Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series Eps 43

20 Oktober 2018   15:49 Diperbarui: 2 November 2018   23:35 0 1 0 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series Eps 43
Gambar wayang Ajisaka

Kelahiran Ajisaka

Tak terasa seminggu telah berlalu, suasana pengantin baru masih terasa mesra di dalam bilik pribadi Sang Putri. Sang Suami, Batara Anggajali tampak terjaga gelisah memandang cakrawala fajar yang menirai jingga dari balik jendela. 

"Ada apa Kanda? Kuperhatikan Kanda serius amat memandangi cakrawala fajar?" rangkulan mesra Sang Istri membuat Batara Anggajali sedikit terkejut. 

"Ooh, kamu Dinda. Apa aku telah membangunkanmu?" Dewi Saka Menggeleng pelan. "Seharusnya aku sekarang membantu Ayahku, Ayahanda Batara Ramayadi membuat senjata pusaka untuk menembus perisai badai pasir yang menyelimuti Kerajaan Bani Isroil."

"Oh gitu, kalau emang sekiranya tugas itu amat penting, berangkatlah Kanda. Kami berdua akan selalu setia menunggumu disini."

"Berdua?" Batara Anggajali berbalik dengan ekspresi terkejut yang sangat. Dengan wajah yang penuh kegembiraan diiringi senyum lebar merekah-rekah. Melihat Sang Istri mengelus-elus perutnya seraya tersenyum simpul penuh arti. 

"Kamu...? Apa kamu....?" bagai tersengat lebah, Batara anggajali berjingkrak kegirangan memeluk Sang Istri dan membopongnya penuh sukacita. "Yeahh...! Sebentar lagi aku akan jadi ayaahhh..." Betapa gembiranya Batara Anggajali menyambut berita kehamilan Sang Istri. Dewi Saka sedikit meronta melepaskan pelukan erat Sang Suami. 

"Oh iya maaf, maaf heheheh..." dengan penuh kelembutan Batara Anggajali menurunkan bopongan dan melepas peluknya, berganti dengan berulang-ulang menciumi dan menempelkan telinganya di perut Sang Istri, seolah merasakan sesuatu, merasakan detak jantung si kecil. "Kok nggak ada suaranya yah." 

"Belum, 'kan baru seminggu."

"Oh iya yah heheheh."

Setelah mendapat do'a restu dari Sang Mertua, Prabu Sakil. Dengan berat hati, hari itu juga Batara Anggajali berangkat menuju Samudra Hindia untuk melanjutkan tugasnya membuat senjata pusaka. "Jagalah Ibundamu ya nak, Ayah berjanji akan segera kembali." setelah mengucapkan salam perpisahan, seiring melayangnya kecupan sayang di kening, melayang pula Batara Anggajali melesat terbang menuju Samudra Hindia. Meninggalkan air mata dan isak tangis tentunya.

Sesampainya disana, Batara Anggajali hanya ditugaskan untuk fokus membuat dua senjata Pusaka pesanan Batara Guru, Cakra Sudarsana dan Tumbak Kyai Cis Jaludara. Dikarenakan proses pembuatan 100.000 bilah senjata sudah hampir rampung...

Sementara itu di suatu tempat di Kerajaan Najran, Dewi Saka yang tengah hamil tua menengadah memandang langit menanti kedatangan Sang Suami, Batara Anggajali, seraya mengelus-elus perutnya yang membesar. 

"Sudahlah Nduk,(sebutan anak perempuan dalam bahasa Jawa), jangan kau pandangi langit itu lagi, nanti dia malu karena kau pandangi terus setiap hari." kata Prabu Sakil, menghibur hati putrinya yang tengah gulana. "Sudahlah Putriku, sudah setahun lebih ia tak kembali. Padahal dengan kesaktiannya mudah saja baginya untuk datang dan menengok kita disini."

Baca Kisah Sebelumnya

Batara Anggajali yang menyelamatkan Prabu Sakil dari ganasnya Samudra Hindia. Mengantar Prabu Sakil yang memaksa pulang ke negerinya, lantaran khawatir dengan keadaan putri Dewi Saka dan negerinya yang diamuk perang. Kekhawatiran sang raja itu ternyata negeri dan putrinya dalam keadaan aman, melihat sang putri sangat tertarik pada Batara Anggajali. Dengan senang hati Prabu Sakit menikahkan mereka berdua.

Kelahiran Ajisaka

Tak terasa seminggu telah berlalu, suasana pengantin baru masih terasa mesra di dalam bilik pribadi Sang Putri. Sang Suami, Batara Anggajali tampak terjaga gelisah memandang cakrawala fajar yang menirai jingga dari balik jendela. 

