Mohon tunggu...
Armin Yubu
Armin Yubu Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

Other outsider

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Masa Depan Mobil Listrik Indonesia

2 Januari 2020   14:00 Diperbarui: 2 Januari 2020   17:00 126
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Otomotif. Sumber ilustrasi: FREEPIK

Selama hampir lima tahun, saya vakum dari dunia tulisan. Di waktu itu, saya hanya berkutat dengan permainan cyber. Tapi, saya hanya di bagian memastikan agar kabel cyber ini tidak terputus. Barulah sekarang, saya terpikir lagi untuk menulis.

Niatnya sih mau mengawali tulisan ringan dulu. Tapi, setelah saya membaca beraga artikel untuk dijadikan sebagai referensi dari tulisan saya, saya menemukan satu topik yang saat ini sudah ramai diperbincangkan oleh orang-orang di pusat sana. Akhirnya saya iseng juga membuat satu tulisan tentang topi itu.

Naskahnya sih, tentang mobil listrik. Tapi kita akan membahas sedikit tentang proyeksi industri mobil listrik di masa yang akan datang. Apalagi, jika menempatkan Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai leading sector dalam program tersebut.

Pemerintah Indonesia secara resmi telah mengundangkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik. Melalui beleid itu, pemerintah mendorong supaya pelaku industri otomotif segera merancang dan membangun pengembangan mobil listrik di dalam negeri.

Perpres nomor 55/2019 tentang percepatan progam kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle) untuk transportasi jalan, secara eksplisit bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk menjadi pelopor industri mobil listrik dunia. Bukan tanpa alasan, Indonesia memiliki beragam sumber daya yang berhubungan dengan industri tersebut.

Industri mobil listrik erat kaitannya dengan pentingnya mengembangkan industri baterai litium di dalam negeri. Bagi pemerintah Indonesia, 60 persen dalam mengembangkan mobil listrik kuncinya ada di baterai. Bahan baku untuk baterai ini, diantaranya nikel dan kobalt (bahan feromagnetik). Dua jenis bahan baku ini, Indonesia memiliki cadangan yang terbilang cukup besar.

Memiliki cadangan bahan baku kunci dari Kendaraan Bermotor Listrik (KBL), menjadi peluang bagi bangsa ini untuk membangun industri KBL yang lebih murah dan kompetitif. Olehnya itu, menjadi hal urgen untuk sesegera mungkin dirancang sebuah strategi bisnis supaya bangsa ini bisa lebih dulu membangun industri KBL ketimbang negara lainnya.

Untuk menunjang rencana strategis Pemerintah Indonesia, di Kawasan Industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), tengah dilakukan pembangunan pabrik baterai litium. Dikutip dari Tempo.co, edisi Rabu (24/7/2019), penanaman modal asing yang sudah masuk untuk membangun pabrik tersebut sebesar US$ 1 miliar atau setara Rp 13,9 triliun.

"Mungkin (selesai) tiga tahun ke depan lah ya. Baterai saya kira 3 tahun ke depan sudah jadi tuh, mungkin lebih cepat. Menurut saya harus terbesar karena kita semuanya dan biaya kita lebih murah karena ujung-ujungnya pada biaya," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, dikutip dari Tempo.co, edisi Rabu (24/7/2019).

Ternyata tak hanya negara Tiongkok saja, namun negeri gingseng dan negeri Paman Sam, pun tergabung dalam konsorsium untuk membangun pabrik litium di Kawasan Industri IMIP. CATL (Contemporary Amperex Technology), adalah perusahan teknologi dan produsen baterai yang berasal dari negara Tiongkok. LG Electronics, perusahaan terbesar ketiga di dunia dalam bidang perangkat elektronika yang berasal dari Korea Selatan. Kemudian Tesla.Inc, perusahaan otomotif dan penyimpanan energi asal Amerika Serikat.

Menilai Morowali Menjadi Pusat Industri KBL
Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memiliki posisi yang sangat strategis jika Pemerintah Indonesia ingin membangun sebuah industri KBL di daerah itu. Pertama, Sulteng telah memiliki Kawasan Industri IMIP yang terletak di Kabupaten Morowali. Kedua, Sulteng mempunyai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kota Palu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun