Momen kelam ini menjadi start yang sangat buruk bagi tim sekelas MU yang dihuni oleh pemain-pemain kelas dunia macam Paul Pogba, de Gea, Bruno Fernandes, Marcus Rashford, Antony Martial, Harry Maguire hingga sang wonderkid Greenwood. 2 kekalahan dari 3 pertandingan awal merupakan sebuah kesalahan yang terlalu dini dan kehilangan poin yang banyak menyebabkan akan sangat sulit mengejar tim yang lain. MU bahkan sudah terpaut 9 poin dari peringkat 1 klasemen sementara, Everton.

Persaingan menuju papan atas diprediksi akan semakin sulit karena beberapa pertandingan kedepan sangat menguras kosentrasi MU. Setelah berhadapan dengan Newcastle di pecan ke-5 Liga Premier Inggris, MU sudah harus bersiap-siap menghadapi tim raksasa asal Prancis, Paris Saint German di Liga Champions Eropa. Chelsea kemudian sudah bersiap-siap untuk menunggu di ajang Liga Inggris, kemudian kembali lagi di Liga Champions Eropa menghadapi tim kuda hitam asal Jerman, Lepizig. MU kemudian sudah harus menyiapkan amunisi lagi untuk bersua Arsenal, tim yang belakangan ini semakin terlihat konsisten dibawah kepemimpinan Mikel Arteta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x