Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series (Eps 49)

13 Januari 2019   16:53 Diperbarui: 13 Januari 2019   17:27 0 1 0 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series (Eps 49)
Ilustrasi Batara Guru yang tergoda telaga wisa

Baca Kisah Sebelumnya

Kayangan Suralaya lebur diserang ribuan dara wisa. Seluruh warga Kayangan dipaksa eksodus ke pulau bertanah miring Pulau Jawa. Tak disangka ribuan dara wisa berbondong mengejar para Batara hingga gunung Jamur Dipa, gunung tertinggi di pulau itu. Dan datanglah sang Mpu Kayangan membawa senjata baru bernama Cakra Sudarsana, yang digunakan sang Wisnu membasmi burung-burung itu.... Nah bagaimanakah kisah selanjutnya? Ikuti terus kisahnya yang seru dalam tajuk KISAH 5 KUTUKAN SANGHYANG GURU, akan dimulai selamat menikmati.... Oleh : Jannuary Biru.

Pulau Bertanah Miring (part 1)

Di pesisir pulau bertanah miring, Pulau Jawa warga Kayangan mendirikan tenda-tenda dan dapur umum untuk memenuhi konsumsi seluruh warga Kayangan dalam pengungsian. Pesta kemenangan dirayakan dalam guyuran sinar purnama nan indah menguning cerah seperti bulatan kuning telur dalam telur mata sapi. Langit bening bersih menampakkan untaian gemintang laksana taburan permata biru menyebar melayang membuat malam tampak meriah semeriah pesta di bawahnya. 

Batari-batari cantik dari Kaindran diundang untuk menghibur seluruh warga Kayangan, mereka menari dan nyinden langgam-langgam berisi petuah dan sejarah tentang kemenangan-kemenangan yang membanggakan, diiringi sentuhan musik merdu mendayu-dayu dari seperangkat Gamelan Sekaten. Api-api unggun pun tampak ikut menari-nari menikmati musik bersama hewan-hewan tunggangan yang tersenyum-senyum menggerak-gerakkan leher mereka.

"Meskipun kita kalah dalam peperangan setidaknya kita telah berhasil mengalahkan burung-burung sialan itu." Batara Guru sang penguasa Tribuana memulai pidatonya. "Berkat anugerah dari Yang Maha Kuasa dan ide cemerlang putraku Ananda Wisnu kita telah berhasil mengalahkan burung-burung berbisa itu..." Setelah pidato yang cukup panjang itu selesai, mereka semua mengheningkan cipta mengenang dan mendoakan para pahlawan yang gugur di medan perang.

Sebelum melanjutkan pesta, Batara Guru juga mengumumkan diangkatnya Batara Anggajali menjadi Mpu Kayangan menggantikan ayahnya Batara Ramayadi,. Atas jasa-jasanya Anggajali dianugerahi Kerajaan Surati, sebuah kerajaan bangsa manusia, di tanah Hindustan yang bergelar Prabu Iwasaka, sebagai perwakilan Kayangan di Marcapada. Untuk selanjutnya ia diberi kepercayaan untuk membuat senjata-senjata sakti para Batara, diantaranya; Bajra tombak yang terbuat dari lidah petir milik Batara Indra. 

Busur Wijaya dan Zirah Matahari milik Batara Surya. Pedang Candrasa milik Batara Candra. Golok Sakti milik Batara Yamadipati. Keris Kaladhite dan Kalanadhah yang terbuat dari kedua taring Batara Kala. Panah Pasupati yang terbuat dari lidah Batara Kala. Panah Kuntawijaya Danu milik Batara Indra. Dan lain sebagainya.

Keesokan harinya Batara Guru berjalan-jalan menyusuri pesisir sembari bercakap-cakap dengan penasehatnya Batara Narada. "Rayi Prabu Batara sepertinya tanah pulau ini cenderung miring ke barat." kata Narada.

"Oh iya, begini ceritanya Kakang." kata Batara Guru. "Dulu, Kakang Antaga dan Ismaya bertempur berebut menjadi putra pertama. Lalu mendiang Ayahanda Sanghyang Tunggal barangsiapa yang bisa menelan dan memuntahkan kembali Gunung Jamur Dipa akan menjadi putra tertua. Kemungkinan saat mencabut gunung itu tenaga Kakang Antaga terlalu kuat hingga menarik tanah pulau ini sampai menjadi miring seperti ini."

"Oh gitu, lantas gimana caranya menyeimbangkan tanah pulau ini agar mudah ditinggali."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x