Mohon tunggu...
Penulis Senja
Penulis Senja Mohon Tunggu... Guru - Guru Honorer

Selamat Datang di Konten Blog saya, semoga dapat menghibur dan menginspirasi kalian semua. Silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar untuk request cerpen, puisi, artikel atau yang lainnya. Terima kasih.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sampai Habis Juang

7 Juni 2024   14:09 Diperbarui: 7 Juni 2024   14:12 91
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.


Di sebuah desa kecil yang damai, hiduplah seorang pemuda bernama Bima. Sejak kecil, Bima dikenal sebagai anak yang tangguh dan bersemangat. Ia selalu bermimpi untuk menjadi seorang petani yang sukses dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun, nasib tidak selalu sejalan dengan keinginan. Tanah yang ia miliki tidak subur, dan hasil panennya selalu tidak memadai.

Setiap pagi, Bima bangun sebelum matahari terbit. Ia berjalan kaki menuju ladangnya, berharap suatu hari nanti usahanya akan membuahkan hasil yang lebih baik. Ia bekerja keras dari pagi hingga malam, mengolah tanah dengan tekun dan penuh harapan. Namun, setiap musim panen, hasilnya tetap mengecewakan.

Desa tempat Bima tinggal dikenal dengan pemandangannya yang indah. Di tengah desa, terdapat sebuah bukit kecil yang dihiasi dengan pohon-pohon besar dan sungai yang mengalir tenang. Banyak orang desa yang sering datang ke sana untuk mencari ketenangan. Bima pun sering menghabiskan waktu di bukit itu, merenungi nasib dan mencari inspirasi.

Suatu hari, saat duduk di bawah pohon besar di puncak bukit, Bima bertemu dengan seorang lelaki tua yang tidak dikenalnya. Lelaki tua itu tampak bijaksana, dengan rambut putih dan mata yang penuh pengalaman. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Pak Rahmat, seorang pensiunan guru yang kini menetap di desa tersebut.

"Apa yang membuatmu gelisah, nak?" tanya Pak Rahmat dengan lembut.

Bima menghela napas panjang sebelum menjawab, "Saya bekerja keras setiap hari, Pak. Tapi tanah saya tidak menghasilkan apa-apa. Saya ingin membantu keluarga saya, tetapi sepertinya semua usaha saya sia-sia."

Pak Rahmat tersenyum, "Anak muda, perjuangan tidak selalu tentang hasil yang terlihat. Kadang, perjalanan itu sendiri yang membawa kita pada tujuan yang sebenarnya. Apa yang sudah kamu pelajari dari usahamu selama ini?"

Bima terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan itu. "Saya belajar tentang ketekunan, tentang bagaimana tidak menyerah meski hasilnya tidak sesuai harapan. Saya juga belajar cara mengolah tanah dan merawat tanaman."

Pak Rahmat mengangguk. "Pelajaran itu jauh lebih berharga daripada yang kamu kira. Setiap pengalaman adalah guru yang baik. Cobalah untuk tidak fokus pada hasil akhir, tetapi pada prosesnya. Setiap langkah yang kamu ambil adalah bagian dari perjalananmu."

Perkataan Pak Rahmat membekas dalam hati Bima. Sejak saat itu, ia mulai melihat pekerjaannya dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi mengukur keberhasilan hanya dari hasil panen, tetapi dari seberapa keras ia berusaha dan seberapa banyak ia belajar. Ia terus berjuang, tanpa menyerah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun