Mohon tunggu...
Jemie Simatupang
Jemie Simatupang Mohon Tunggu... Administrasi - Tuhan Bersama Orang-orang Yang Membaca

Pedagang Buku Bekas dari Medan

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Indonesia Butuh Lebih Banyak Lagi Walikota Bodoh

30 Juni 2011   11:28 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:03 1142 11 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

[caption id="attachment_119869" align="aligncenter" width="640" caption="Jangan mentang-mentang berkuasa, berlaku seenaknya (karya agus suwage, sumber:popartfair.com)"][/caption]

Saya berpendapat, seorang bodoh itu lebih baik daripada seorang penipu, tukang bohong—walaupun yang pertama terus-terusan jadi korban yang kedua.

Bung, DI TV SAYA MELIHAT polemik antara Gubernur Jawa Tengah (Jateng) dengan Walikota Solo (Surakarta). Menarik sekaligus bikin kepala kita refleks geleng-geleng sendiri walau tak sedang nekan ekstasi, hahaha… Cemana nak dibilang tidak: Wong Gubernur Jawa Tengah sampai bilang “bodoh-bodoh!” segala kepada Walikota Solo. Konon ini berawal dari pembangunan mol (tertulis: mall) di atas bekas Pabrik Es Saripetojo yang ada di Solo. Pembangunan ini dizinkan oleh Pemprov Jateng, dengan motor Bibit Waluyo, Sang Gubernur, karena konon lahan itu memang milik pemprov tersebut (tentu saja dijual kepada pihak pemodal). Namun Sang Walikota, Joko Widodo—biasanya disingkat jadi Jokowi—tak mengeluarkan izin—di era otonomi sekarang, segala hal pembangunan di wilayah kabupaten/kota harus mendapatkan izin dari bupati/walikota setempat, kalau dulu ya kalau penguasa di provinsi udah setuju walikota atau bupati mau bilang apa lagi? Alasan Jokowi: pabrik es yang dibangun tahun 181…(?) tinggi nilai sejarahnya dan dalam tahap pengajuan sebagai bagian jagar budaya yang harus dilestarikan. Wah, dapat perlawanan dari bawahan begitu kontan Bibit Waluyo naik pitam. Ia menuduh Jokowi macam-macam, dari alasan melawan atasan sampai agenda politik tertentu di pemilihan gubernur mendatang, bahkan sampai membodoh-bodohi Walikota yang konon tak pernah mengambil gaji bulanannya itu. ”Walikota Solo itu bodoh, kebijakan Gubernur kok ditentang. Sekali lagi saya tanya, Solo itu masuk wilayah mana? Siapa yang mau membangun?” katanya kepada Koran Tempo. Bibit bersikeras bahwa pembangunan mol akan meningkat kesejahteraan rakyat solo. Sementara Jokowi sendiri sedang membatasi pembangunan mol di kotanya—terlebih di atas lahan bersejarah. Bung, Sekarang coba kita lihat siapa sebenarnya yang bodoh? Saya tidak terlalu paham bagaimana dinamika politik di kota keraton ini, tapi sepintas saja dilihat jelas ada kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat dari langkah-langkah yang dilakukan Jokowi. Akh, kalau pembangunan mol sebagaimana kita tahu seberapa besar sih bisa meningkatkan perekonomian rakyat. Lalu pertanyaannya lagi? Perekonomian rakyat yang mana? Jamak diketahui mol adalah produk kaum pemodal yang tentu saja ditujukan bagi yang punya modal. Kalau tak ada modal? Jangan harap bisa meningkatkan perekonomian di mol. Ya, akhirnya seperti kata Rhoma Irama, yang kaya jugalah yang makin kaya, yang miskin ya makin kere. Rakyat, kalau kita percaya demokrasi, adalah rakyat kebanyakan, bukan kaum elite yang punya banyak kekayaan dan kekuasaan. Jelas kebijakan Jokowi untuk mengurangi mol lebih bermanfaat, bisa mengurangi jurang yang makin dalam antara kaya-miskin, terlebih kalau kebijakan itu selanjutnya menyuburkan pasar-pasar tradisional, yang terbukti lebih banyak mendongkrak perekonomian orang kebanyakan (baca: rakyat). Apalagi bangunan tua yang akan dijadikan mol adalah bekas gedung bersejarah. Wah, saya kira watak pemimpin dimana-mana sama saja, suka meruntuhkan gedung-gedung lama yang berasitektur tinggi lalu menggantikannya dengan gedung kotak-kotak yang tak berestetika sama sekali. Yang penting: siapa berani bayar? Saya jadi teringat Medan—tempat saya tinggal ini. Pernah juga kolam Sri Deli yang bersejarah itu hendak dihancurkan, mau dijadikan pusat perbelanjaan(?). Semuanya telah dihancurkan. Akhirnya karena protes banyak pihak, pembangunan tak jadi dilanjutkan, walaupun bentuk asli kolam sudah hilang. Ya, orang bilang bangsa besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Yang tak lupa sejarah. Bung Karno bilang, “Jas Merah! Jangan melupakan sejarah!” tapi penguasa kita sekarang menghancurkan sejarahnya. Salah satu buktinya ya itu tadi: satu per satu gedung bersejarah dirubuhkan. Hancur. Lalu kita pun lupa, tak ingat apa-apa lagi. Amnesia. Wajar kalau kemudian sering sekali bangsa ini terperosok ke lobang yang sama berkali-kali. Bung, Kalau memang Jokowi, Sang Walikota Solo itu bodoh, saya rasa kita memang lebih butuh pemimpin yang bodoh. Walikota yang bodoh. Indonesia butuh lebih banyak pemimpin bodoh seperti Jokowi. Cemana tidak, daripada kita punya pemimpin yang pintar, yang Doktor, yang Pehade, tapi dengan kepintarannya lebih sering menipu kita dengan wacana-wacananya. Dengan statistiknya. Dengan iklan-iklannya, dlsb. Lebih bagus bodoh, karena ketika bodoh ia lebih banyak berpihak kepada orang yang bodoh-bodoh seperti kita—eh saya ini. Saya berpendapat, seorang bodoh itu lebih baik daripada seorang penipu, tukang bohong—walaupun yang pertama terus-terusan jadi korban yang kedua. Apa pendapat Anda, Bung!? Medan, 30 Juni 2011 Tabek! Jemie Simatupang

Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan