N W Wulandari
N W Wulandari

students, very musical, loves writing Semoga Berita Terkini dari penulis bermanfaat untuk masyarakat luas

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Melawan Mitos "Tidak Ada Cinta Sejati"

24 April 2018   14:57 Diperbarui: 26 April 2018   15:41 185 0 0
Melawan Mitos "Tidak Ada Cinta Sejati"
Orangtua Fariz Suhaimi/Facebook

Tindakan menjadi pelajaran yang sangat berharga ketimbang hanya menjadi ucapan. Maknanya lebih terlihat dan terasa.

Cinta sejati sangat langka, tapi bukan berarti tidak ada. Tapi juga, di situlah kendalanya.
Seseorang tidak akan bilang 'Aku menemukan cinta sejatiku'. Karena cinta sejati hanya bisa dirasakan, tapi tidak bisa direncanakan.
Cara merasakannya itu yang sulit, seseorang tidak akan tahu kalau ia sedang sangat jatuh cinta. Hanya orang dari luar hubungan mereka yang bisa menilai.

Melihat kisah berikut ini, bisa jadi cinta sejati itu sangat sederhana:

Dari dia yang dikaruniai orangtua yang saling mencintai dan mengasihi

Sering kali aku mendengar cerita dari para perempuan yang bilang sulitnya menemukan pria sejati. Sebenarnya bukan permasalahan siapa, perempuan atau prianya, yang seharusnya menjadi sempurna. Sebuah kebaikan dan ketulusan sederhana bisa datang dari satu insan.

Foto di atas adalah orangtua ku.

Ayah bekerja lebih dari 12 jam sehari (di bawah terik matahari) supaya ibuku bisa punya kehidupan yang baik, tapi ibu tetap memilih untuk tidak leha-leha dan hanya bersandar.

Ibu akan melakukan perjalanan dari Sengkang sampai Kranji hanya untuk berbagi makanan dengan ayah, memastikan dirinya tidak kelaparan, lalu pulang kembali ke rumah sambil bilang "Sekarang aku bisa istirahat, bapakmu sudah gak lapar dan baik-baik saja."

Definisi seorang wanita kuat bukan hanya kemandirian, wanita yang kuat adalah pribadi yang setia berada di samping pasangannya, apa pun situasinya.

Ingatlah, pria bajingan sedunia pun masih bisa dijinakkan oleh seorang wanita, bukan karena wanitanya lebih kuat secara fisik maupun mental, tapi karena orangnya dapat memberikan keikhlasan, cinta, kepedulian dan kesetian terhadap pria itu.

Aku beruntung bisa mendapat pelajaran yang berharga dari orangtuaku, bukan dari mulut, tapi bagaimana mereka berperilaku.

Kesehatan adalah kado terbesar.

Kepuasan adalah kemewahan termegah.

Kesetiaan adalah kasih sayang terbaik.

Oleh: Fariz Suhaimi

Keberatan hati akan melahirkan jiwa yang pamrih. Jiwa yang pamrih hanya bisa puas jika apa yang ia terima dan berikan sesuai bobot tuntutannya.
Perhitungan dan kalkulasi menjadi tolak ukurnya dalam berbuat. Seseorang boleh saja menjadi pamrih, atau bahkan saling pamrih dalam sebuah hubungan interpersonal. Tapi layakkah itu disebut cinta sejati? Berita terkini.

Manusia terkadang butuh memisahkan antara logika dan harapan. Cinta saja tidak cukup memang betul. Tapi jika tidak ada cinta, lantas untuk apa diperjuangkan?
Jika jawabannya adalah untuk mengejar harta, kepopuleran, jaminan masa depan, keturunan yang lebih baik, kita tahu itu adalah sebuah kepalsuan dalam hubungan, dan tidak bisa disebut cinta.

"Makan tuh cinta, gue mah sukanya makan pake nasi uduk." 

Siapa yang bilang cinta bisa dimakan? Tapi dengan cinta, masing-masing insannya akan berupaya terbaik untuk menjadi saling berguna bagi pasangan mereka.. Bahu membahu di setiap persoalan yang datang menerpa. Berjuang bersama, tidak hanya yang satu bekerja, yang satu leha-leha.

Kejujuran menjadi esensi penting dalam hubungan cinta. Tidak ada larangan untuk berbohong, lakukan kebohongan sebisa mungkin, biarkan terus terpendam hingga melahirkan kebohongan-kebohongan lain. Lalu, ketika terbongkar, tidak hanya satu-satu, tapi semuanya, silakan nikmati momen di mana ada seorang manusia yang sudah hancur di depan mata akibat dari segala kebohongan itu.

Dengan cinta, kebohongan menjadi musuh dari ketulusan hati. Ada keengganan untuk saling menyakiti. 

Cinta sejati tidak bisa diklaim, hanya bisa dilakukan dan dirasakan, tanpa harus dikatakan. Sederhana sekali, dan itu ada.