Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Wayang Saga Series (eps 47)

15 Desember 2018   16:32 Diperbarui: 15 Desember 2018   16:39 0 3 3 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series (eps 47)
Ilustasi Para Batara menahan laju dara wisa dengan Aji Panglimunan

Baca Kisah Sebelumnya

Kayangan Suralaya luluh lantak akibat serangan ribuan dara wisa. Hingga para Batara dan seluruh warga Kayangan terpaksa harus mengungsi ke Pulau Jawa. Namun semua itu belum berakhir...

Cakra Sudarsana (part 1)

Istana Jonggring Salaka Kayangan Suralaya di Puncak Tengguru, Pegunungan Himalaya, yang dibangga-banggakan Penguasa Tribuana, Batara Guru. Hancur meleleh dilamun zat asam yang terkandung dalam semburan racun ribuan ekor dara wisa yang menyerang Kayangan. Burung-burung ajaib yang tak bisa mati, mereka selalu menggandakan diri sesaat setelah mereka mati. Akibatnya bukannya berkurang, malah mereka kian berlipat-lipat semakin banyak.

Para Batara yang kewalahan akhirnya mereka memutuskan mengungsikan seluruh penghuni Kayangan ke pulau panjang bertanah miring, Pulau Jawa di seberang tenggara. Batara Bayu pun mencabut dan menggotong kedua balai kembar nan luas, seluas lapangan bola seorang diri. Membawanya melesat terbang berdirgantara ke angkasa.

Batara Ramayadi dan putranya Batara Anggajali yang tengah merampungkan senjata pusaka pesanan Batara Guru di atas mega Samudra Hindia melihat rombongan besar eksodus penghuni Kayangan yang lewat di kejauhan. Burung-burung dara wisa masih mengikuti mereka jauh di belakang ditahan lima Ksatria Batara mumpuni.

"Kita harus cepat merampungkan senjata ini, Putraku. Kita harus menolong mereka." kata Batara Ramayadi kepada putranya. Tak berapa lama dibawa terbang, para penghuni Kayangan berdecak melihat tempat tujuan mereka. Di kejauhan tampak sebuah pulau memanjang laksana bulan sabit kehijauan, lantaran terselimuti rimbunnya karpet hutan hujan perawan, membentang terapung-apung di atas Samudra Hindia. Ketika itu Pulau Jawa masih menyatu, memanjang dari Sumatra hingga Bali.

"Itu tujuan kita! Pulau Jawa!" seru sang  pemimpin Batara Narada menunjuk pulau panjang itu. Para Batara dan penghuni Kayangan berbondong-bondong mendaratkan kaki mereka di pesisir barat tanah Jawa, yang kini disebut sebagai pesisir Sumatra. Batara Bayu perlahan meletakkan dataran seluas lapangan bola, tempat Balairung kembar Marcupunda dan Kalamertaka yang dipanggulnya berdebam di atas tanah yang miring.

Tanpa merasa lelah Batara Bayu langsung melesat membantu saudara-saudaranya yang tengah bertempur menghambat dara-dara wisa sampai ke Pulau Jawa. Berbagai cara telah dilakukan, berbagai Ajian telah dijapa namun tak menyurutkan semangat burung-burung dara itu, malah justru kian menambah jumlah mereka.

"Apa yang harus kita lakukan Rayi? Mereka makin banyak!" seru Sambu kepada Wisnu.

"Biasanya kau punya ide-ide cemerlang di saat seperti ini." sambung Brahma.

"Iya Rayi!" Bayu yang datang membantu langsung mengerahkan Ajian andalannya Bayu Bajra.

"Aku belum tahu, Kakang." sahut Wisnu.

"Hei Bayu kau disini?" Indra menyapa saudaranya.

"Aku nggak mau melewatkan pesta meriah ini Kakang." sahut Bayu.

"Bayu apa semua warga Kayangan sudah aman?!" seru Surapati.

"Aman Eyang (kakek), mereka sudah sampai." sahut Bayu.

"Baguslah," gumam Surapati. "Oh iya, cucu-cucuku dengar! Eyang punya ide!" seru Surapati. "Kita sesatkan mereka dengan Aji Panglimunan."
Mereka berenam sepakat menjapa Aji Panglimunan, perlahan-lahan kabut tebal mulai muncul bergulung-gulung menirai menyelimuti tubuh mereka berenam. Membubung meninggi menggumpal menjadi seperti kumpulan awan besar, merayap menyelubungi seluruh kawanan dara wisa menjebak dan menyesatkan mereka semua. Mengakibatkan mereka semua berhenti mengejar.

"Itu akan menahan mereka... Untuk sementara." gumam Surapati,

"Kalau nggak bisa membunuh mereka, sesatkan mereka. Kenapa itu nggak terpikirkan olehku ya?" tukas Bayu yang ditimpali gelak saudara-saudaranya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2