Jannuary Biru
Jannuary Biru Nothing

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series (eps 46)

1 Desember 2018   15:05 Diperbarui: 1 Desember 2018   15:20 228 2 1
Wayang Saga Series (eps 46)
Ilustrasi sang Bayu bersiap-siap mengangkat balai kembar

Baca Kisah Sebelumnya

Serangan dara berbisa menghancurkan Kayangan, bahkan Batara Guru sendiri tak mampu mengatasinya. Atas saran Narada, warga Kayangan yang tersisa berbondong-bondong masuk ke Balai Mercupunda dan Kalamertaka. Dengan tenaganya, sang Bayu yang perkasa mengangkat dataran seluas dua kali lapangan bola itu di pundaknya seorang diri. Bersiap-siap melesat mengungsi ke Pulau Jawa. 

Serangan Dara Bisa (part 2)

Kepanikan masih terus terjadi, para Batara sibuk mengevakuasi seluruh warga Kayangan yang masih hidup, mereka berlarian berebutan masuk ke kedua Balairung yang ditunjuk sebagai titik evakuasi. Kedua Balairung kembar yang luasnya sekitar setengah lapangan bola itu tidak mampu menampung seluruh warga Kayangan. Begitu kedua balai itu penuh, dengan Kuku Pancanakanya yang sekuat baja Batara Bayu mengoyak tanah dan mencerabut kedua balai itu dari dataran dengan kedua tanganya, membopong dan memanggul dataran seluas lapangan bola itu di pundaknya yang kekar seorang diri. Batara Guru yang melihatnya pun tercengang-cengang.
"Kakang Sambu, kau bantu saja yang lain menghalau burung-burung sialan itu. Aku bisa melakukannya sendiri." kata Batara Bayu. Batara Sambu melesat ke pertempuran meninggalkan Bayu.
"Apa kau tak apa-apa Nak membopong dataran sebesar itu seorang diri." Narada menghampiri Batara Bayu.
"Ya, serahkan padaku, Paman." kata Bayu dengan senyum khasnya. Bayu pun terbang melesat membawa dataran itu dengan kecepatan tinggi seorang diri. Diikuti warga Kayangan lain yang tidak tertampung di kedua balai itu. Mereka beterbangan berbondong-bondong mengungsi ke seberang tenggara menuju pulau panjang bertanah miring, Pulau Jawa, menghindari gempuran dara wisa dipimpin Batara Narada.
"Aku tidak dapat membayangkan kalau ini benar-benar terjadi, mimpiku menjadi kenyataan..." gumam Batara Guru, sedih melihat istana kebanggaannya perlahan hancur dilamun racun. "Padahal aku berusaha keras agar bencana ini tidak terjadi."
"Untung tak mudah diraih, malang tak dapat ditolak. Itulah cara kerja apa yang disebut takdir." Batara Narada menghampiri Sanghyang Guru. "Seharusnya takdir seperti ini bisa kita hindari jika Rayi Prabu Batara tidak bersikeras menyerang Kerajaan Bani Isroil. Takdir merupakan serangkaian garis nasib yang dihubungkan oleh hubungan sebab dan akibat, yang harus kita pilih dan kita tentukan. Dan kita harus menerima segala konsekuensi dari apa yang kita pilih, yang disebut dengan takdir itu sendiri. Kalau Rayi Prabu Batara menyerang Kerajaan Bani Isroil, bencana ini kemungkinan besar takkan terjadi." jelas Narada.
"Jadi aku sendiri yang menyebabkan bencana ini terjadi!?" kata Batara Guru, Batara Narada mengangkat bahu tak mau menjawab. Ngeluyur pergi memimpin rombongan.
"Mungkin kau benar Kakang." gumam Batara Guru setelah berpikir sejenak. Sejak saat itu Penguasa Tribuana, Batara Guru menyesal dan tidak pernah lagi mengusik Kerajaan Bani Isroil dan Jazirah Persi. Serta tidak lagi memaksakan Agama kepada orang yang sudah beragama. Sementara Agama Dewa yang sudah terlanjur masuk ke Jazirah Persi, mereka semua hidup rukun saling menghormati dan berdampingan bersama Agama Nabi dengan damai.

Bersambung...

Baca kisah 1 Wayang Purwa

baca kisah 2 Jonggring Salaka

Baca kisah 3 Tribuana

Beri komen kritik dan saran, pendapatmu mengenai Wayang Saga, agar saya dapat berintrospeksi dan memperbaiki kualitas tulisan saya di kemudian hari, dengan tags #wayangsagaseries

Ini bukan kisah mitologi Hindu. Tapi ini merupakan kisah pewayangan yang jelas sangat berbeda dengan kisah mitologi Agama Hindu.

Wayang Saga Series kini hadir dua minggu sekali pada hari sabtu atau minggu antara pukul 16:00-19:00 Don't miss it. Terima kasih atas perhatiannya Wassalam.