Jannuary Biru
Jannuary Biru Nothing

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series Eps 42

7 Oktober 2018   15:22 Diperbarui: 7 Oktober 2018   15:31 769 1 0
Wayang Saga Series Eps 42
Gambar wayang Anggajali

Baca Kisah Sebelumnya

Sang Mpu Kayangan Batara Ramayadi dan putranya Anggajali yang ditugaskan membuat senjata pusaka di Samudra Hindia dikejutkan seorang pria pingsan mengapung di tengah laut. Setelah tersadar pria yang mengaku sebagai Prabu Sakil, raja dari Negeri Najran terkejut mendengar Jazirah Pergi telah diserang para Batara. Ia sangat mengkhawatirkan nasib negerinya. Apa yang akan dilakukan Prabu Sakil... Simak kisah lanjutannya ya, selamat menikmati...

"Sayangnya separuh Jazirah Persi sudah ditaklukkan para Batara, tentu saja dengan mengedepankan langkah diplomasi terlebih dulu. Kalau membangkang barulah pasukan Kayangan siap menyerang. Kemungkinan termasuk Kerajaan Anda, Kerajaan Najran." kata Batara Anggajali dengan nada penuh keprihatinan yang mendalam, menepuk bahu Prabu Sakil.

"Apa?! Para Batara menyerang Jazirah Persi? Apa salah Negeri kami? Setahu saya, selama ini Negeri-negeri di Jazirah Persi, termasuk Negeri kami tak pernah ada urusan dengan Negeri Kayangan. Kenapa kalian para Batara tega menyerang kami, menyerang bangsa manusia yang lemah?" kata Prabu Sakil menggebu-gebu.

"Kami hanya ingin menyebar luaskan ajaran dan Agama kami yang penuh cinta dan keluhuran di dataran Persi, terutama Kerajaan Bani Isroil. Dengan menguasai dan menaklukkan Negeri-negeri di Jazirah Persi, akan mempermudah Agama kami untuk masuk dan memberikan ajaran kebaikan kepada seluruh manusia di Jazirah Persi." terang Batara Anggajali.

"Oh gitu, kalau hanya untuk menyebarkan ajaran Agama tidak perlu menyerang dan menjajah Negeri kami 'kan, kalian bisa berdakwah mengadakan mimbar-mimbar umum secara damai 'kan."

'Kan tadi sudah saya bilang, perang merupakan langkah terakhir setelah diplomasi dilakukan. Siapa yang tidak menuruti perintah dan menolak Agama kami memasuki Negerinya, barulah mereka diperangi. Lagian setelah penaklukan selesai, nantinya kekuasaan akan dikembalikan ke pewaris yang sah." jelas Batara Anggajali.

"Biar bagaimanapun alasannya perang adalah jalan yang salah. Perang hanya menimbulkan kematian dan penderitaan."

"Ya benar kalau itu saya setuju. Tapi sabda telah jatuh, titah telah terlaksana. Apa mau dikata, kita tidak mungkin membalikkan waktu."

"Saya jadi kuatir bagaimana nasib Kerajaan saya, bagaimana nasib rakyat saya, nasib putri saya. Pokoknya saya harus pulang sekarang juga." dalam keadaan lemah Prabu Sakil mencoba bangkit dan berjalan tertatih.

"Jangan bangun dulu Tuan, kondisi Anda masih lemah." kata Anggajali, menahan Prabu Sakil "Paling tidak tunggu beberapa hari lagi Tuan, tunggu saat kondisi Anda pulih betul. Tapi untuk saat ini maaf sekali Tuan, saya takkan mengizinkan Anda pulang. Kondisi Anda sama sekali tidak memungkinkan berlayar seorang diri. Apa lagi ditengah cuaca seperti ini."

"Tapi bagaimana dengan putri saya?" Prabu Sakil tak mengindahkan Batara Anggajali. Ia bersikeras memaksakan diri tertatih keluar dari pesanggrahan, menuju bibir pantai di tengah angin ribut yang membadai. Diikuti Batara Anggajali yang berusaha mencegahnya.

"Saya tak mau kehilangan Dewi Saka, putri saya satu-satunya." Prabu Sakil terus berjalan tertatih menuju dermaga kecil, beberapa perahu kecil tertambat di sana. 

"Dia kini adalah satu-satunya keluarga saya. Setelah istri saya...Tenggelam bersama bersama seluruh kru yang lain... Saya telah berjanji akan membawanya berlayar tahun depan..." sepasang mata Prabu Sakil memerah saga berkaca-kaca mengingat tragedi yang menewaskan istrinya, seraya melepaskan salah satu tambatan perahu.

"Tuan Sakil janganlah berkeras hati. Putri anda pasti diperlakukan dengan baik, jangan kuatir Tuan." seru Anggajali lamat-lamat, suaranya kalah oleh deru angin yang membadai.

"Meskipun begitu, saya ingin memastikannya sendiri, Tuan Batara. Perasaan saya takkan tenang sebelum saya melihatnya sendiri." Prabu Sakil mendorong perahu yang sudah dilepasnya ke tengah laut dan menaikinya.
"Oh begitu, tapi setidaknya tunggu sampai badai ini mereda, Tuan!"

"Tidak Tuan Batara! Lebih cepat berangkat lebih cepat pula sampai. Saya tak mau melihat putriku tewas di medan perang!" Prabu Sakil mulai mendayung perahunya melawan badai. "Terimakasih atas segalanya Tuan Batara! Saya takkan melupakan budi baik Tuan!"

"Kalau ia berlayar di tengah cuaca seperti ini, ia sendiri bisa tewas." batin Batara Anggajali. "Baiklah..." Anggajali melesat ke angkasa menuju awan tempat Sang Ayah membuat senjata. Prabu Sakil tampak kebingungan melihat apa yang terjadi. Tak berapa lama Batara Anggajali muncul dari balik awan melayang menghampiri perahu  Prabu Sakil yang bersusah payah mendayung perahunya di tengah badai.

"Cinta memang buta ya?" kata Batara Anggajali.

"Ya, tak peduli badai menerjang. Mata ini tertutup oleh keindahan." sahut Prabu Sakil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4