Mohon tunggu...
Jhodie Febrinan
Jhodie Febrinan Mohon Tunggu... Mahasiswa

Psikologi Politik Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang

Selanjutnya

Tutup

Media

Media dalam Kasus Wamena

23 Oktober 2019   14:33 Diperbarui: 23 Oktober 2019   14:43 0 0 0 Mohon Tunggu...

Aksi anarkis yang terjadi di Wamena menyebabkan Wamena seakan-akan kota yang menyeramkan. Data kepolisian menyebut, angkanya mencapai 4.000an orang yang meninggalkan Wamena. Diketahui, kerusuhan di Wamena berawal dari aksi unjuk rasa siswa di Kota Wamena. Bermula ulah demonstran yang bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat.

Sebagai kepala negara, Presiden Joko Widodo mengimbau semua pihak untuk tidak memprovokasi peristiwa kerusuhan di Wamena sampai menjadi konflik etnis. Saat konferensi pers di Istana Kepresidenan Bogor, Jokowi mengatakan nyatanya peristiwa Wamena bukanlah konflik etnis melainkan ulah dari kelompok bersenjata yang melakukan berbagai kerusakan dan pembakaran.

Ia juga mengatakan bahwa aparat keamanan telah bekerja keras melindungi semua warga. Presiden Jokowi juga meminta warga di Wamena tetap tenang dan tak meminta dievakuasi ke Jayapura. Menurutnya suasana sudah tenang, tak ada konflik horizontal. Jokowi juga meminta agar semua masalah ditangani tanpa emosi serta tindakan yang represif. Media sangatlah berperan dalam pembentukan opini di masyarakat, terlebih jika ada fenomena besar yang terjadi.

Media bisa menutupi, menambahkan, mengurangi, dan mempoles informasi sebelum disampaikan kepada maskyarakat. Framming atau pembentukan media dapat dikontrol, secara baik dan juga bisa secara buruk. Secara baik ketika media bersikap independen dan tidak berafiliasi dengan pihak manapun, sehingga mereka netral dan tidak bias dalam menyampaikan informasi. Berbanding terbalik kondisinya, ketika media berkoalisi dengan salah satu pihak, yang artinya media bersikap sebagai partisan yang otomatis akan memiliki kecenderungan terhadap satu sisi.

Psikologi politik juga mengkaji tentang bagaimana pers mennyajikan informasi, intinya pers mungkin seringkali tidak berhasil mengatakan pada orang orang apa yang perlu dipikirkan, namun pers harus berhasil memukau dalam mengatakan kepada para pembacanya tentang apa yang perlu dipikirkan. Adanya kekuatan untuk membentuk informasi yang akan diterima masyarakat menegaskan bahwa media memainkan suatu peran penting dalam proses penyiapan berita, karena media menentukan isu isu mana yang hadir pada bagian terdepan.

Teori Spin (Pandangan) media mengatakan bahwa kebanyakan isu politik memiliki beberapa elemen, namun suatu media mungkin berfokus hanya pada satu atau dua elemen saja. Elemen-elemen kemudian menerima atensi, dan perdepatan yang dihasilkan menyangkut moral dan atau implikasi kebijakan berputar disekitar elemen-elemen tersebut, ketimbang elemen lainnya.

Headline berita yang berkaitan dengan peran Kepala Negara yang banyak saat kasus kerusuhan Wamena terjadi berbau kalimat-kalimat yang menenangkan. Media seakan-akan hanya mengambil dari sudut pandang pemerintah saja demi menciptakan suasana yang tentram. Padahal pasti sangat banyak sudut pandang lain yang akan lebih baik jika diangkat, misalnya dari warga asli Wamena, para ilmuan disana, dan pihak pihak lainnya.

Banyaknya sudut pandang yang diangkat secara tidak langsung akan mengedukasi masyarakat, karna masyarakat akan dituntut untuk berfikir secara rasional dan mendalam untuk mencari titik terang permasalahan. Berbeda kondisinya jika hanya satu sudut pandang yang diutamakan, masyarakat akan secara buta dan mentah-mentah menerima informasi tersebut karna tidak ada alternatif lain untuk membandingkan berita satu dan berita lainnya.

Media memiliki peran besar ketika ada kasus besar yang terjadi, sehingga harusnya media berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan informasi yang jelas dan terpercaya tanpa membaikkan atau memburukkan pihak manapun.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x