Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series (Episode 50)

26 Januari 2019   15:25 Diperbarui: 9 Februari 2019   18:21 73 1 0 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series (Episode 50)
Batara Guru tergoda telaga berbisa (source: travel inspiration)

Baca Kisah Sebelumnya

Para Batara berangkat untuk memotong Gunung Jamurdipa yang membuat tanah Pulau Jawa miring. Tak seperti biasa, pekerjaan mudah tapi memerlukan waktu yang lama. Batara Guru menerawang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua terpikat telaga beracun buatan Danghyang Calakuta, akhirnya Batara Guru sendiri yang maju turun tangan...

Pulau Bertanah Miring, part 2

"Calakuta keluarlah!" seru Batara Guru seraya mengambil Lata Maosadi untuk menyembuhkan lehernya. Pusaka yang terbuat dari Oyod Mimang akar dari Pohon Kalpataru, pohon kehidupan, yang bisa memulihkan apapun yang disentuhnya. Namun belang membiru di lehernya tak dapat dipulihkan, bahkan  berkali-kali ia mencoba hasilnya tetap nihil. "Apa yang terjadi, kok pusaka ini tak bekerja?" benaknya terheran-heran.
"Calakuta! Aku tahu kau sembunyi di seuatu tempat! Keluarlah sebelum aku menyeretmu!" seru Batara Guru memanggil-manggil Danghyang Calakuta. Dengan kemarahan yang meledak-ledak. "Aku tahu kau yang membuat telaga ini! Aku tahu kau yang meracuni kami semua! Ayo keluar jangan sembunyi seperti pengecut!"
Seekor serangga ganjil bermahkota muncul keluar dari balik semak-semak, perlahan serangga itu membesar menjadi sesosok manusia bermahkota bertubuh serangga, Danghyang Calakuta. "Ya aku yang membuat telaga wisa ini, aku yang menyeret kalian ke dalam Sirepku, dalam ilusiku. Aku ingin kalian semua mati kesakitan. Kalian para Batara bisanya sewenang-wenang kepada makhluk-makhluk kecil kami." kata raja siluman serangga itu. "Dua kali kalian menghancurkan rumah-rumah kami. Menghancurkan kerajaan kami. Padahal kami sama sekali tak pernah berurusan dengan kalian. Kalian yang mencari gara-gara, rasakanlah balasannya."
"Kurang ajar!" umpat Sanghyang Guru meringis menahan panas yang masih serasa membakar tenggorokannya. "Seenaknya saja menuduh tanpa alasan!"
"Kalian para Batara, para penjajah! Penghancur negeri-negeri kecil, para penghancur kerajaan-kerajaan kecil, kerajaanku Wisabawana hancur karena ulah kalian! Ulah kesewenang-wenangan kalian!"
"Hei Calakuta," kata Batara Guru. "Jangan hanya melihat sebuah peristiwa hanya dari satu sisi saja. Telaahlah lebih dalam apa dan bagaimana penyebab-penyebab terjadinya suatu peristiwa. Sehingga kita bisa mendapatkan proporsi yang pas dalam menilai dan memandang suatu peristiwa."
"Heh, omong kosong! Aku tak perduli dengan semua itu. Yang jelas kau adalah penyebab dari semuanya, adalah kau Sanghyang..." Calakuta berpikir sejenak memandang leher Batara Guru yang membiru. "Oh ya, Sanghyang Nilakanta, Si Leher Biru. Hmm, nama itu memang cocok untukmu Sanghyang Nilakanta, mulut yang pandai berkata-kata dan berbisa."
"Sanghyang Nilakanta?!" Batara Guru terkejut mendengar nama itu. Nama yang tak asing baginya. Sebuah nama yang sudah lama terlupakan. Sebuah nama yang menjadi kutuk, menjadi bala yang tak disangka-sangka. "Oh jadi ini kutukmu Ayahanda, pantas Lata Maosadi tidak mau bekerja." kata Sanghyang Guru bertekuk lutut menengadah menatap angkasa melepas Lata Maosadi yang digenggamnya. Menyesali takdir yang mendera tubuhnya.
"Hah apa?! Kau menangis? Hahahah... Sang penguasa Tribuana menangis?" cibir Calakuta.
"Kadang menangis dibutuhkan untuk meluapkan emosi." kata Batara Guru.
"Kau tak pantas menangis Batara! Ribuan... Tidak, bahkan mungkin jutaan nyawa telah menjadi korban dari racun ambisimu yang tak berkesudahan. Jutaan janda dan anak-anak telah menjadi yatim akibat peperangan yang dihembuskan mulut berbisamu. Aku akan membunuhmu agar mulut berbisamu tak lagi menghasut dan menyulut konflik peperangan."
"Oh, kau akan membunuhku? Baik, bunuh aku kalau kau mampu. Tapi yang jelas aku turut prihatin atas kehancuran kerajaanmu. Dan perlu kau tahu, kau dan rakyatmu hanya kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah. Dan bukan kebetulan kau menjadi garis nasib yang menyempurnakan takdir yang telah ditentukan. Takdir Sanghyang Nilakanta."
"Aaaahhh OMONG KOSONG!!!! Hiiiyyyaaa!!!!" Danghyang Calakuta bersungut-sungut menyongsong menyerang mencabut golok di pinggangnya, menghunus  ke leher Batara Guru yang biru. Batara Guru tampak pasrah, lemah dengan wajah memucat sepucat mayat. Namun tiba-tiba tubuh Calakuta serasa melemah hingga mematung tak mampu menebas leher sang penguasa Tribuana itu. meski sejengkal lagi mencapai sasaran.
"Sialan! Apa yang kau lakukan!!" Calakuta ambruk bertekuk lutut di hadapan Sanghyang Guru.

