Jannuary Biru
Jannuary Biru Nothing

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series Eps 42

23 September 2018   16:48 Diperbarui: 6 Oktober 2018   10:21 315 0 0
Wayang Saga Series Eps 42
Gambar wayang Batara Anggajali

Baca Kisah Sebelumnya

Penyerangan para Batara yang gagal menembus badai pasir yang menyelimuti Kerajaan Bani Isroil, membuat Batara Guru memutar otak dan memanggil Mpu Kayangan, Batara Ramayadi dan putranya Batara Anggajali untuk membuat senjata pusaka yang baru selama satu bulan ke depan. Bisakah mereka senjata yang mampu menembus perisai badai pasir. Kita simak saja kisahnya yang seru selamat menikmati...


Pernikahan Batara Anggajali; part 1

Ombak bergulung-gulung ke tengah Samudra Hindia nan ganas. Tempiasnya menerjang menghantam bebatu karang purba yang berdiri kokoh tak tergoyahkan di pinggir pantai pasir putih nan asri. Dedaunan pohon-pohon nyiur yang menjulang tinggi menari melambai-lambai diterpa sepoi angin pagi. Fajar menyingsing di cakrawala, meniraikan tinta emas jingga di kaki langit membayang menyatu bersenggama dengan samudra.

Burung-burung camar mulai keluar dari sarang menari melayang menyambut segarnya udara pagi. Tampak di kejauhan, siluet dua Batara tengah menempa dan membentuk besi-besi purba menjadi berbagai macam senjata pusaka duduk bersila tenang melayang di atas mega. 

Sudah beberapa hari Mpu Kayangan, Batara Ramayadi dan putranya Batara Anggajali menyepuh dan menempa besi-besi purba membentuk dan membuat berbagai senjata pusaka dengan kesaktian dan tenaga dalam mereka. Tanpa menggunakan alat, palu godam ataupun tungku api yang menyala-nyala mereka hanya duduk tenang bersila di atas mega membentuk dan memijit-mijit potongan-potongan besi itu menjadi berbagai senjata pusaka atas perintah Sang Penguasa Tribuana, Batara Guru. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Cukup dengan menatapnya saja, Batara Ramayadi mampu melelehkan kerasnya lempengan-lempengan besi itu, membentuk menyepuh lelehan besi yang masih membara menjadi bilah-bilah senjata yang masih kasar dengan tangannya sendiri, seperti tanah liat. 

Bilah senjata yang masih kasar itu ia berikan kepada putranya, Batara Anggajali yang memijit-mijitnya penuh perasaan menjadikannya sebuah karya seni nan indah. Sebelum mencelupkan dan mendinginkannya ke dalam Samudra Hindia. Dan diambil murid-murid Batara Ramayadi yang menunggu di bawah, setiap dua hari sekali datang menggunakan perahu-perahu kecil. Kemudian senjata-senjata itu dibawa ke pesisir pantai, untuk diberi gagang dan sarung.

"Guru Mpu Ramayadi butuh ketenangan dan konsentrasi penuh dalam membuat senjata. Apa lagi senjata sebanyak ini, itu sebabnya beliau menugaskan kita untuk datang kesini dua hari sekali saja untuk mengambil senjata-senjata yang sudah jadi. Itupun saat beliau beristirahat memulihkan diri selama lima belas menit." kata salah seorang murid yang datang mengambil ribuan bilah-bilah senjata dari dasar laut dengan kesaktiannya. Hanya dengan pemusatan energi di satu tangan senjata-senjata melayang sendiri ke atas perahu-perahu mereka, tanpa perlu bersusah payah berenang dan menyelam.

"Dalam dua hari saja mereka mampu membuat senjata sebanyak ini, wah hebat banget Guru kita yah." sahut murid yang lain.

"Itulah kehebatan Guru kita yang takkan pernah bisa ditandingi murid-muridnya. Bayangkan, besi-besi meleleh hanya dengan sekali pandang. Tak mengherankan dalam dua hari dapat menghasilkan 5.000 bilah senjata lebih." jelas murid lainnya.

"Kenapa membuat senjata pusaka harus di Samudra Hindia, Kakang?" tanya seorang murid junior kepada seniornya.

"Sejak dulu Samudra Hindia memang tempat yang paling cocok dalam membuat senjata pusaka Kadewatan. Disini, di lautan ini. Suhu air dan kecepatan anginnya sangat sempurna untuk pembuatan dan pendinginan baja bilah-bilah senjata pusaka yang mumpuni. Hampir seluruh senjata pusaka Kayangan dibuat disini." sahut Sang Senior.

Keesokan harinya Samudra Hindia tampak menyepi hanya ada beberapa burung camar yang sesekali datang berseliweran mencari ikan. Mpu Kayangan dan putranya masih sibuk berkonsentrasi membentuk dan membuat bilah-bilah senjata pusaka yang sempurna.

"Ayah lihat disana! Sepertinya ada sesuatu yang mengambang di lautan." seru Batara Anggajali menunjuk sebuah titik kecil mengambang, menyembul-nyembul di tengah ganasnya gelora ombak Samudra Hindia.

"Iya, sepertinya itu mayat deh. Cepat kau periksa dia, putraku." setelah diamati lebih dekat ternyata benar, titik hitam itu merupakan mayat seorang pria berpakaian bangsawan yang mengambang tak sadarkan diri. Memeluk sebilah papan di tengah lautan. Batara Anggajali turun dan memeriksa mayat itu.

"Sepertinya  dia masih hidup, Ayah!" sahut Anggajali.

"Tolong dia putraku, bawa dia ke pantai."

"Baik Ayah." Batara Anggajali terbang melesat membopong jasad pria muda itu ke bibir pantai. Diletakkannya di sebuah dipan, di halaman sebuah pesanggrahan sederhana. Setelah beberapa kali Anggajali memompa dada dan memberi nafas buatan untuk mengeluarkan air yang memenuhi lambungnya, perlahan sepasang mata pria itu mengerjap-ngerjap dan tersadar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3