Mohon tunggu...
Jeniffer Gracellia
Jeniffer Gracellia Mohon Tunggu... A lifelong learner

Menulis dari Kota Khatulistiwa

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Kisahku sebagai Pengidap Skoliosis di Bulan Peduli Skoliosis

1 Juni 2021   12:00 Diperbarui: 2 Juni 2021   04:36 566 51 20 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisahku sebagai Pengidap Skoliosis di Bulan Peduli Skoliosis
Ilustrasi pengidap skoliosis di bulan peduli skoliosis | Foto diambil dari Horilaz via Kompas

Masih teringat dengan jelas kenangan saya ketika sedang membaca buku pelajaran Biologi ketika duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama. Sebuah gambar di buku tersebut menunjukkan tiga anak-anak yang sedang duduk, tapi posturnya tidak biasa. Tulang belakangnya tidak simetris.

Di bawah gambar tertulis: "3 jenis kelainan tulang belakang: lordosis, kifosis, dan skoliosis". Namun saya tidak sadar ternyata tulang belakang yang saya miliki pun sama seperti yang di gambar tersebut. Sekitar tiga tahun kemudian, barulah saya tahu ternyata saya pengidap skoliosis bawaan lahir.

Bulan Peduli Skoliosis

Bulan ini, bulan Juni, dijadikan sebagai Scoliosis Awareness Month atau Bulan Peduli Skoliosis di Amerika Serikat. Tujuan dari peringatan ini adalah untuk menyoroti pentingnya pendidikan, deteksi dini, dan juga kesadaran publik tentang skoliosis. Sayangnya di Indonesia masih belum ada hari ataupun bulan untuk memperingati kondisi ini. 

Dikutip dari Alodokter, skoliosis adalah kondisi di mana tulang belakang melengkung berbentuk seperti huruf C atau S. Skoliosis sering ditemukan kepada anak-anak sebelum pubertas, juga terdapat kasus dimana skoliosis bawaan lahir atau keturunan. Kondisi ini pun kebanyakan dialami oleh perempuan.

Lengkungan dari tulang belakang tersebut akan diukur dalam hitungan derajat. Mereka yang memiliki derajat yang besar dapat menyebabkan gangguan pernafasan, jantung, paru-paru, ataupun kelemahan pada tungkai. Mereka yang kecil hingga sedang derajatnya biasanya merasakan rasa tidak nyaman hingga sakit pada tulang belakang.

Setiap tahunnya, angka pengidap skoliosis terus meningkat di dunia dan termasuk di Indonesia. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Malaysian Orthopaedic Journal berjudul "Prevalence Rate of Adolescent Idiopathic Scoliosis: Results of School-based Screening in Surabaya, Indonesia" menemukan bahwa:

 2,93% dari 784 remaja usia antara 9 hingga 16 tahun di Surabaya mengidap skoliosis idiopatik (yang belum diketahui penyebabnya).

Salah satu orang terkenal yang mengidap skoliosis adalah Usain Bolt yang dikenal sebagai manusia tercepat di dunia. Di Indonesia, beberapa artis yang membagikan kisahnya sebagai pengidap skoliosis adalah Nikita Mirzani, Cinta Kuya, dan Jessica Mila.

Tumor, gundukan lemak, ternyata skoliosis

Banyak dari mereka yang mengidap skoliosis tidak sadar akan kondisinya, termasuk juga saya. Dengan maksud meningkatkan kesadaran di bulan ini, saya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya bisa mengetahui saya mengidap skoliosis.

Pertama kali ada yang sadar tentang kondisi tulang belakang saya, umur saya sekitar 7 tahun saat itu. Ibu dan juga sepupu saya melihat terdapat gundukan lemak di punggung kanan atas saya. Kebingungan pun muncul, entah itu tumor atau mungkin memang saya dulu berbadan gemuk sehingga lemak pun berpindah ke punggung saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x