Mohon tunggu...
Jefry Go
Jefry Go Mohon Tunggu... pegawai negeri -

Learning by Reading & Learning by Writing

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kontroversi Film “The Secret” dan Pertentangan Iman Terhadap Tuhan

5 Januari 2016   11:18 Diperbarui: 5 Januari 2016   11:18 560
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Setelah sekian lama tidak eksis di dunia Kompasiana (sejak era transisi tampilan) akhirnya saya mencoba kembali menulis. Melihat kembali lay out Kompasiana membuat saya rindu menulis. Tapi bingung mau nulis apa ya? Hehehe. Oke lah nulis yang ringan-ringan saja. Saya coba mengulas tentang film yang judulnya “The Secret”.

Saya ingat betul, saya dapat film bergenre dokumenter ini dari laptop teman saat kuliah. Isinya tentang Hukum Tarik-menarik dengan disertai wawancara sejumlah tokoh/pakar. Kakak saya yang lebih religius mengingatkan saya agar tidak menonton film itu karena ada unsur atheis. Tapi terlambar, dia bilang begitu saat saya sudah menontonnya hehehe.

Pada dasarnya, film ini mengajak penontonnya memahami makna Hukum Tarik-menarik dalam menggapai tujuan hidup masing-masing. Sebagai penguat, sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang diberi ruang berstatement mendukung teori ini.

Sejauh yang saya tangkap, dalam film dijelaskan bahwa setiap manusia mempunyai gelombang otak yang mampu mengirimkan sinyal kepada universe (alam semesta). Jika kita terus-menerus berpikir tentang suatu tujuan dan mempersiapkan diri akan tujuan itu, maka kelak alam semesta akan membuat hal itu menjadi kenyataan sesuai yang kita pikirkan.

Sebagai contoh, diilustrasikan pula pengalaman seorang pria yang begitu merindukan sebuah mobil impian. Tiap hari dia memajang gambar mobil idamannya dan setiap pagi setelah bangun tidur, pria tersebut memasang gestur tubuh seolah-olah mengendarai mobil impiannya. Kebiasaan itu diterapkan bertahun-tahun dan setelah berjalan sekian tahun akhirnya pria tersebut benar-benar memiliki mobil.

Salah satu pakem teori tersebut adalah alam semesta membutuhkan waktu untuk memproses keinginan kita. Bahkan konsep ini disebut-sebut menjadi resep sukses sejumlah tokoh penting dunia.

Di sisi lain, teori ini menyebutkan adapun alasan suatu harapan bisa kandas tak sesuai keinginan kita adalah karena tanpa sadar dalam otak kita sedikit terbersit keinginan untuk mundur.

“Sedikit saja muncul keraguan maka gelombang kegagalan juga akan terkirim ke alam semesta yang (secara tidak langsung dan tanpa kita sadari) juga akan meng-cancel keinginan kita,” demikian ujar salah seorang narasumber dalam film.

Setelah menyaksikan film hingga selesai, saya berkesimpulan bahwa film ini memang benar mengandung unsur atheis. Pasalnya, film ini meniadakan kata Tuhan dan menggantinya dengan alam semesta. Selain itu, film “The Secret” juga mensugesti seseorang agar mengandalkan kekuatan pikirannya. “You are what you thing”. Itulah prinsipnya. Ya, memang tidak ada salahnya memiliki keyakinan teguh akan suatu tujuan. Tapi, kalau keyakinan itu membuat kita merasa berkuasa akan alam semesta dan mengaturnya, maka hampir pasti dia akan menjadi “Tuhan” atas dirinya sendiri.

Kalau boleh beropini terhadap film ini, sebenarnya “The Secret” mengadopsi konsep iman yang diajarkan dalam semua agama. Iman dan pengharapan akan Yang Maha Kuasa. Pencipta alam semesta ini. Selanjutnya, konsep iman itu dikemas secara duniawi dengan meniadakan faktor Tuhan. Entahlah, mungkin supaya lebih sains dan masuk akal padahal teori itu sendiri juga belum ada indikator pastinya (bisa saja seseorang berhasil karena faktor kerja keras dan bantuan Tuhan). Hal ini juga tidak bisa dibuktikan secara terbalik. Jadi kedua sisi sama-sama tidak ada tolak ukurnya. Tetapi, makna iman dalam koridor agama adalah mempercayai dan meyakini sesuatu yang tidak terlihat. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci Umat Kristiani “Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya”.

Secara garis besarnya, benar-tidaknya teori yang diusung “The Secret” dikembalikan kepada pengalaman empirik masing-masing personal. Sebagai seorang yang (yaaah secara tidak langsung sempat mempertanyakan eksistensi Tuhan), saya pun sempat mengalami periode-periode atheis dalam hidup. Segala sesuatu saya pertimbangkan secara logis. Saya pun sempat menerapkan teori dalam film “The Secret” secara serius. Saat itu saya ingat betul sedang mencoba peruntungan di Jakarta melamar pekerjaan sebagai kameraman di salah satu stasiun televisi nasional. Saya tidak mengizinkan pikiran gagal masuk ke otak saya. Plus, bekal ilmu kameraman membuat saya makin pede dibanding para kandidat lain. Untuk teknis perlakuan kamera dan perawatan semua komponennya boleh diadu, karena saya memang sempat mendapat pelatihan khusus dari instansi berstandar ISO di Surabaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun