Mohon tunggu...
Jati Nugroho
Jati Nugroho Mohon Tunggu... Penggemar bola layar kaca yang ingin belajar menulis

The harder I try, the luckier I get

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Nation's Pride yang Berujung Malapetaka

8 Juli 2020   06:10 Diperbarui: 8 Juli 2020   06:18 122 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nation's Pride yang Berujung Malapetaka
Brazil dihajar Jerman 1-7 di semifinal Piala Dunia 2014 (www.guardian.co.uk).

8 Juli 2014, pendukung Brazil yang memadati Estadio Mineirao di kota Belo Horizonte sudah menyiapkan semua yang diperlukan untuk menanti duel akbar kontra Jerman di babak semifinal. Segelas bir dingin, segenggam hot dog panas, dan jersey khas warna kuning jadi starterpack wajib warga Brazil yang saat itu datang ke stadion. Tak satupun yang punya feeling bahwa yang akan mereka saksikan nanti adalah pembantaian, bahkan yang tersadis sepanjang pagelaran Piala Dunia, terhadap negara mereka sendiri.

Belo Horizonte bergemuruh kala pemain Brazil berjalan memasuki lapangan, beriringan dengan sang musuh. Tak ada yang janggal pada malam itu, kecuali starting eleven yang dipasang Luiz Felipe Scolari. Dante mengisi pos Thiago Silva, yang kena akumulasi kartu. Neymar yang cedera ditukar dengan Bernard. Lalu tiba-tiba Maicon jadi starter gantikan Dani Alves. Semua tampak aman terkendali, setidaknya sampai menit ke-11. Selanjutnya, adalah pertunjukan horor bagi publik tuan rumah.

Toni Kroos menendang sepak pojok pertama Jerman di pertandingan itu. Thomas Mueller, entah bagaimana, berdiri sangat bebas di tiang jauh tanpa pengawalan. Saking leluasanya, dia bahkan menyambut umpan Kroos dengan tendangan menyusur tanah. Gol. 1-0 Jerman. Seluruh pemain Brazil terperanjat melihat gol itu. Alarm bahaya sudah berbunyi, namun mereka terlalu lambat menyadarinya.

Sejak terciptanya gol perdana Jerman, mental punggawa Brazil langsung runtuh. Mereka tak lagi tenang saat membawa bola. Berkali-kali mereka melakukan salah passing. Serangan yang mereka bangun dari bawah selalu mentah di lapangan tengah. Publik tuan rumah mulai khawatir malam itu akan jadi malam penyiksaan yang begitu panjang bagi mereka. Mereka mungkin sedikit menyesali keputusan mereka untuk menonton langsung di stadion.

Gol kedua pun menyusul. Menit 23, Thomas Mueller sendirian mengacak-acak barisan pertahanan Brazil yang kelimpungan. Awalnya, Julio Cesar mampu menahan tendangan pertama dari Mueller, namun Miroslav Klose sudah siap menyambar bola rebound di bibir gawang. Ini gol ke-16 Klose di Piala Dunia, sekaligus mengantarnya ke puncak all time top scorer melewati rekor Ronaldo Nazario.

David Luiz, yang malam itu menjadi kapten, tak mampu menggantikan peran Thiago Silva sebagai komandan di lini pertahanan. Duetnya dengan Dante mungkin akan dikenang sebagai penampilan terburuknya selama membela panji Tim Samba. Empat bek yang tampil malam itu benar-benar lupa bagaimana cara bertahan.

Gawang Brazil kemudian kebobolan tiga gol lagi. Kroos mencetak brace di menit ke-24 dan 26. Sami Khedira menambah luka di menit ke-29. Para bek Brazil seakan diajak main kucing-kucingan oleh para penyerang Jerman. Mereka begitu mudah dipermainkan dengan umpan-umpan pendek di depan kotak pinalti. Skor 0-5 untuk Jerman menghiasi papan skor. Belo Horizonte jadi kota terkutuk malam itu.

Sang lawan memberondong lima gol ke gawang Brazil di paruh pertama. Estadio Mineirao kemudian mulai basah akibat gerimis yang turun dari langit dan air mata yang jatuh dari publik Brazil. Tawa canda yang ada seketika berubah jadi agonia. Tak ada lagi harapan untuk kembali. Brazil telah kalah sebelum permainan berakhir.

Joachim Loew telah mengisntruksikan anak buahnya untuk mengendurkan permainan di babak kedua. Ia merasa aman sekaligus kasihan. Tiket final sudah di tangan, jadi tak perlu lagi menghabisi Brazil dengan lebih kejam lagi. 

Namun sayang, Andre Schuerlle pergi ke toilet saat itu, sehingga ia mencetak dua gol di babak kedua. Gol Oscar di menit akhir seakan tidak ada artinya lagi untuk Brazil. Angka yang terpampang memang begitu mengiris. Jerman keluar sebagai pemenang dengan skor 1-7, mengubur impian Brazil untuk berlaga di partai pamungkas di depan penggemar mereka sendiri.

Impian untuk mengangkat trofi juara di rumah sendiri harus pupus. Seantero Brazil berduka atas kekalahan yang menyesakkan itu. Anak-anak yang tadinya melihat David Luiz dkk layaknya pahlawan kini menatap mereka laksana pecundang. Tapi di lain pihak, lawan-lawan mereka tertawa dalam hati. Mereka bahagia karena akhirnya orang Brazil menuai apa yang telah mereka tabur: bibit keangkuhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN