Mohon tunggu...
Jawani Eka Pyansahcilia
Jawani Eka Pyansahcilia Mohon Tunggu... Resensor Pemula

Seorang statistisi yang terjebak di dunia akuntansi, mencoba lari sejenak menjadi peresensi

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Burlian, Si Anak Spesial Mamak

30 Oktober 2019   22:16 Diperbarui: 30 Oktober 2019   22:24 854 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Burlian, Si Anak Spesial Mamak
https://bukurepublika.id/product/si-anak-spesial/

Berbeda dengan novel serial anak nusantara yang sudah aku review sebelumnya, si anak pemberani. Novel ini menceritakan Burlian, anak ketiga mamak dan bapak, dengan julukannya si anak special. Di setiap kisahnya, ia tidak selalu sendiri. Kalau tidak dengan kak Pukat, ia ditemani oleh Can dan Munjib.
Burlian ini anak yang polos dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga membuat ia sering melanggar aturan. Burlian dan Kak Pukat sempat "dihukum" mamak dengan diajak bekerja ke kebun dari subuh hingga malam karena bolos sekolah. "Tak apalah tidak sekolah, kalau kalian memang lebih suka jadi petani. Terserah kalian mau jadi apa besok lusa!" (hal.26)

Berbeda dengan Mamak, Bapak memberi pemahaman kepada mereka mengenai betapa pentingnya sekolah. "Begitu pula sekolah, Burlian, Pukat. Sama seperti menanam pohon. Pohon masa depan kalian. Semakin banyak ditanam, semakin baik dipelihara, maka pohonnya akan semakin tinggi menjulang. Dia akan menentukan hasil apa yang akan kalian petik di masa depan, menentukan seberapa baik kalian akan menghadapi kehidupan." (hal.29) Hayooo, siapa yang males sekolah? Ingat dan pahami baik-baik ya nasehat Bapak ini.

Namanya juga anak-anak, walaupun beberapa kali kena hukuman, Burlian dan Kak Pukat tidak jera melakukan kenakalan lainnya. Mereka terkena 'hukuman' lagi, sempat menjadi tahanan stasiun kereta semalaman hanya karena menaruh paku diatas rel. Mereka berharap akan dijemput bapak di stasiun, namun mereka tak tahu bahwa bapak tak akan menjemput mereka.

Cerita seru Burlian bersama kak Pukat tidak berhenti sampai disitu, hanya karena penasaran dengan senapan angin, burlian hampir dimakan buaya kelaparan di lubuk larangan (Eits, baca dulu deh buku ini biar tahu apa hubungannya antara senapan angin dengan buaya hehehe). Tapi kalau tidak penasaran, mereka tidak akan pernah tahu kenapa bapak berhenti menggunakan senapan angin lagi.

Daritadi aku hanya menceritakan kenakalan Burlian saja ya. Padahal Burlian anak yang suka membaca buku lho. Semua buku di sekolah sudah habis dibaca, bahkan sampai berkali-kali. Ia juga anak yang setia kawan. Kisah teman sekelas Burlian bernama Ahmad, si ringkih, membuat aku paham akan pepatah 'don't judge a book by it's cover'. Ahmad ini sering diolok--olok oleh temannya di sekolah karena fisiknya. Namun Burlian mengetahui alasan dibalik kekurangan fisik Ahmad tersebut. Burlian pun akhirnya menyadari bahwa Ahmad menyimpan bakat terbesarnya dan memaksa Ahmad untuk menyalurkan bakat tersebut. Namun, malang nasib Ahmad, bakat tersebut lah yang akhirnya membuat Ahmad meninggalkan burlian untuk selama-selamanya. Bang Tere sungguh handal memainkan emosi pembaca pada saat apa yang terjadi dengan Ahmad.

Rasa ingin tahu Burlian yang lain sempat membuat ia ikut memasang angka SDSB. Tanya orang tua kalian apa itu SDSB. Kalau ga dijawab, coba baca cerita lengkapnya di novel ini. "Sekali saja sensasi seru itu merasuki, kau bisa nekat melanggar pantangan besar." (hal.110) itu lah yang terjadi pada Burlian, sekali dia ikut, membuat ia ketagihan melanggar pantangan tersebut. Namun, akhirnya Mamak yang membuat ia lepas dari jeratan permainan SDSB.

Kisah Burlian tidak ada habisnya dalam setiap bab. Kepolosannya dan rasa penasaran dengan banyak hal, membuat rasa ingin tahunya harus segera dituntaskan. Silahkan baca cerita selengkapnya kalau kalian ingin tahu kenapa burlian dan kak pukat bolos sekolah, kenapa burlian dan kak pukat menaruh paku di atas rel kereta, tentang bagaimana pemahaman Burlian mengenai seberapa besar cinta mamak padanya, tentang gedung sekolah Burlian yang roboh sehingga ia sempat dilarikan ke rumah sakit dan tentang bagaimana mereka menjadi bagian dari Kebijakan Leluhur Kampung.

"Kita menebang sebutuhnya. Kita punya batasan. Jangan pernah mengambil semua rebung tanpa menyisakan tunasnya untuk tumbuh lagi. Jangan pernah menebar racun atau menjulurkan kawat setrum di sungai yang akan membuat telur dan ikan-ikan kecil juga mati, padahal esok lusa dari merekalah sungai akan terus dipenuhi ikan-ikan. Jangan pernah menebas umbut rotan semuanya. Kita selalu berusaha menjaga keseimbangan. Jangan pernah melewati batas, atau hutan tidak lagi bersahabat." (hal.254)

Dalam kisah Burlian ini, banyak mengajarkan kita untuk tidak serakah pada alam. Mengambil secukupnya sesuai kebutuhan kita. Selain itu, ada sedikit masalah-masalah politik yang ikut membumbui cerita Burlian. Setidaknya kita sedikit tahu, siapa pemimpin negara saat itu.
Coba tebak istilah ABRI digunakan pada kisaran tahun berapa. Nah, cerita kanak-kanak Burlian ini juga pada kisaran tahun tersebut. Pada bagian ABRI ini, aku tidak menyangka dengan jalan pikir Burlian ketika Ia, Can dan Munjib hampir putus asa saat tersesat di hutan liar. Begitu juga dengan ide Burlian ketika Ia memberikan cara kepada teman-temannya untuk memenangkan lomba lari. Namun, jika kalian mudah menebak ide-ide Burlian, kalian juga hebat!

Terlepas dari keseruan cerita Burlian di novel ini, aku mau mengoreksi sedikit kesalahan penulisan. Pada halaman 116 terdapat redaksi "Sudah tiga angka, 502, tinggal satu angka lagi." Seharusnya angka tersebut 501. Semoga dicetakan berikutnya kesalahan ini dapat diperbaiki.
Oiya, novel ini Recommended untuk dibaca bagi yang berusia 13 tahun keatas. Selamat Membaca!

*****

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x