Mohon tunggu...
aris moza
aris moza Mohon Tunggu... menekuni dunia pendidikan sebab aku percaya dari sanalah mulanya segala keberhasilan itu bermula

seorang yang lantang lantung mencari arti dan makna dalam setiap langkah kecilnya. lalu bermimpi menjadi orang yang dikenal melalui karya-karyanya, bukan rupa, bukan harta, bukan panggkat atau jabatan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Buta Aksara

13 Oktober 2019   22:48 Diperbarui: 13 Oktober 2019   22:57 0 1 0 Mohon Tunggu...

Indonesia kini bukan lagi Negara yang berpenduduk buta huruf atau penduduk yang tidak bisa membaca.  Menurut data yang dihimpun dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud dari data proyeksi Badan Pusat Statistik, penduduk Indonesia yang telah berhasil dibebas aksarakan mencapai 97,932%, atau tinggal sekitar 2,068% (3,474 juta orang) yang masih buta aksara.

Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) memiliki definisi sebagai berikut. Melek aksara adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi.

Dari keterangan diatas bangsa Indonesia telah mampu membaca. Tetapi sebenarnya bangsa Indonesia belum benar-benar dikatakan bebas melek aksara. Bila melihat pengertian dari UNESCO sebenarnya Indonesia masih jauh dari kata terbebas itu. Terlebih membaca ternyata belum menjadi budaya masyarakat Indonesia seusai dengan pengertian di atas.
Kita bisa lihat barometer yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Problem bangsa kita dari dulu masih sama. Disaat Indonesia dikatagorikan Negara dengan penduduk terbanyak buta huruf 60 Tahun yang lalu. Kini Bangsa Indonesia juga masih pada problem yang tidak kalah samanya yaitu budaya membacanya. Ketika masyarakat sudah bisa membaca kata perkata tapi alfa terhadap budaya membaca.

Kita bisa melihat dampak dari masalah itu, sebelum kemerdekaan Indonesia di cap bodoh karena tidak bisa membaca akses pendidikan yang buruk dan peraturan penjajah yang membuat penduduk asli atau pribumi mengalami diskiriminasi pendidikan ahirnya penduduk pribumi benar-benar terus terbelenggu kebodohan diasaat bangsa-bangsa lain telah memulai modernisasi peradaban. Pendidikan yang terlampau jomplang itulah yang membuat bangsa terus hanya mengekor kehendak Penjajah, mudah distir, dibodohi dan diadu domba.

Ternyata di era modern sekarang bangsa kita tidaklah beda dengan masa-masa penjajahan dulu. Benar bangsa ini telah merdeka, masyarakatnya pun telah berpendidikan dengan mudah. Akses pendidikan tidak terbatas terbuka lebar samapai perguruan tinggi. Tetapi belenggu kebodohan itu tetap ada, disaat masyarakat sudah sangat mudah tetapi masih rendah dalam hal minat baca. Bukan hanya mampu membaca kata per kata tetapi sesuai dengan pengertian UNESCO yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi.
Kita bisa lihat disaat kemjuan sudah sedemikian rupa, justru bangsa ini terus terjembab pada persoalan klasik. Mudah terpovokasi sebab nalar kritis masyarakat yang tidak tumbuh. Hal itu disebabkan budaya literasi yang masih dibawah rata-rata.

Dulu bangsa kita mudah di adu domba karena dicap bodoh, tidak bisa membaca dan tidak berpendidikan, kini problem itu tetap sama bangsa kita sedang menghadapi upaya adudomba yang kian massif karena masyarakat kita masih rendah dalam budaya literasinya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x