aris moza
aris moza pekerja lepas

seorang yang lantang lantung mencari arti dan makna dalam setiap langkah kecilnya. lalu bermimpi menjadi orang yang dikenal melalui karya-karyanya, bukan rupa, bukan harta, bukan panggkat atau jabatan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Meneladani Semangat Juang Pahlawan

9 Oktober 2017   12:06 Diperbarui: 9 Oktober 2017   12:16 1039 0 0

Bumi pertiwi bersyukur, pernah mempunyai jiwa-jiwa yang kokoh berdiri dihaluan terdepan untuk memperjuangkan dan mempertahankan  kemerdekaan bangsa ini. keterbatasan dan tekanan membuat gelora semangat para pejuang sangat tinggi. Semua merasa perlu ambil bagian untuk menjadi yang terdepan memukul mundur musuh. Semua lapisan masyarakat ada dan terlibat dalam usaha mengusir penjajahan. Tentara, Kyai, Ustad, Santri, Rakyat biasa. Semua bergerak memenuhi panggilan hati nurani, bahwa kesemena-menaan yang dilakukan oleh penjajah harus diakhiri.

Perjuangan mereka jelas, denan arah tujuanny jelas, boro-boro ada kepentingan politik atau kelompok-kelompok tertentu. Dimana hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang lebih kecil. Semua merasa harus punya kepentingan mengeluarkan penjajahan di bumi pertiwi. Itu kepentingan besar mereka. Di kepala-kepala mereka hanya ada satu kepentingan yaitu MERDEKA.

Itu dulu, saat bangsa Indonesia masih jelas di jajah oleh bangsa asing. Bagaimana dengan hari ini, setelah kedaulatan kita Merdeka dari penjajahan. Apakah masih perlu, semagat juang seperti yang digelorakan oleh para pejuang. Saat membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan? Jawabannya perlu dan sampaikapanpun perlu. Sebab kebangsaan kita Indonesia tidak berhenti pada satu titik, bangsa kita terus berjalan berubah mengikuti arus perubahan global. Maka penting bagi generasi hari ini, untuk meneladani smangat para penjuang, meskipun tidak lagi memanggul senjata, tetapi proses perjuangnnya harus menjadi ghiroh semangat kita menjadikan bangsa Indonsia  bangsa yang besar dan makmur.

Tetapi dewasa ini, semua seolah terbuai dengan tidur panjang. Hari ini masyarakat kita dimanjakan dengan seabrek kemajuan teknologi, yang tanpa sadar telah mengikis rasa Nasionalisme kebangsan kita. Sikap matrealisme, hendonisme dan individualis terus merambah menjangkiti masyarakat Indonesia.  Dengan sikap seperti itu akan melemahkan rasa Nasionalisme sehingga tidak lagi tersisa nilai-nilai perjuangan para pendahulu di hati-hati masyarakat Indonesia.

Apa lagi di Era globalisasi semacam ini, dimana sekat-seket kebangsaan sudah semakin kabur dan juga semakin ramainya pasar bebebas. Masyarakat Indonesia semakin kehilangan rasa Nasionalisme kebangsaan mereka. Ditambah lagi carut marutnya urusan politik di Tanah Air ini. Semua merasa berkepentingan memiliki Indonesia tetapi bukan untuk Indonesia. Indonesia menjadi milik segelintir kelompok atau orang yang memiliki pengaruh. Bila dulu semua pejuang merasa berkepentingan dan maju ke grada terdepan demi satu kata Merdeka. Tetapi hari ini semua merasa berkepentingan untuk menguasi Indonesia menjadi milik beberapa kolompok.

Di tambah lagi di era digital dan kecanggihan Tekonlogi, rasa kebersamaan dan kesatuan sepertinya sudah semakin menipis. Terciptanya kebebasan berpendapat melalui media sosial ternyata mempertajam perselisihan dan perbedaan. Ujaran kebencian, saling menghujat satu samalain. Semua mengindikasikan tidak lagi menghargai sebuah perbedaan. Padahal bangsa kita berdiri dengan perbedaan yang tercantum dalam lambang negara kita "bhineka Tungal Ika". Tetapi sepertinya kebinekaan itu tinggal selogan semata. Perseteruan antar kelompok terus saja terjadi meski dalam sekala-sekala kecil. Tetapi itu sudah mengindikasikan akan mulai kroposnya nilai-nilai kebinekaan kita, sebagai bangsa yang majemuk berdiri diatas perbedaan yang ada.

Sungguh ironis, semangat perjuangan hanya sebagai serimonial belaka yang diperingati setiap tahunnya. Tanpa benar-benar ada geliat semangat meneladaninya. Masyarakat yang telah berubah menjadi masyarakat konsumptif, hendonis. Politikus yang memilih menggadaikan kepentingan bangsa demi untuk kepentingan kelompok saja. Lengkap sudah bangasa kita dalam sakit yang parah.

Masihkah ada secercah cahaya, untuk kemaslahatan bangsa? Jawabannya kita harus opitimis MASIH ada generasi-genareasi yang peduli dengan Indonesia. siapa mereka ? yang jelas  PASTI ADA.