Mohon tunggu...
JepretPotret
JepretPotret Mohon Tunggu... Freelancer - ........ ........

........

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Wiratno Tersesat di Jalan yang Benar

19 Juni 2017   11:17 Diperbarui: 19 Juni 2017   11:21 3457
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Wiratno, Direktur Jenderal KSDAE Kementerian LHK per 16 Juni 2017 [Foto:JEPRETPOTRET]

Seusai diskusi Green Ramadhan KLHK pada 14 Juni 2017 lalu di Manggala Wanabakti Jakarta, ada seorang petinggi Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) membagikan buku yang terbungkus dalam goodybag eksklusif. Wow judulnya "Tersesat Di Jalan Yang Benar: Seribu Hari Mengelola Leuser". Ternyata beliau adalah Ir. Wiratno MSc, Direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial (PKPS) Ditjen Perhutanan Sosial & Kemitraan Lingkungan (PSKL) Kementerian LHK. 

Setelah kubuka bungkusan bukunya, Wiratno langsung menggoreskan tinta jejak tangannya. 
Buku cetakan kedua yang telah terbit sejak tahun 2012, mengisahkan "pertandingan" kehidupannya saat diberi mandat bertugas mengelola Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) pada tahun 2005-2007.

Jabatan sebagai Kepala Balai TNGL disertai perasaan keterkejutan dan ketakjuban akan kerumitan yang sangat kompleks. Mulai dari konflik internal hasil kegagalan manajemen puluhan tahun, hingga tekanan kuat yang berasal dari dinamika sosial lokal yang multi dinamis. Sementara sebagian ekosistem kawasan TNGL telah porak poranda oleh berbagai hal. Pergulatan intelektual inilah yang mendorongnya untuk mendokumentasikan pengalaman menakjubkannya.

Wiratno yang kelahiran Tulungagung 55 tahun lalu dan alumnus Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), melihat bahwa saat itu sebagian besar masyarakat TNGL menganggap aneh budaya membaca dan menulis sebagai bagian aktivitas bekerja. Budaya lisan masih melekat kuat bertahan dimana banyak perubahan yang terjadi.

Wiratno memiliki siklus bekerja dengan berdiskusi dan pergi ke hutan bersama staf, mengunjungi desa-desa dan kawasan perbatasan, dialog bersama LSM dan pemerintah setempat untuk mendapatkan perspektif berbeda. Setelah itu kembali ke kantor, kemudian mencatat dan menulis pengalaman lapangannya. Tentu saja disertai membaca berbagai literatur, jurnal maupun peraturan perundang-undangan.

Lalu pengalaman tertulis ini didiskusikan bersama sebagian kecil staf. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mengasah modal intelektual yang kita miliki (ingatan buku yang pernah dibaca, intuisi, kemampuan analitik). Mungkin inilah begitu banyaknya pengambil keputusan pengelolaan sumber daya alam dalam era otonomi yang tidak didasarkan atas informasi valid terkini (up-to-date) dan berbasiskan keilmuan (science-based) serta tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Semua hal paling mendalam tentang konservasi di Indonesia, biasanya ditulis tekun dengan kepakaran yang hampir semuanya dari luar negeri. Menulis merupakan investasi jangka panjang dan kapan kita menuliskan persoalan pemikiran konservasi Indonesia sendiri?

Generasi konservasi Indonesia hingga kini hanya sedikit menghasilkan para pemikir dan penulis konservasi alam yang handal. Fenomena minoritas figur penggiat konservasi, memunculkan fenomena lainnya "3L" (Elu Lagi, Elu Lagi, Elu Lagi). Mereka akan selalu bertemu dengan muka-muka yang sama dalam berbagai pertemuan penggiat konservasi. Sebuah tugas mulia untuk membangun sistem pengkaderan lintas generasi pekerja konservasi dalam menyelamatkan sumber daya alam dari kehancuran.

Setelah beberapa dekade pengelolaan konservasi di lapangan, ternyata tidak banyak memunculkan gagasan segar bagi keberlanjutan konservasi. Misalnya dengan tidak terdokumentasinya TNGL dengan baik selama seperempat abad. Kalaupun ada tidak dibagikan ke berbagai pihak untuk didiskusikan bersama sebagai pencerahan dan pencerdasan publik.

Diperlukan suatu organisasi yang mau terus untuk belajar (learning organization) dalam menghadapi tantangan konservasi kedepannya. Organisasi yang kontinyu melakukan adaptasi, merespons perubahan yang ada di sekitarnya, dan tentu saja yang seluruh stafnya memiliki gairah belajar. Salah satu yang mudah menumbuhkan karakter pembelajar yaitu menuliskan kembali apa yang ditemukan dalam praktik keseharian pengelolaan konservasi.

Dalam buku ini dituliskan pengalaman memahami ekosistem Leuser selama Januari 2005 hingga Agustus 2007. Penggalian serpihan sejarah masa lalu pengelolaan konservasi TNGL, dilakukan dengan interaksi para staf dan pemimpin senior TNGL termasuk ingatan yang dimiliki oleh para tenaga honorer. Hal ini sangat penting untuk memahami keterkaitan sikap mental staf, kondisi kawasan serta dinamika peristiwa politik lokal. Keterkaitan ini untuk penyelesaian berbagai sikap mental yang terakumulasi jangka panjang dari berbagai praktik interaksi dengan faktor di luar manajemen termasuk interaksi dengan praktik-praktik kriminal. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun