Mohon tunggu...
JBSurbakti
JBSurbakti Mohon Tunggu... Penulis | Bankir | Akuntan | Penikmat Hidup

Menulis Adalah Sebuah Esensi Dan Level Tertinggi Dari Sebuah Kompetensi - Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya, Untuk Apapun Di Bawah Langit Ada Waktunya

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Mengapa di Kompasiana?

31 Mei 2021   22:11 Diperbarui: 10 Juni 2021   08:15 140 14 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa di Kompasiana?
sumber : Dokpri JBS

Menjadi penulis adalah salah satu aktivitas sejak mahasiswa dahulu menjadi cita-cita saya pribadi. Entah mengapa bila membaca sebuah tulisan maka gelora untuk menjadi seperti sang penulis terasa sangat dekat dan memicu kekaguman tersendiri. Sebenarnya bergabung di Kompasiana sejak 10 tahun lalu namun tidak konsisten ditengah aktivitas pekerjaan saat itu yang menuntut banyak waktu. Dan sekarang aktivitas menulis kurun waktu selama 3 bulan lebih ini semakin hari semakin menyenangkan. Bermula dari rasa ingin seperti penulis kebanyakan yang bisa memberi karya, tak terasa sebuah konsistensi tercipta. 

Saya ingat benar tatkala salah satu teman mengingatkan bahwa bila hendak bercakap-cakap dengan seseorang yang hebat tanpa harus langsung bertemu dengannya adalah dengan cara tersingkat lewat membaca tulisannya. Benar juga sepertinya, dan dulu membaca kini mencoba menulis dan setidaknya mulai menjadi penulis. Meski masih jauh dari orang hebat dengan seluruh kapasitas dan kapabilitas yang mereka miliki namun satu langkah di depan setidaknya komitmen untuk memulai menulis sudah "on the track".   

Mengapa menulis di Kompasiana?

Jawaban tersingkat adalah "Saya pecinta Kompas". 

Entah mengapa kecintaan saya terhadap harian Kompas sejak masa kuliah menjadi salah satu motivasi tersendiri. Nama besar Jakob Oetama sebagai salah satu pendiri Kompas begitu mengena di dalam hati. Saya secara pribadi juga adalah fans berat terhadap wartawan, maha guru, pengusaha dan pemimpin yang karismatik seperti beliau. Menurut pengamatan saya, sebagai pemimpin di Kompas beliau adalah salah seorang yang berpengaruh dan menjadi panutan bahkan tidak pernah tertarik ke arena politik praktis yang secara hitung-hitungan sangat terbuka lebar bila memang hendak berkecimpung di dalamnya. 

Siapa yang tak kenal harian Kompas? Mungkin media ini telah membentuk warisan dan cara berpikir yang berimbang, independen, terpercaya, transparan dan juga menyoroti aspek lain dari kehidupan. Dimana media lain fokus untuk membawa trending topic dengan berita yang sedang panas-panasnya namun justru terkadang dari beberapa headline di harian ini mengambil sisi lain untuk mengupas topik yang berbeda. Sesuatu yang unik dan tetap asyik melihat sisi berbeda dari berita yang terkadang terlalu bombastis dan overdosis.

Saya baru menyadari pula bila platform blog ini dulu adalah hanya diperuntukkan bagi jurnalis dan karyawan internal di Kompas. Berkembang kemudian menjadi platform blog yang terbuka bagi semua orang. Dan sampai hari ini bisa eksis dan kemudian membentuk komunitas dan lingkungan tersendiri bagi para Kompasianer.

Berjalan dengan waktu, semangat menulis di blog ini menjadi sesuatu yang menyenangkan bahkan membanggakan. Secara tidak langsung nama besar Kompas seakan juga terpatri dalam diri sebagai salah satu penyedia berita berikut tulisan yang mencerdaskan kepada siapa saja. Sambutan warga dan admin dari seluruh artikel pada umumnya juga direspon dengan baik. Padahal saya sungguh masihlah amatiran yang masih banyak belajar dari para guru yang telah menorehkan jutaan kata yang telah tertuang di media ini.

Sebagai rumah besar bersama seyogyanya menjadi tempat berteduh yang nyaman untuk berbagi inspirasi meski terkadang berjumpa dalam pandangan yang berbeda satu sama lain.

Sebuah hal yang hakiki dalam kehidupan, karena persahabatan juga akan berjumpa pada satu waktu di titik perbedaan namun bukan dalam perpecahan.

Media adalah pemersatu dalam keperbedaan dan disini juga terasa nikmatnya. Topik dengan begitu banyak dan fokus setiap orang berbeda satu sama lain demi sebuah karya tersendiri. Mungkin ribuan tulisan bisa tampil dengan kebebasan sesuai dengan norma dan aturan main yang telah ditetapkan. Namun pengalaman selama ini masih dalam hal yang wajar. Rasa yang sangat "identik" dengan media Kompas Grup termasuk di blog Kompasiana tak pernah lepas yaitu adanya pergolakan tata bahasa yang santun namun tidak keluar dari suara kebenaran yang tertuang dengan profesionalisme jurnalis. Itu yang menjadi rasa saya, mungkin yang lain boleh berpendapat berbeda.

Menulis tanpa media juga adalah suatu yang menjadi hambar. Tidak juga melulu "aji mumpung" serta menafikan nama besar Kompas dan cakupan para warga yang begitu tersebar maka platform blog ini juga adalah tempat dan cara terbaik melatih dan cermin dari setiap karya yang kita hasilkan.  Begitu banyak nama besar terlahir dan masih aktif menulis di blog ini.

Sebuah kesan dan tantangan tersendiri bahkan awalnya cukup tidak percaya diri bila hendak menuangkan tulisan di blog ini. Bagi saya pribadi setiap respon dari seluruh warga adalah sebuah penyemangat dan menjadi parameter terhadap karya tulisan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN