Mohon tunggu...
Jay
Jay Mohon Tunggu... Apa yang beda dan bedanya apa?

Saya adalah orang yang tak sombong karena saya selalu menunduk. Karena kebanyakan orang lebih pendek dari saya. Mahluk kasat mata yang bekerja sebagai konsultan bagi orang-orang gabut, profesional dan cenderung dinilai ahli dalam bersantai. Pernah ditunjuk oleh Presiden dari televisi waktu saya sedang nonton. Ayah dari Ayah saya namanya kakek dan Ibu dari Ibu saya namanya nenek. Terlahir dari rahim seorang ibu yang dulunya adalah anak dari Ibu dan Bapaknya. Pengalaman saya pertama kali lahir ke bumi sangat tidak menyenangkan, karena baru saja menghirup udara, saya sudah dikangkangi ibu saya sendiri. Tapi walaupun begitu, saya tetap cinta kepada ibu saya, karena tidak ada lagi yang mencintai saya pada waktu itu. Tak banyak cerita dari saya karena saya memang tidak banyak bercerita.

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Kalau Ada yang Rumit, Kenapa Harus Simpel?

18 September 2019   17:00 Diperbarui: 18 September 2019   17:35 120 1 0 Mohon Tunggu...

Fakta membuktikan, 100% pembaca yang mengakses tulisan ini menggunakan akses internet. Fakta yang Menakjubkan!
Fakta kedua: Kemungkinan anda membuka internet 100% GAGAL bila perangkat anda dalam keadaan mati/off.
Fakta ketiga: Satu dari 1o orang yang minim kuota lupa mengaktifkan Wi-Fi ketika mengakses internet, semoga orang itu bukan anda.

Mungkin orang-orang terdekat kita, atau bahkan kita sendiri pernah merasakannya. Kesulitan hidup saat ini terjadi karena minimnya penguasaan teknologi. Saya, adalah orang yang termasuk dalam kategori orang itu. Tanpa disadari saya bangga pernah menjadi bagian dari generasi ribet karena pemikiran saya dahulu, "Kalau ada yang rumit, kenapa harus simpel?".

"Halah ... Buat apa sih punya m-banking, 'kan mesin ATM banyak?". Iya, ATM memang tersebar luas dimana-mana, tapi, untuk mengakses-nya kita tetap memerlukan kartu ATM sebagai kuncinya.

Hingga suatu hari yang damai, ketika saya dan istri sedang menikmati indahnya pemandangan sore hari didalam supermarket yang letaknya agak jauh dari rumah (kurang lebih jaraknya 5 juta langkah kaki semut rang-rang).

Membawa telpon genggam dan uang seadanya yang cukup untuk membeli satu-dua items, kami dengan santuy bertamasya berkeliling display yang penuh dengan produk-produk ternama, setelah selesai bertransaksi, uang yang tersisa cuma cukup membayar parkir saja. Tapi tak masalah, toh, sebentar lagi pulang ke rumah juga.

Sesampainya di parkiran, semua masih aman terkendali, namun semua itu berubah karena rupanya keadaan tidak sesuai dengan rencana.
Keadaan diluar sangat mendukung kami untuk segera menunda rencana pulang ke rumah. Tumpukan kendaraan semakin banyak, memadati area jalan sampai angin saja susah untuk lewat. Sore itu, jalan yang tadinya lega pun berubah menjadi pawai jalanan dengan iringan kendaraan roda dua dan empat, lengkap dengan instrumen knalpot dan klakson yang bersahutan, dan suasana bertambah gegap gempita saat ondel-ondel menari berputar-putar mencari anaknya.

Saya menyesal karena tidak membawa dompet yang sengaja saya tinggalkan di saku celana kerja, karena memang awalnya tidak ada rencana untuk pergi berlama-lama, dan istri saya juga tidak membawa tas Chantel kebanggaannya. Rasa-rasanya seperti luka tapi tidak berdarah. Kami akhirnya memutuskan untuk menunggu lalu lintas mereda, begitulah kira-kira.

Manusia memang bisa berencana, tapi apa daya ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan? Disaat itu, istri mendekati wajah saya, dan membisikkan kata-kata yang sampai sekarang masih saya ingat betul, dan tidak akan pernah saya lupakan, dengan nada sedikit mesra dan dibalut sedikit emosi dia berbisik, "Sayang ... Aku lapar, adek (bayi) juga" sembari mengelus-elus perutnya yang mirip moncong pesawat Boeing.

Suara bisikan itu bukanlah sekedar suara, karena suara itu bernilai 2/3 dari total jumlah suara negara kecil saya. Sebagai kepala rumah tangga yang menganut asas sistem demokrasi, saya tidak punya pilihan selain mencari cara untuk meredam ketegangan agar tidak terjadi bentrokan yang dapat memecah belah persatuan dan keharmonisan.

"Sayang, sabar ya ...",jawab saya menenangkan.

...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x