"Ada apa Kanda? Kuperhatikan Kanda serius amat memandangi cakrawala fajar?" rangkulan mesra Sang Istri membuat Batara Anggajali sedikit terkejut. 

"Ooh, kamu Dinda. Apa aku telah membangunkanmu?" Dewi Saka Menggeleng pelan. "Seharusnya aku sekarang membantu Ayahku, Ayahanda Batara Ramayadi membuat senjata pusaka untuk menembus perisai badai pasir yang menyelimuti Kerajaan Bani Isroil."

"Oh gitu, kalau emang sekiranya tugas itu amat penting, berangkatlah Kanda. Kami berdua akan selalu setia menunggumu disini."

"Berdua?" Batara Anggajali berbalik dengan ekspresi terkejut yang sangat. Dengan wajah yang penuh kegembiraan diiringi senyum lebar merekah-rekah. Melihat Sang Istri mengelus-elus perutnya seraya tersenyum simpul penuh arti. 

"Kamu...? Apa kamu....?" bagai tersengat lebah, Batara anggajali berjingkrak kegirangan memeluk Sang Istri dan membopongnya penuh sukacita. "Yeahh...! Sebentar lagi aku akan jadi ayaahhh..." Betapa gembiranya Batara Anggajali menyambut berita kehamilan Sang Istri. Dewi Saka sedikit meronta melepaskan pelukan erat Sang Suami. 

"Oh iya maaf, maaf heheheh..." dengan penuh kelembutan Batara Anggajali menurunkan bopongan dan melepas peluknya, berganti dengan berulang-ulang menciumi dan menempelkan telinganya di perut Sang Istri, seolah merasakan sesuatu, merasakan detak jantung si kecil. "Kok nggak ada suaranya yah." 

"Belum, 'kan baru seminggu."

"Oh iya yah heheheh."

Setelah mendapat do'a restu dari Sang Mertua, Prabu Sakil. Dengan berat hati, hari itu juga Batara Anggajali berangkat menuju Samudra Hindia untuk melanjutkan tugasnya membuat senjata pusaka. "Jagalah Ibundamu ya nak, Ayah berjanji akan segera kembali." setelah mengucapkan salam perpisahan, seiring melayangnya kecupan sayang di kening, melayang pula Batara Anggajali melesat terbang menuju Samudra Hindia. Meninggalkan air mata dan isak tangis tentunya.

Sesampainya disana, Batara Anggajali hanya ditugaskan untuk fokus membuat dua senjata Pusaka pesanan Batara Guru, Cakra Sudarsana dan Tumbak Kyai Cis Jaludara. Dikarenakan proses pembuatan 100.000 bilah senjata sudah hampir rampung...

Sementara itu di suatu tempat di Kerajaan Najran, Dewi Saka yang tengah hamil tua menengadah memandang langit menanti kedatangan Sang Suami, Batara Anggajali, seraya mengelus-elus perutnya yang membesar. 

"Sudahlah Nduk,(sebutan anak perempuan dalam bahasa Jawa), jangan kau pandangi langit itu lagi, nanti dia malu karena kau pandangi terus setiap hari." kata Prabu Sakil, menghibur hati putrinya yang tengah gulana. "Sudahlah Putriku, sudah setahun lebih ia tak kembali. Padahal dengan kesaktiannya mudah saja baginya untuk datang dan menengok kita disini."

"Mungkin ia ada tugas lain yang tak bisa ia tinggalkan, Ayah." kilah Sang Putri.

"Perang sudah lama usai, pasukan Kayangan pun telah ditarik semuanya. Meninggalkan para Resi dan pemuka Agama yang melanjutkan dakwah mereka. Mungkin ia sudah melupakan kita, atau kemungkinan yang kedua... Ia mungkin telah menikah lagi. Ia 'kan seorang lelaki wajar kalau ia memiliki lebih dari satu istri.

"Ya mungkin... Mungkin Ayah benar." kata Dewi Saka mengambang bimbang. Sejak saat itu Dewi Saka benar-benar sudah melupakan suaminya, Batara Anggajali. Kini dia fokus menjaga kehamilannya. 

Kehamilan yang janggal, mencapai usia kehamilan lebih dari setahun. Sebuah masa kehamilan yang tak umum bagi manusia. Berbagai macam tabib dan dukun (bidan) telah didatangkan untuk memeriksa kehamilan Dewi Saka. Namun jawaban mereka selalu sama; "Ibu jangan kuatir, anak Ibu sehat dan kuat. Tak ada yang salah kok."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2