Mohon tunggu...
YEREMIAS JENA
YEREMIAS JENA Mohon Tunggu... ut est scribere

Akademisi dan penulis. Dosen purna waktu di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Bom dia, boa tarde, ate amanha": Sapaan Ramah Penuh Makna Orang Portugis

11 Juli 2019   20:22 Diperbarui: 11 Juli 2019   20:30 0 2 0 Mohon Tunggu...
"Bom dia, boa tarde, ate amanha": Sapaan Ramah Penuh Makna Orang Portugis
Sekelompok pemusik jalanan sedang mengamen di sebuah pusat wisata di Lisbon. Foto: Yeremias Jena


Pertama kali dapat berita paper (abstrak) saya diterima dan saya diberi kesempatan presentasi dalam konferensi internasional tentang film dan filsafat di Lisbon, saya menyambutnya dengan sukacita. Kegembiraan saya semakin membuncah ketika kampus tempat saya bekerja, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, membiayai seluruh perjalanan dan penginapan selama kegiatan ini. Sebenarnya bukan karena bisa bepergian ke Eropa, karena saya toh lulusan Eropa juga. Portugis menyimpan kenangan tersendiri. Seusai SMA, saya bergabung dengan sebuah Serikat Religius di Timor Leste, tinggal di sebuah komunitas para imam yang kepala rumahnya orang Portugal. Juga karena relasi yang hangat dengan beberapa misionaris asal Portugal di Timor Leste, saya diam-diam menyukai watak orang Portugal. Alasan lain yang lebih personal lagi, sebagai seorang Katolik dari Flores, Portugis sudah kami pandang sebagai "pembawa agama Nasrani" ke pulau bunga itu.

Memburu pesawat murah dan booking hotel menjadi syarat mengajuan visa ke kedutaan Portugal. Beberapa pilihan tersedia, tetapi bujet 20 juta maksimum pergi-pulang untuk biaya pesawat "memaksa" saya untuk menumpang Emirates. Padahal saya sebenarnya kebelet naik Turkey Airline yang konon -- menurut komentar-komentar dari sumber onlilne -- memiliki pelayanan yang sangat bagus. Karena menumpang Emirates, penerbangan harus transit di Dubai. Demikianlah, Minggu dini hari, 12.50 wib, tanggal 7 Juli 2019, ketika warga Jakarta masih terlelap, pesawat Emirates menerbangkan kami ke Dubai. Tujuh jam kemudian kami sudah menjejakkan kaki di Bandara Internasional Dubai. Udara terasa sangat terik, kering dan menyengat. Istirahat sekitar 2 jam, pesawat Emirates tipe lebih kecil membawa kami dalam perjalanan 7 jam lagi menuju Lisbon.

Terjun Saja

Karena kegiatan akademik ini hanya kurang lebih 10 hari, tidak ada persiapan khusus yang harus saya lakukan, misalnya mencaritahu dan membaca informasi mengenai orang Portugis. Hal ini tentu berbeda ketika saya studi tingkat master di Belgium dulu, di mana saya mempelajari secara cukup baik keadaan sosiologis Belgium, watak atau sifat-sifat dasar orang Belgium dan sebagainya. Jadi kali ini prinsipnya masuk atau terjun dan alami saja.

Ketika di Bandara Dubai, saya terkesan dengan sifat seorang ibu setengah baya yang sama-sama menunggu di depan ruang check-in ke Lisbon. Ibu itu, Maria katanya (ya, Maria di Portugal itu nama pasaran, sama seperti nama Marta, Anna, dan lainnya). Dalam bahasa inggris yang cukup fasih, ibu itu mengaku dia baru pulang dari Makau. Yang berkesan bagi saya adalah sifatnya yang sangat ramah, hangat, dan mau menjawab beberapa pertanyaan saya. Maria tidak merasa sedang terganggu privasinya dan tidak mengekspresikan ketidaksukaan. Watak semacam ini langsung mengingatkan saya pada sifat beberapa pastor asal Portugis yang saya alami di Timor Leste dulu. Mungkin saja seperti itu sifat kebanyakan orang Portugal. 

