Jannuary Biru
Jannuary Biru Nothing

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series (Eps 51): Dewi dari Sebutir Padi, Part 1

9 Februari 2019   16:03 Diperbarui: 9 Februari 2019   16:36 28 1 0
Wayang Saga Series (Eps 51): Dewi dari Sebutir Padi, Part 1
Ilustrasi Nagatatmala curhat di hadapan Narada

Baca Kisah Sebelumnya

Batara Guru tergoda untuk minum dari telaga berbisa buatan Calakuta. Betapa kagetnya leher Batara Guru membiru, dan mendapat julukan Sanghyang Nilakata dari Calakuta. Namun bukannya dihukum Calakuta diangkat menjadi Batara dengan Kayangannya bernama Wisabawana. Sementara Gunung Jamurdipa dipotong dan dipindahkan ke sisi timur untuk menyeimbangkan Pulau Jawa yang miring.

Dewi dari Sebutir Padi, part 1

Setelah tiga hari "bertamasya" berkeliling melihat-lihat hamparan keindahan nan asri yang di tawarkan sebuah pulau tropis yang mengambang di tepi Samudra Hindia, Pulau Jawa. Batara Guru yang didampingi Calakuta sebagai "tour guide", memutuskan untuk membangun Kayangan baru di pulau itu. Pasir putih membentang memanjang menghiasi pesisirnya, rimba perawan merimbun laksana hamparan permadani hijau menyelimuti seluruh daratannya, gunung-gemunung merantai merangkai membentuk gugus-gugus bentang alamnya. Keindahan yang sempurna itu memesona penguasa Tribuana.
Kala itu Pulau Jawa yang masih menyatu dengan Sumatra, Madura, dan Bali memanjang membentuk bulan sabit. Pulau kosong itu, dalam arti belum ditempati Bangsa Manusia. Rimbanya yang basah dan lembap, gelap dan lebat dengan sedikit sedikit sinar matahari menjadikannya tempat persemayaman ideal bagi banga jin, siluman, dan raksasa selain bangsa hewan tentunya. Ratusan kerajaan jin, siluman, dan raksasa berhasil ditaklukkan para Batara dan pasukannya hanya dalam beberapa hari saja. Sebelum Batara Guru membangun Kayangan barunya.
"Disini," kata Batara Guru kepada Narada dan para Batara. "Di Puncak Mahameru, Gunung Mahendra kurasa ini tempat yang ideal untuk membangun Kayangan. Selain tempatnya yang indah, posisinya yang tepat di tengah pulau akan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan yang strategis. Bagaimana menurut kalian."
Setelah semua Batara sepakat, Sanghyang Guru mengeluarkan pusaka berbentuk mustika bola kristal, Sasotya Retna Dumilah. Yang memuat tiruan gambaran surga dan neraka. "Sebenarnya aku bisa membuat istana Kayangan seperti ini hanya dalam beberapa menit saja dengan menggunakan Lata Maosadi." Batara Guru menunjuk tiruan surga yang megah dalam bola mustika Sasotya Retna Dumilah.
"Namun, aku ingin kalian para Batara bergotong royong membangun istana ini di puncak Gunung Mahendra, Puncak Mahameru. Untuk membuktikan kesetiaan kalian. Dan barangsiapa yang bermalas-malasan tidak mau membantu, akan dipenggal kaki dan tangannya sebagai hukuman bagi para pemalas." setelah menyampaikan sabdanya Batara Guru ngeluyur memberikan bola mustika Sasotya Retna Dumilah kepada Narada yang diberi tugas memimpin proyek pembangunan Kayangan itu. Sementara sang penguasa Tribuana itu melesat menuju tenda utama di pesisir pantai bersama sang istri mengawasi jalannya pembangunan dari kejauhan.
Mendengar sabda Sanghyang Guru yang mengharuskan semua Batara bekerja, Batara Antaboga kebingungan khawatir lantaran ia tak punya kaki dan tangan untuk bekerja. Sedangkan orang yang tidak bekerja akan dianggap pemalas dan tak setia, yang akan dipenggal tangan dan kakinya. Sementara Naga Raksasa tak punya tangan dan kaki, yang berarti merelakan lehernya untuk dipenggal. Dan saat itulah tamatlah riwayatnya. Batara Antaboga bergidik ketakutan membayangkannya.
Dengan penuh keragu-raguan, Batara Antaboga memberanikan diri menghadap Narada sang pemimpin "proyek", untuk mengutarakan keresahan yang mengganjal di hatinya. Di tengah persiapan pembangunan, secara empat mata. "Ampun beribu ampun Kakang Sanghyang Narada, Anda 'kan tahu saya tidak punya tangan dan kaki, bagaimana saya dapat bekerja. Mohon kebijaksanaan Anda sebagai penasehat Kayangan sekaligus pemimpin pembangunan ini."
Batara Narada bertopang dagu berpikir apa yang sebaiknya dilakukan Antaboga seraya memandang prihatin wajahnya yang menunduk sedih.  Belum sempat Narada menjawab, mata kehijauan itu sudah berkaca-kaca merembes menitikkan sungai air mata. Ajaib! Air mata Antaboga  melinang jatuh ke tanah mengeras dan mengkristal menjadi tiga buah butir mutiara putih jernih sebesar buah labu. Narada yang melihat keajaiban itu terheran-heran. Antaboga sendiri terkejut melihatnya.

Nah apa yang akan dilakukan Antaboga dengan ketiga mutiara itu...

Bersambung...

Baca Kisah 1 Wayang Purwa

Baca Kisah 2 Jonggring Salaka

Baca Kisah 3 Tribuana

Baca Kisah 4 Dara Wisa

Beri komen kritik dan saran, pendapatmu mengenai Wayang Saga, agar saya dapat berintrospeksi dan memperbaiki kualitas tulisan saya di kemudian hari, dengan tags #wayangsagaseries

Ini bukan kisah mitologi Hindu. Tapi ini merupakan kisah pewayangan yang jelas sangat berbeda dengan kisah mitologi Agama Hindu.

Wayang Saga Series kini hadir dua minggu sekali pada hari sabtu atau minggu antara pukul 16:00-19:00 Don't miss it. Terima kasih atas perhatiannya Wassalam.