g membuat musuh bertekuk lutut karena aku menghisap tenaga dan energimu sampai kering. Dan pada akhirnya kau akan mati lemas karena kehabisan energi." terang Batara Guru.
"Hmm, sebenarnya aku bisa saja membunuhmu sekarang juga dan dengan mudah kudapatkan penawarnya di tubuhmu. Tapi sekarang aku sedang tak berselera untuk membunuh." Batara Guru berpikir sejenak. "Malah justru aku ingin mengampunimu, membangkitkan seluruh rakyatmu, membangun kembali kerajaanmu."
Calakuta terkejut mendengar ucapan Sanghyang Nilakanta.
"Sudah terlalu banyak nyawa yang melayang sia-sia hari ini..." Batara Guru memanggil Cupu Maya Usadi yang tiba-tiba muncul dalam Genggamannya. Ia lalu memetik sehelai ilalang dan melesat melayang di angkasa, Calakuta bengong memperhatikan apa yang dilakukan Sang Batara. Di angkasa Batara Guru mulai beraksi mencelupkan helai ilalang ke dalam Tirta Amerta  dalam cupumanik itu dan memercikkannya ke seluruh kawasan Gunung Jamur Dipa.
Kesejukan merebak begitu Tirta Amerta ditabur, titik-titik air kehidupan membasahi pepohonan, tanah, batu-batu, dan Jasad-jasad prajurit Kayangan yang terkapar bergelimpang. Ajaib! Pepohonan menumbuh merimbun membunga dan langsung membuah meranum masak, rerumput di tanah menyubur memanjang, batu-batu menghijau melumut. Pemandangan hijau menjadi lebih hijau, pemandangan indah menjadi lebih indah, pemandangan padang rumput nan asri, pemandangan hutan perawan. Perlahan prajurit-prajurit-prajurit Kayangan yang telah bergelimpang terkapar mengkaku menjadi mayat, bergerak dan bangkit celingukan sedikit kebingungan.
Calakuta yang menyaksikannya melongo bengong terheran-heran. Dari semak-semak muncul ribuan makhluk kecil yang membuatnya terkejut. Membuat senyumnya mengembang, sekaligus tangis yang pecah bersamaan. Suasana haru biru sekaligus tangis bahagia meledak-ledak mencampur baur, menyatu dalam padu begitu Calakuta melihat seluruh rakyatnya, keluarganya, istrinya yang telah tewas hidup kembali.
Batara Guru turun dari angkasa tersenyum memandang sinar kebahagiaan dari wajah Calakuta, raja siluman serangga. Calakuta menyesal dan bersujud bersumpah mengabdi di hadapan Sanghyang Guru. "Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, kau dan aku merupakan bagian dari garis takdir yang telah ditentukan." kata sang Batara.
Sementara para Batara yang sekarat dipulihkan dengan Lata Maosadi dan penawar dari Calakuta. Dengan pustaka itu juga Batara Guru membangun kembali Kerajaan Wisabawana, yang berganti nama menjadi Kayangan Wisabawana hanya dalam beberapa menit saja. Yang dipimpin raja siluman serangga yang diberi gelar Batara Calakuta.
Adapun Gunung Jamur Dipa yang konon menyebabkan miringnya tanah Pulau Jawa, dipenggal puncaknya oleh Cakra Sudarsana dan ditanamkan di sisi lain pulau untuk menyeimbangkannya secara bergotong royong...

Bersambung...

Baca Kisah 1 Wayang Purwa

Baca Kisah 2 Jonggring Salaka

Baca Kisah 3 Tribuana

Baca Kisah 4 Dara Wisa

Beri komen kritik dan saran, pendapatmu mengenai Wayang Saga, agar saya dapat berintrospeksi dan memperbaiki kualitas tulisan saya di kemudian hari, dengan tags #wayangsagaseries

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x