Roda pesawat Emirates yang kami tumpangi menyentuh bandara udara internasional Lisbon sekitar pukul 13.40 waktu portugas atau 19.40 wib. Sebuah taksi dari mobil Volkswagen segera membawa saya ke tempat saya menginap, sebuah dormitori mahasiswa yang sekarang disewakan ke publik karena mahasiswa di kota Lisbon memang sedang libur musim panas. Seperti sudah saya rencanakan, saya hanya istirahat kurang lebih dua jam, lalu langsung menjajal kota Lisbon. Sebagai catatan, selama musim panas ini matahari masih menampakkan diri sampai jam 21.00 pm alias jam 9 malam, jadi jalan-jalan sampai malam tidak perlu takut tersesat.

Kemana lagi kalau bukan ke pusat kota? Ya, sebagaimana umumnya kota-kota di Eropa, berbagai kegiatan berlangsung di pusat kota. Warga kota bergerak ke pusat kota. Di sana ada pasar, ada gereja, ada kantor pemerintahan, dan ada alun-alun, sebuah ruang publik tempat warga kota berinteraksi, menikmati pertunjukkan musik, dan teater. Tentu saja kedai kopi menyebar padat di seantero sudut kota.

Kata kunci saya adalah terjun saja, alami sendiri. Ini juga menjadi cara untuk mengalami sifat orang Portugis. Beberapa sifat dasar orang Portugis tampak eksplisit dalam interaksi kita dengan mereka, baik di jalan, di kedai kopi, di resoran, di tempat ibadah, ataupun di pasar. Cek saja, ketika Anda merasa tersesat atau kesulitan membaca suatu titik melalui peta lokasi google, misalnya, orang Portugal dengan senang hati membantu. Mereka akan menunjukkan secara detail lokasi atau titik yang Anda tuju, harus berjalan ke arah mana, di belokan ke kiri atau ke kanan anda akan melihat apa, dan sebagainya. Dengan kata lain, petunjuk yang mereka berikan itu sangat rinci. 

Itulah keramah-tamahan orang Portugal. Mereka tidak merasa terganggu kalau ditanya. Mereka juga tidak menunjukkan sikap terburu-buru ketika perjalanannya harus kita hentikan karena kita mau bertanya. Yang terpenting -- dan ini kudu diingat -- jangan langsung ajukan pertanyaan. Mulailah menyapa mereka terlebih dahulu. Misalnya, "bom dia, senhor" (selamat pagi, pak), "bom dia senhora" (selamat pagi, bu), "boa tarde, senhor" (sore), "boa tarde, senhora" (sore), dan seterusnya. Setelah itu kita tidak boleh langsung bertanya. Seperti di Indonesia, kita harus mengatakan, "Maaf, saya sedang mencari titik ini, jalan ini, Gedung ini, apakah bisa membantu? Kalau pun Anda menggunakan bahasa inggris, mulailah dengan ungkapan dalam bahasa Portugis untuk menunjukkan keramahan dan kedekatan, dengan mengatakan, "por favor" yang artinya kira-kira "maaf mengganggu" atau dalam bahasa inggris, "May I have your favour, please". Setelah itu baru kita bertanya.

Saling Menyapa

Sifat orang Portugis lainnya yang dijumpai di mana pun di negeri itu adalah kebiasaan saling menyapa ketika bertemu. Ketika bertemu di pagi hari, orang menyapa, "Hola, bom dia!" (hi, selamat pagi). Ketika bertemu di sore hari, orang saling menyapa, "Hola, boa tarde!" (hi, selamat sore). Ketika harus berpisah, orang saling menyapa, "ate amanha!" (sampai jumpa besok). Dan itu diungkapan secara hangat, jadi bukan sekadar basa-basi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2