Jannuary Biru
Jannuary Biru Nothing

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series Episode 37

7 Juli 2018   04:29 Diperbarui: 7 Juli 2018   04:42 722 0 0
Wayang Saga Series Episode 37
Ilustrasi Batara Guru yang terjaga dari tidurnya

Baca kisah sebelumnya

Batara Wisnu melemparkan Tirta Sakti Wisa, bersama wadahnya yang diikat jalinan Ilalang Wesi ke Dewi Kadru sang ratu ular. Setelah Dewi Winata bebas dari perbudakan, dan memutuskan untuk bertapa. Garuda Aruna menerima gelar sebagai Garuda Kencana, bernama Garuda Bhirawan. 

Kisah ini juga merupakan penutup dari rangkaian Kisah 3 Tribuana yang seru. Sekarang saatnya kita lanjutkan ke bagian 4 dari Wayang Saga yang bertajuk Dara Wisa. Yang mengisahkan penyerangan Kayangan ke Jazirah Persi, yang dibalas dengan serangan ribuan burung dara berbisa hingga memporak-porandakan Suralaya. Dan para Batara pun dipaksa untuk mengungsi ke Pulau Jawa. nah bagaimanakah kisahnya?? Makanya pantengin terus kisahnya oke Don't miss it... 

MIMPI SANG PENGUASA, part 1

Rembulan tampak samar tersaput kabut tipis menirai menenggelamkan Istana Jonggring Salaka, Kayangan Suralaya. Menjadikan malam yang kelam, tampak kian muram. Semilir menghembus dingin menyapa jendela-jendela dan pintu kencana Pesanggrahan pribadi Sang Penguasa Tribuana, Batara Guru. Tampak Sanghyang Jagatnata yang terjaga berdiri mematung di tepi jendela yang terbuka, memandang hamparan taman bunga istana nan luas. 

"Akhir-akhir ini saya lihat Kanda Prabu Batara sering terjaga. Apakah persiapan perang benar-benar menguras energi dan pikiran Kanda, sehingga mengganggu  tidur Kanda Prabu?" dengan mesra Dewi Uma menyelimuti, memeluk tubuh kekar suaminnya dari belakang. Pasutri itu kini berdiri berbagi selimut yang terbuat dari kulit beruang, menepis semilir dingin di tepi jendela. 

"Ah Dinda Uma, sepertinya aku mengganggu tidurmu ya?"

"Ah nggak kok. Saya cuma mau menemani suami saya."

*Oh gitu, terimakasih Dinda. Aku memikirkan kata-kata Nanda (sebutan anak) Wisnu sebulan bulan lalu, saat aku mengutarakan mimpi dan rencanaku untuk menyerang dan menyebarkan Agama Dewa di Kerajaan Bani Isroil."

"Oh yang itu."

"Ya, kupikir kata-kata itu ada benarnya. Selain itu, tiga hari lalu aku bermimpi didatangi mendiang Ayahanda Sanghyang Tunggal. Beliau berpesan, agar aku jangan sekali-kali mengganggu Kaum Bani Isroil. Dan anehnya kata-katanya itu persis sama dengan apa yang dikatakan Nanda Wisnu. Katanya, biarlah mereka memeluk Agama mereka. Jangan sekali-kali kau mencampuri, apa lagi memaksakan kehendak dan Agama pada mereka yang sudah beragama, itu sama sekali jalan yang salah. Apa pendapatmu mengenai hal ini Dinda?" kata Batara Guru alias Sanghyang Jagatnata.

"Itu adalah peringatan yang keras, Kanda." sahut Dewi Uma. "Sebaiknya Kanda mengurungkan niat Kanda untuk menyerang Kerajaan Bani Isroil."

"Nggak mungkin Dinda. Aku nggak mungkin menyerah sebelum mencoba. Lagipula titah sudah diturunkan, mana mungkin aku mencabut sabdaku sendiri." 

"Sebuah kata-kata bisa saja salah. Sebuah sabda bisa saja dicabut karena suatu alasan. Kanda 'kan seorang Raja, apa seorang Raja nggak boleh melakukan kesalahan?"

"Justru karena aku seorang Raja, aku nggak boleh melakukan kesalahan. Sabda seorang Raja adalah hukum, titahnya adalah mutlak harus di laksanakan. Bagiku seorang Raja harus sempurna, nggak mungkin 'kan, menjilat ludah yang terlanjur jatuh."

"Baiklah, terserah Kanda saja. Sebagai istri, saya cuma bisa menasehati agar Kanda tidak sampai melenceng jauh dari jalan kebenaran."

"Aku nggak akan  melenceng dari jalan yang seharusnya."

"Saya percaya. Saya percaya Kanda." Batara Guru membelai-belai rambut Dewi Uma nan legam. Mereka berdiri berpeluk mesra di tepi jendela, hingga fajar menyingsing keemasan dari ufuk timur, menggantikan selimut kemuraman malam. 

Sebulan sebelumnya, di pagi yang cerah itu, di Paseban Agung, aula Kedaton Istana Jonggring Salaka, Kayangan Suralaya. Para Batara berkumpul menghadap undangan Sang Penguasa Tribuana, Sanghyang Jagatnata.

"Agama Dewa kini telah berkembang pesat, hampir separuh dunia dari berbagai bangsa, orang-orang mulai tahu dan menganut Agama Dewa yang penuh keluhuran budi ini." Kata Batara Guru. "Beberapa abad silam, pernah terjadi bencana besar yang mengakibatkan Kayangan Malwadewa menjadi puing-puing. Bencana itu bukanlah bencana biasa, bencana itu diakibatkan oleh orang suci dari Jazirah Persi, Raja dari Kerajaan Bani Isroil, Nabi Sulaeman. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3