Politik

Dedi Mulyadi Sang Marhaen yang Peduli Nasib Para Petani

13 Oktober 2017   20:47 Diperbarui: 13 Oktober 2017   20:50 492 0 0
Dedi Mulyadi Sang Marhaen yang Peduli Nasib Para Petani
sang-pembaharu-partai-59e0c3bbc226f94990456cf2.jpg

"Padi  mengajarkan kita pada sifat rendah hati, menunduk ketika berisi,  bertani bukan untuk mencari untung karena harga beras diatur oleh  Negara, sedangkan biaya produksi terus melambung tinggi.Kebahagiaan  kita di meja makan adalah hasil jerih payah keringat mereka, tubuh  hitam terbakar matahari, setiap hari berlumur lumpur sawah, tak pernah  berkeluh kesah apalagi sampai membentangkan spanduk pemberontakan. Hidup adalah garis takdir yang harus disyukuri, seperti kisah Pak Opik, buruh tani dengan upah 10 Kg dari hasil satu kwintal hasil kotor.Saatnya kita belajar pada kesabaran mereka dan saatnya kami para pemimpin merasa malu oleh ketabahan mereka".-Dedi Mulyadi

 Yang kita bicarakan bukan para petani tuan tanah yang sawahnya upluk  aplak  hektaran, tapi para buruh tani yang nasibnya sejak zaman kolonial  hingga saat ini tidak pernah berubah.Bung Karno terinspirasi oleh  sosok Marhaen sosok buruh tani miskin di Bandung selatan, sehingga  jiwanya berontak tersentuh oleh keadaan dan realita bahwa setelah  mendengar cerita Pak Marhaen, dapat diambil kesimpulan betapa miskinya  kaum pribumi ini.

Saat ini Kang Dedi Murupakan pemimpin yang peduli  dengan nasib para petani, ada beberapa kebijakannya yang pernah diambil  seperti Kang Dedi mengeluarkan kebijakan Pemda Purwakarta  mengasuransikan padi yang ditanam oleh para petani, ini adalah langkah  cerdas yang moderat yang ada hanya di ada negara negara barat yang sudah  maju. Kang Dedi dapat menyelami penderitaan para petani apabila gagal  panen entah itu karena hama atau bencana.Yang belum tersentuh itu  para buruh taninya, mereka kerja tidak mengenal standarisasi upah  seperti para buruh, apa yang dikisahkan Pak Opik kepada Kang Dedi ini  memang merupakan realita nasib para buruh tani hampir diseluruh daerah  di Indonesia, mereka menerima upah alakadarnya saja, bahkan tidak  dibayar oleh uang. Semoga kedepannya Kang Dedi mampu menjadi pelopor dan  penyambung lidah para buruh tani agar ada peraturan yang mengatur  standarisasi upahnya.