Mohon tunggu...
Heri Agung Fitrianto
Heri Agung Fitrianto Mohon Tunggu...

Penikmat wisata dan perjalanan yang tinggal di Kota Tuban - Jawa Timur.\r\n\r\nArtikel2 perjalanan saya yang menarik lainnya bisa Anda baca di blog saya : http://jelajah-nesia2.blogspot.com dan http://jelajah-nesia.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Travel

Jejak Sang Kapiten Di Rumah Abu Keluarga Han

7 Juli 2013   22:41 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:52 0 0 0 Mohon Tunggu...

Di Surabaya banyak terdapat bangunan kuno yang bersejarah dan tersebar di berbagai penjuru daerahnya. Salah satunya berada di daerah kawasan Pecinan di Jl. Karet. Di ruas jalan ini terdapat banyak bangunan Pecinan kuno dengan bentuk yang masih seperti aslinya. Salah satunya adalah Rumah Abu Keluarga Han yang merupakan bangunan kuno dan legendaris.Meskipun dikenal sebagai Rumah Abu Keluarga Han, di rumah ini tidak menyimpan abu orang yang sudah meninggal ataupun tentang abu lainnya.

Yang ada adalah kayu-kayu simbolis yang disebut ‘ sinci ‘ ( Papan Arwah ) dan bertuliskan dalam bahasa Tiongkok tentang nama-nama leluhur marga Keluarga Han yang telah meninggal.
Sinci yang terletak di meja altar dan berwarna putih gading itu berukuran panjang sekitar 20 cm dan lebar 5 cm.Altar persembahan itu sepintas mirip dengan altar persembahan yang ada di kelenteng.
Rumah ini digunakan untuk kegiatan bersembahyang dan menghomati leluhur dari keluarga bermarga Han.
Rumah Abu Keluarga Han didirikan sekitar abad 18-19 oleh Han Bwe Koo, keturunan ke-6 dari Keluarga Han.
Sejarah Keluarga Han itu sendiri diawali oleh Han Siong Kong yang berasal dari Tiongkok dan pertama kali tiba di Indonesia sekitar tahun 1673 dengan mendatangi di kota pesisir Lasem.
Sejarah Keluarga Han kemudian berlanjut dengan salah satu keturunannya yaitu Han Bwee Koo yang datang ke Surabaya dan diangkat menjadi Kapiten der Chineezen.Yaitu wakil pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi pemimpin orang-orang Tionghoa di Surabaya. Sehari sebelum Sincia atau tahun baru Imlek, warga Tionghoa mengadakan sembahyang leluhur.
Semua keluarga baik dekat maupun jauh berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur yang sudah tiada. Pada saat itu di rumah Abu Keluarga Han disajikan berbagai perlengkapan sembahyang .Seperti buah-buahan, lauk pauk, seperti ayam, kepiting, ikan, babi, bebek dan kue-kue basah seperti kue nian gao , kue wajik, kue mangkok, kue pia , kue keranjang, muaco, lauwa, thong chiu pia , dan kue thok. Ada juga minuman putao chee chiew, sejenis anggur rendah alkohol. Dan yang wajib ada tebu sebagai simbol manis-manis agar di tahun yang baru ini semua keluarga diberikan rezeki dan kehidupan yang manis

KONTEN MENARIK LAINNYA
x