Mohon tunggu...
Jati Kumoro
Jati Kumoro Mohon Tunggu... Wiraswasta - nulis di podjok pawon

suka nulis sejarah, kebudayaan, cerpen dan humor

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Berebut Tahta Mataram Kuno

8 Desember 2020   16:36 Diperbarui: 12 Desember 2020   20:53 1415 15 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pergantian  kekuasaan raja-raja Mataram Kuno pada awalnya berjalan dengan mulus. Raja yang menggantikan kedudukan pemerintahan sebelumnya selalu bisa bertahan lama. Terhitung sejak Rahyangta ri Mdang atau Rakai Mataram Ratu Sanjaya yang berkuasa selama kurang lebih 29 tahun yaitu dari 717 M sampai 746 M, yang kemudian digantikan oleh Pakai Panangkaran, pergantian kekuasaannya berjalan dengan mulus.

dictio.id
dictio.id
Berdasarkan pada prasasti Wanua Tengah III, Rakai Panangkaran  berkuasa kurang lebih selama 38 tahun, yaitu dari 7 Oktober 746 M sampai 1 April 784 M, kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Rake Panaraban. Pergantian kekuasaan ini berlangsung dengan lancar tak ada pemberitaan tentang gejolak politik.

Rake Panaraban berkuasa selama kurang lebih 19 tahun dari 1 April 784 M sampai 28 Maret 803 M, yang kemudian mengundurkan diri, entah dengan alasan yang tidak diketahui,  dan digantikan oleh Rake Warak Dyah Manara. Pergantian tampuk kekuasaan ini juga berjalan dengan baik tidak ada gejolak politik yang mewarnainya.

Rake Warak memerintah hampir 24 tahun yaitu dari 28 Maret 803 M sampai 5 Agustus 827 M, dan pemerintahannya berakhir ketika dirinya meninggal. Setelah meninggal raja ini mendapat sebuatan sebagai "sang lumah i kelasa" dan digantikan oleh putranya yang bernama Dyah Gula.

Dyah Gula, putra Rake Warak Dyah Manara, naik tahta pada 5 Agustus 827 M. Raja ini adalah putra mahkota yang naik tahta dalam usia yang muda untuk menggantikan ayahnya yang meninggal. Hal ini terlihat pada pada nama yang disandangnya yang masih merupakan nama pribadi atau nama yang disandang sejak lahir, dan dirinya belum bergelar Rake atau mempunyai wilayah kekuasaan tanah lungguh sendiri.

Dyah Gula ini hanya memerintah kurang lebih selama enam bulan karena pada 24 Januari 828 M, tahta Mataram Kuno sudah berada dalam genggaman kekuasaan Rake Garung. Melihat betapa singkatnya kekuasaan yang dipegang oleh Dyah Gula, dapat diduga bahwa telah terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Rake Garung. Mulai ada kudeta dalam proses peralihan kekuasaan tahta Mataram Kuno.

Pemerintahan Rake Garung berlangsung cukup lama, yaitu 19 tahun yang dimulai sejak 24 Januari 828 M  dan berakhir ketika dia meninggal dunia sebelum atau pada 22 Febuari 847 M. Melihat lamanya masa pemerintahannya dapat  diduga bahwa Rake Garung ini merupakan tokoh yang mempunyai kedudukan yang kuat di lingkaran kerabat istana.

Dalam prasasti Wanua tengah III, Rake garung disebut sebagai putra dari "sang lumah i tuk" yang jika melihat bahwa Rake Garung mengembalikan status sima sawah Wanua Tengah yang sebelumnya dicabut oleh Rake Warak dan Dyah Gula, maka kemungkinan besar dia adalah putra dari Rake Panaraban, sama seperti halnya Rake Warak. Pengembalian status sima sawah Wanua Tengah adalah langkah politis guna memperkokoh kekuasaannya.

Ketika Rake Garung meninggal, penggantinya adalah Rake Pikatan Dyah Saladu. Raja ini memerintah kurang lebih selama 8 tahun yaitu dari 22 Febuari 847 M sampai meninggal dunia sebelum atau pada 27 Mei 855 M. Ada dugaan bahwa Rake Pikatan inipun merebut tahta dari pewaris yang sah.

Dugaan ini muncul karena dalam prasasti Siwagrha 855 M disebutkan adanya peperangan yang terjadi sebelum Rake Kayuwangi Dyah Lokapala naik tahta. Peperangan yang terjadi antara Rake Pikatan melawan Rake Walaing pu Kumbhayoni yang mengaku sebagai cicit "sang ratu i halu". Kemungkinan di dalam  peperangan inilah Rake Pikatan meninggal dan kemudian digantikan oleh Rake Kayuwangi.

Meski sebelumnya sempat diwarnai dengan adanya peperangan, pergantian kekuasaan dari Rake Pikatan ke putra mahkotanya yang bernama Rake kayuwangi Dyah Lokapala ini tetap berjalan dengan baik. Rake Kayuwangi memerintah kurang lebih selama 30 tahun, yaitu dimulai dari 27 Mei 855 M sampai dia meninggal sebelum atau pada 5 Febuari 885 M.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan