Kus Harijanti. drg. MKes. SpPM
Kus Harijanti. drg. MKes. SpPM

Dokter gigi kekhususan di bidang oral medicine (penyakit mulut). Alumni FKG Unair angkatan 1972

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

HIV/AIDS, Infeksi Jamur Rongga Mulut, dan Masalah Sosial yang Terkait

5 Desember 2017   09:21 Diperbarui: 5 Desember 2017   22:04 8300 1 0
HIV/AIDS, Infeksi Jamur Rongga Mulut, dan Masalah Sosial yang Terkait
Infeksi Jamur Rongga Mulut (Dokumen Pribadi)

Seorang ibu tertular HIV/AIDS dari pasangan yang bukan suaminya? Wouw, ini kasus yang jarang sekali terjadi!

Pendahuluan:
Seorang ibu tertular HIV/AIDS dari pasangan yang bukan suaminya? Padahal kebanyakan seorang ibu tertular dari suaminya yang suka njajan di luar. Risiko tertular penyakit HIV/AIDS adalah laki-laki yang berlangganan PSK atau yang berganti-ganti pasangan. Sampai September 2014, dilaporkan 6.539 ibu-ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS1.

Kasus:
Kalau melihat caranya berpakaian, bersikap dan bertutur kata, pastilah dia orang yang terpelajar. Perawakannya sedang, tidak terlalu cantik tapi menarik, umurnya 36 tahun. Ternyata betul, dia adalah staf salah satu instansi di luar Jawa dengan pendidikan terakhir S2. Dia mengeluh sudah 3 bulan ini di rongga mulut/lidah terdapat putih-putih yang terasa agak panas. Sudah berobat ke dokter dan diberi obat tetes mulut, tapi tidak respons. Lalu diberi obat telan selama 2 minggu, bisa sembuh tapi setelah obat habis kambuh lagi. Beberapa bulan ini terasa sering tidak enak badan, kadang-kadang demam.

Tata laksana:

  • Yang pertama dilakukan oleh Drg. Spesialis Penyakit Mulut, adalah merujuk ke Lab. Mikologi untuk pemeriksaan penunjang guna menegakkan diagnosis bahwa lesi yang berada di rongga mulut adalah infeksi jamur. Ternyata hasilnya positif. Infeksi jamur rongga mulut (Oral Candidiasis) yang resisten terhadap obat adalah salah satu petanda AIDS. 
  • Kemudian dilakukan Voluntary Conseling and Testing (VCT). Karena infeksi jamur rongga mulut merupakan salah satu petanda dari HIV/AIDS maka dokter memberikan informasi tentang HIV/AIDS. Infeksi oportunistik yang paling sering terjadi pada rongga mulut berupa Oral Candidiasis (OC) yang dijumpai pada 17-43% penderita HIV dan 90% pada penderita AIDS2.
  • Konseling berlanjut dengan menggali informasi yang sangat privat sekitar hubungan dengan suami dan aktivitas seks. Pasien sangat kooperatif dan bersedia untuk di lakukan tes HIV. Kemudian pasien dirujuk ke UPPI (ke RS di Jawa Timur). Setelah dilakukan, ternyata hasil tes HIV adalah positif.
  • Dugaan semula hal itu didapat dari suaminya. Tapi setelah melalui pendekatan yang simpatik dari dokter yang merawat, didapatkan penjelasan yang sangat mengejutkan dari pasien. Ternyata pasien pernah berhubungan seks dengan pria selain suaminya, dan pria tersebut sekarang sudah meninggal. Kira-kira 3 tahun yang lalu pasien mengalami masalah dalam perkawinannya, bahkan sudah pisah ranjang dengan suami hampir 6 bulan, pada masa itulah dia bertemu dengan teman lamanya dan terjadilah hubungan di luar nikah. Dari sinilah pasien tertular karena ternyata teman lamanya itu beberapa bulan yang lalu sudah meninggal karena AIDS. Saat ini pasien sudah rujuk dengan suaminya.
  • Pada tahapan post konseling, tidak dipungkiri bahwa pasien saat ini mengalami masalah yang pelik. Dia harus menjalani pengobatan dengan ARV secara rutin dan pengobatan penyakit lain akibat keadaan sistem immunnya yang turun (Immunocompromised) seperti yang dialami sekarang yaitu Oral Candidiasis. Dia tidak mau berobat di kotanya sendiri karena khawatir stigma yang didapat dari masyarakat apalagi profesinya sebagai seorang yang terpandang di masyarakat. Juga bagaimana menyampaikan masalah ini ke suaminya yang sekarang sudah rujuk, padahal suaminya harus diperiksa karena mungkin sudah tertular darinya. Bagaimana kalau anak-anaknya yang sudah remaja sampai tahu penyakit apa yang telah diidapnya. Berbagai masalah medis dan sosial yang bercampur aduk merupakan beban mental bagi pasien. Namun satu hal yang membuat dokter sangat terbantu, yaitu pasien tersebut terbuka, sangat kooperatif, dan menyadari bahwa penyakit ini harus diobati serta penyakit ini bisa menularkan ke suaminya. 

Bagi dokter yang merawat, menanamkan kepercayaan adalah penting. Karena pasien membutuhkan dukungan untuk membangun mental agar tidak patah semangat, mendampingi dalam pengobatan yang perlu dijalani, memberi pengarahan tentang pola hidup sehat dan pengobatan yang teratur akan memberi kesempatan hidup pasien lebih lama dan bisa beraktivitas sebagaimana manusia yang lain. Juga pendekatan kepada Allah, karena hal ini akan memberikan ketenangan pada jiwanya (kisah nyata yang disamarkan).

Referensi :

  • nasional.republika.co.id,15/1-2015
  • Shetty KV, Giannini PJ. 2011. Diagnosis and Management of Oral Candidiasis. Otolaryngologic Clinics of North America,Vol 44, Issue 1, pp.231-240.