Jannuary Biru
Jannuary Biru Nothing

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series Episode 39

3 Agustus 2018   15:38 Diperbarui: 3 Agustus 2018   15:41 544 0 0
Wayang Saga Series Episode 39
Ilustrasi badai pasir yang menyelimuti Kerajaan Bani Isroil//holylandphotos.wordpress.com

baca Kisah Sebelumnya

Mimpi dan ambisi Batara Guru ditentang putranya sendiri Batara Wisnu. Yang meninggalkan Sidang Agung sebagai bentuk tubuh protes. Bukan hanya Wisnu sendiri dan sebagian Batara lainnya. Tapi sang penasehat sekaligus sahabatnya Narada pun meninggalkannya. Apa yang akan terjadi selanjutnya... Simak terus kisahnya yang makin seru. Selamat menikmati... 

PANDITA USMANAJID part 1

Tiga hari kemudian, berangkatlah 10.000 pasukan Kayangan yang dipimpin Batara Sambu sebagai Senopati Kayangan, alias Panglima tertinggi. Ia mengemban tugas menyebarkan Agama Dewa ke seluruh Kaum Bani Isroil, sekaligus menyerang dan menguasai Jazirah Persi, khususnya Kerajaan Bani Isroil. 

Dibahanbakari oleh dendam ratusan tahun silam, ketika Kayangan Malwadewa dihancurleburkan Nabi Sulaeman, pasukan Kayangan amat bernafsu membumihanguskan Jazirah Persi. Meski diperingatkan Sang Senopati; "Kalian jangan membunuh orang yang tak bersenjata, serta anak-anak dan wanita! Ingat itu baik-baik!" perintah Batara Sambu. 

Batara Sambu dan ketiga adiknya tak dapat mengontrol dan mengawasi penuh ribuan pasukan, walau dibantu beberapa Batara lainnya yang tersebar ke segala penjuru, negeri-negeri, kota-kota, bahkan sampai ke pelosok desa ada, saja satu dua orang pasukan bertindak berlebihan.

Beberapa negeri di kawasan Jazirah Persi telah jatuh, hanya dalam waktu beberapa hari saja. Tak mengherankan karena mereka menghadapi kekuatan para Batara yang sakti mandraguna, tak dapat ditandingi manusia biasa. Sudah beberapa hari para Batara tidak dapat menembus amukan badai pasir nan ganas yang seperti menyelimuti Kerajaan Bani Isroil mengepung segala penjuru, seolah melindungi Negeri Para Nabi itu. Negeri sasaran utama para Batara itu malah tak tersentuh sedikitpun.

Dari segala arah para Batara berusaha menembus dan menyerang dengan mengerahkan kesaktian mereka negeri itu, namun hasilnya tetap nihil. "Bagaimana kita bisa menembusnya Kakang? Badai pasir ini sangat kuat, bahkan Aji Bajraku tak dapat menembusnya." kata Batara Bayu, Sang Penguasa Angin sendiri dibuatnya kebingungan.

"Ini seperti benteng alami yang menyelimuti seluruh negeri, bahkan pasukan Kayangan dibuatnya kalangkabut," kata Batara Indra kesal.

"Sepertinya kita terlalu meremehkan Kaum Bani Isroil Kakang. Apa yang harus kita lakukan?" tak berapa lama setelah Batara Brahma menyelesaikan kalimatnya. Tampak kumparan angin kecil muncul dari tengah negeri. Perlahan tapi pasti, kumparan angin bercampur pasir itu memusar, membesar, meliuk membeliung membadai menghancurkan menghempaskan segala yang dilewatinya, termasuk para Batara dan seluruh pasukan Kayangan yang berusaha menembus amukan badai pasir.

Batara Bayu menjapa Aji Bayu Bajra memunculkan badai tornado tandingan, membeliung sama besar. Menabrakkannya untuk menahan laju badai tornado pasir yang terus membesar. Dua tornado saling beradu, memorak-porandakan kota-kota yang dilewati dua tornado itu. Kehancuran tak dapat dihindari, meski seluruh negeri terlindungi ganasnya badai pasir. 

Tornado pasir kian membesar dan meluas, mengganas mengalahkan Aji Bayu Bajra. Batara Bayu sendiri terpelanting terhempas bersama para Batara lainnya, sejauh puluhan meter ke luar Kerajaan Bani Isroil. Para Batara saja sampai kewalahan seperti itu, apa lagi tentara biasa. Mereka terluka dalam, bahkan sampai ada beberapa yang palastra (tewas).

"Mundur semuanya! Kita mundur dulu, mengatur strategi yang lebih matang." seru Sang Komandan Tertinggi, Sang Senopati Kayangan Batara Sambu. Melihat situasi yang tidak memungkinkan untuk melakukan penyerangan.

Si kembar Batara Aswan dan Aswin, yang bertugas sebagai tabib Kayangan sibuk mengobati tentara Kayangan yang terluka, di tenda pengobatannya. Putra-putra Batara Sumeru alias cucu Sanghyang Taya ini juga mengobati warga-warga sipil, atau tawanan perang yang terluka. Seraya berdakwah memperkenalkan Agama Dewa. Ramuan yang mereka buat sangat ampuh dan mujarab, luka-luka sayatan senjata tajam dan luka dalam, semua sembuh mengering secara ajaib dalam hitungan menit.

Sementara itu di Paseban Agung Istana Jonggring Salaka, Batara Guru tampak geram mendengar kabar kekalahan pasukan Kayangan dari seorang utusan. "Apa!? Mereka dikalahkan badai pasir dan puting beliung?! Ini tidak masuk akal. Sama sekali tak masuk akal! Mana mungkin putra-putraku bisa kalah oleh angin? Sepertinya kita terlalu meremehkan Kaum bani Isroil. Apa pendapat kalian Keponakanku?" kata Batara Guru pada dua keponakannya, Batara Temburu Sang Kebayan dan Wrahaspati yang dikenal bijak, sebagai guru para Batara. Pengganti Batara Narada yang menolak berdiskusi jika membahas soal penyerangan ke Kerajaan Bani Isroil.

"Ya memang kita terlalu meremehkan Kaum Bani Isroil yang hanya manusia biasa. Bangsa yang terkenal kuat memeluk Agama dan keyakinan mereka. Sepertinya serangan fisik saja takkan mampu menggoyahkan keimanan mereka." jelas Batara Wrahaspati. "Ditambah adanya dua pemuka Agama sakti yang bernama Pandita Usmanajid dan putranya Pandita Usmanaji, yang berdoa dan mendatangkan puting beliung serta badai pasir yang amat kuat, yang seolah membentengi dan melindungi Kerajaan itu sepanjang waktu."

"Tak seorangpun yang mampu menembusnya?" kata Batara Temburu. "Bahkan Aji-aji dan senjata para Batara pun seolah tumpul menghadapi badai pasir yang ganas itu."

"Apa aku sendiri yang harus turun tangan, heh?!" Batara Guru jengkel.

Bersambung... 

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2