Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga [Series Episode 35]

12 Mei 2018   17:38 Diperbarui: 12 Mei 2018   18:47 0 2 0 Mohon Tunggu...
Wayang Saga [Series Episode 35]
ilustrasi Batara Wisnu mencari Ilalang Wesi (Debi K (@debikurnia_))

Baca Kisah Sebelumnya

Garuda Aruna putra Winata tak terima ibunya diperlakukan sebagai budak oleh Dewi Kadru saudarinya sendiri. Dewi Kadru lalu menceritakan kenapa Winata sampai dijadikan budak, tentu saja cerita itu tidak sepenuhnya benar. Dengan cara licik Kadru memperdaya Winata. Nah apakah yang akan dilakukan Garuda Aruna untuk lebih membebaskan sang ibu dari perbudakan? Nah simak kisah lanjutannya yang seru selamat menikmati...

Kisah Garuda, part 1

"Benarkah Ibu nggak mau pergi?" Winata mengangguk pelan, merespon pertanyaan putranya Garuda Aruna. "Lalu apa yang harus kulakukan untuk membebaskan Ibu dari perbudakan?! Percuma aku menjadi Raja kalau aku nggak bisa membebaskan Ibu!" dengan penuh amarah Aruna melempar mahkotanya hingga terjatuh ke tanah, di bawah pohon beringin raksasa tempat ibunya bersarang.

Dewi Winata terbang melesat mengambil mahkota putranya, dan kembali menyematkan mahkota itu ke kepala putranya seraya terisak bercucur  air mata dan berkata; "jangan pernah kau buang lagi kebanggaanmu Nak. Jangan pernah lagi kau buang kebanggaan Ibu, kebanggaan Bangsa kita, Bangsa Garuda." Aruna ikut terisak, dadanya naik-turun menahan emosi. 

"Ibu nggak bisa pergi Putraku, Ibu sudah terikat pada takdir. Sudahlah ibu nggak apa-apa kok." lanjut Winata.

"Takdir? Takdir bisa dirubah dengan usaha kita sendiri Ibu!" kata Aruna. "Lagian ini bukan takdir, ini hanya siasat licik Bibi Kadru yang sempurna, siasat Bangsa Ular yang bermuka dua."

"Oh ya?! Apa buktinya?" sanggah Dewi Kadru. 

"Aku bisa membuktikan kelicikan kalian, kalau aku mau! Aku yakin Ibu juga sudah tahu, tapi demi menjaga perasaan saudari yang amat disayanginya, dia kubur bukti itu dalam-dalam." Aruna menangis melihat penderitaan ibunya. Sementara Winata terus menunduk dan membisu.

"Dia rela menjalani separuh hidupnya dihabiskan berteman dengan penderitaan hanya untuk memuaskan dahaga kalian, memuaskan hasrat kalian. Memberikan hiburan gratis. Bukankah orang akan merasa puas dan terhibur jika melihat penderitaan orang lain?" Aruna berapi-api. Para Ular membisu tertegun tak dapat berkata apa-apa.

"Ya kami puas, tapi semua itu belum cukup!" kata Dewi Kadru.

"Apa lagi? Apa lagi yang ingin dari sebuah penderitaan..."

"Sudahlah, sudah Ibu rela kok." potong Winata.

"Baik kalau Ibu nggak mau pergi dari sini! Bibi Kadru! Apa yang bisa kulakukan untuk membebaskan Ibuku? Aku bersedia melakukan apapun!" seru Aruna melakukan penawaran.

"Ah penawaran, cerdik. Cerdik banget Keponakanku. Apapun? Kau mau melakukan apapun?!" Dewi Kadru berpikir sejenak. "Baik kuterima tawaranmu Keponakanku. Bertahun-tahun Bangsa Ular telah mempelajari dan mengembangkan cairan Wisa (bisa) dalam ludah kami untuk melindungi diri. Namun Wisa ular tidak berbahaya, hanya berupa cairan pekat dan kental untuk mengelabui musuh." Dewi Kadru meludahkan cairan hitam pekat.

"Kudengar ada beberapa jenis Wisa atau racun di dunia ini. Dua yang terkuat di antaranya adalah Wisa milik Danghyang Calakuta Raja Bangsa Serangga yang hidup di Kerajaan Wisabawana, di Kaki Gunung Jamurdipa, dan Tirta Sakti Wisa milik Batara Brahmanayana Sang Penjaga Racun, putra Batara Brahma Sang Penjaga Api yang bersemayam di Kayangan Daksina Geni.

Bawakan aku Tirta Sakti Wisa, bisa terkuat di dunia. Bisa dikatakan Tirta Sakti Wisa adalah Raja dari segala jenis racun. Konon hewan berbisa yang meminumnya, akan menjadi Raja dari para hewan berbisa. Cepat bawakan aku Air Wisa itu! Kalau kau bisa mendapatkannya, aku berjanji akan membebaskan Ibumu dari perbudakan!" kata Dewi Kadru berjanji.

"Baik! Kupegang kata-katamu Bibi!" seru Aruna mengancam Sang Bibi. "Ibunda tenanglah, Putramu sebentar lagi akan membebaskanmu."  setelah itu, melesatlah Garuda Aruna dengan kecepatan penuh mencari Tirta Sakti Wisa, menuju arah Kayangan Daksina Geni, tempat bersemayamnya Batara Brahma.

Setelah melewati beberapa gunung Garuda Aruna dihentikan oleh sebuah suara bernada tegas. "Hei, mau kemana kau, wahai Burung Garuda?" Garuda Aruna berhenti celingukan mancari asal suara itu.

"Hei Kisanak (sebutan bagi orang asing) keluarlah! tunjukan wajahmu! Aku mau numpang tanya, kemana arah menuju Kayangan Daksina Geni?" seru Garuda Aruna.

"Emang ada keperluan apa, hingga kau berani menghadap Batara Brahma?" sesosok pemuda berperawakan kecil, berpakaian khas Batara muncul melayang dengan tenang dari salah satu puncak gunung. Membawa sebuah cupu, sejenis kendi kecil wadah air dari tanah liat. Jelas orang itu bukan orang biasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4