Mohon tunggu...
YEREMIAS JENA
YEREMIAS JENA Mohon Tunggu... ut est scribere

Akademisi dan penulis. Dosen purna waktu di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Sulitnya Mengubah Kebiasaan Buruk Manusia

26 Februari 2018   23:24 Diperbarui: 28 Februari 2018   07:28 3259 5 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sulitnya Mengubah Kebiasaan Buruk Manusia
Ilustrasi. Psychological.co

Tidak semua perilaku dalam keseharian kita lakukan di bawah pengawasan dan rekomendasi kesadaran. Mungkin agak berlebihan, tetapi harus diakui, bahwa sebagian besar tindakan atau perilaku kita terjadi begitu saja karena kebiasaan (habit). Bahwa kemudian ada yang mengatakan bahwa sebagian besar perilaku kita dikendalikan oleh diri-yang-tidak sadar (unconsciousatauid dalam terminologi Sigmund Freud), itu perkara lain. Sebaliknya, hanya sedikit tindakan/perilaku yang dilakukan karena pertimbangan dan keputusan rasional manusia.

Ini kenyataan deskriptif yang belum boleh kita nilai secara moral dalam arti baik atau buruk. Dan ini menguntungkan kita sebagai manusia. Bayangkan saja jika semua tindakan kita harus dipikirkan dan diputuskan terlebih dahulu secara cermat dan rasional. Selain kehilangan dimensi spontan dan originalitasnya, kehidupan itu sendiri menjadi aneh dan kaku.

Demikianlah, cukup banyak dari kita yang begitu bangun pagi langsung "nyari" handphone, langsung baca whats app, langsung mengupdate status di medsos dan sebagainya. Ada juga yang memiliki kebiasaan-kebiasaan lain, entah di rumah, di kantor, di perjalanan, atau di tempat kerja yang dilakukan tanpa dipikirkan terlalu serius. Saya sendiri punya kebiasaan harus ke toilet sebelum meninggalkan rumah, kadang-kadang bukan untuk buang air kecil/besar, tetapi rasanya belum "plong" jika belum melakukannya.

Perilaku Buruk Tetap Bisa Diubah

Tetapi lalu apa masalahnya? Para psikolog mengatakan bahwa kebiasaan (habit) justru menimbulkan masalah jika merupakan hal yang buruk dan merugikan kita sendiri. Beberapa contoh yang saya sebut tadi termasuk kebiasaan buruk, dan beberapa lainnya seperti merokok atau mengkonsumsi makanan yang kurang sehat termasuk kebiasaan buruk lainnya.

Teori perilaku mengatakan bahwa suatu tindakan atau perbuatan itu menjadi kebiasaan karena itu dilakukan secara berulang-ulang. Dampak dari tindakan yang berulang-ulang itu membuat tindakan atau perilaku itu menjadi tetap. Disebut kebiasaan (habit) karena sifatnya yang tetap. Jadi, dalam situasi apa pun, orang pasti melakukan hal yang kurang lebih sama. Perilakunya bahkan sudah bisa diprediksikan.

Di situlah letak masalahnya. Perilaku buruk yang telah menjadi kebiasaan, jika tidak disadari, dia akan tetap menjadi perilaku buruk. Jika dibiarkan berlanjut, perilaku semacam ini akan sulit diubah. Para ahli neurosains mengatakan bahwa perilaku yang telah menjadi kebiasaan (termasuk perilaku buruk) akan menciptakan sebuah mekanisme alamiah di dalam otak kita, dan celakanya, otak akan mengubah segala hal yang sifatnya rutin menjadi kebiasaan. Manusia cenderung melakukan itu, karena kebiasaan yang rutin dan menetap itu membuat otak menjadi tidak aktif dalam jangka waktu lama.

Apakah ini salah? Ann Graybiel, peneliti dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) berpendapat bahwa otak manusia juga tidak bisa memberitahu kita manakah kebiasaan-kebiasaan yang baik dan manakah yang buruk.  Konsekuensinya, jika seseorang memiliki kebiasaan buruk, dia akan terus melakukan tindakan itu tanpa perlu memikirkannya secara cermat.

Pendapat Graybiel ini persis berbeda dengan apa yang pernah dikemukakan Warren Buffett. Menurut Buffet, orang muda, terutama para mahasiswa memang memiliki kesempatan yang luas dan terbuka untuk mengembangkan kebiasaan-kebiaaan baik, dan itu lebih baik dilakukan sejak usia muda daripada menunggu sampai usia tua. Meskipun begitu, dia berpendapat bahwa pada dasarnya tidaklah mungkin mengubah perilaku.

 Menurut Ann Graybiel, usia bukanlah faktor utama dalam mengubah perilaku. Graybiel menegaskan, “Saya kira tidak terlalu tua untuk mengubah perilaku menjadi suatu perilaku yang baru. Memang saya tahu bahwa akan menjadi lebih sulit bagi seseorang untuk memiliki perilaku baru ketika dia menjadi lebih tua. Semakin Anda menjadi tua, semakin Anda menjadi lebih sibuk – jika Anda adalah orang yang bekerja dan sekaligus memelihara keluarga – dan karena itu Anda akan kesulitan mencurahkan waktu satu jam setiap hari untuk mengubah diri, misalnya untuk menjadi lebih sopan. Tetapi pada akhirnya semuanya ini berhubungan dengan motivasi dan bagaimana menyiasati berbagai prioritas dalam hidup. Dan motivasi sangat tergantung pada reinforments – entah itu baik entah itu buruk.”

Mengubah kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang baik sebaiknya sering kita lakukan. Sumber: www.irishtimes.com/
Mengubah kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang baik sebaiknya sering kita lakukan. Sumber: www.irishtimes.com/
Itu berita gembira, yakni bahwa setiap kita, berapa pun usianya, pasti bisa mengubah perilaku yang buruk menjadi perilaku yang baik. Bagaimanakah caranya? Sebenarnya mekanisme yang diikuti selalu sama dalam pembentukan suatu tindakan atau perbuatan menjadi suatu kebiasaan. Pertama-tama, pikiran memang dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai tindakan mana yang akan diambil dalam situasi tertentu. Di situ juga motivasi ikut berperan, karena mendorong dan menguatkan kehendak manusia untuk bertindak dalam cara tertentu. Tetapi ketika tindakan itu sudah terjadi secara berulang-ulang, orang akan cenderung bertindak secara rutin dan tetap. Itulah kebiasaan. Dan di situ, pikiran dan pertimbangan rasional umumnya tidak beroperasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x