Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

"Wayang Saga Series Episode 33"

14 April 2018   14:30 Diperbarui: 14 April 2018   15:29 0 2 0 Mohon Tunggu...
"Wayang Saga Series Episode 33"
Ilustrasi Dewi Kadru

Baca Kisah Sebelumnya

Melihat Bambang Nagatatmala yang tiba-tiba datang ke Kayangan Paranggumiwang, Dewi Mumpuni yang telah kehilangan semangat tampak bergairah kembali. Setelah mendapat restu dari sang suami, Yamadipati yang mengalah memberikan cintanya kepada saingannya Nagatatmala, tanpa diduga Dewi Komini adik Dewi Mumpuni menyatakan cintanya kepada Yamadipati, kakak iparnya yang telah bercerai. Dan dengan senang hati ia menerima cinta Komini. 

Mereka akhirnya dua pasang pengantin yang bahagia dalam dua pelaminan... Nah kisah selanjutnya akan menceritakan persaingan Dewi Kadru dan Winata, yang berbentuk ular dan Garuda memperebutkan perhatian sang suami Maharesi Kasyapa... Nah simak kisah serunya... 

Kisah Kadru dan Winata, part 1

Jauh sebelum para Batara bersama segenap warga Tribuana mengebor samudra untuk mendapatkan air suci pembangkit kematian, Tirta Amerta. Tersebutlah seorang pertapa bernama Maharesi Kasyapa, yang memperoleh anugerah istri-istri yang berwujud tak biasa, putri-putri Sanghyang Darampalan penguasa para hewan yang bersemayam di Kayangan Pancapertala, di lapis bumi kelima, yang menikahi Dewi Tappi putri Sanghyang Permana, cucu Sanghyang Taya."Kutitipkan padamu wahai Resi ketiga Putriku yang berharga. Jagalah mereka baik-baik, dan berbuat adillah pada ketiganya. Aku tahu kau sanggup melakukannya." kata Sanghyang Darampalan menyerahkan ketiga putrinya.


Putri pertama berwujud Ular betina bernama Dewi Kadru, sementara putri yang kedua berwujud Burung Garuda bernama Dewi Winata, dan putri yang ketiga berwujud Batari mungil yang cantik bernama Dewi Muni, Ibunda dari Dewi Mumpuni dan Komini. Mereka bertiga diboyong Maharesi Kasyapa menuju ke kediamannya yang sederhana. Di sebuah puncak gunung.


Mereka bertiga tampak rukun dihadapan sang Maharesi, namun Dewi Kadru selalu menyimpan kecemburuan yang berlebih kepada istri-istri Sang Maharesi yang lain. Meski sang Maharesi dinilai sudah adil pada ketiganya. Terutama kepada Winata, sebab sewaktu ketika sang Maharesi marah besar kepada Dewi Kadru. Karena membiarkan anak-anak mereka, yang berupa puluhan ekor ular saling membunuh satu sama lain. Peristiwa yang dilaporkan Winata ini, yang membuat Kadru mendengki dan mendendam kepada saudarinya sendiri.


Sejak saat itu berbagai cara dilakukan Kadru dan anak-anaknya untuk menyingkirkan Winata dari perhatian Sang Maharesi, atau kalau mungkin menyingkirkanya dari silsilah keluarga. Dewi Winata yang berhati lembut tak pernah membangkang apa yang diperintahkan Sang Kakak, Dewi Kadru. Walaupun itu dirasa sudah sangat keterlaluan. Bagi Winata itu merupakan wujud bakti seorang adik kepada seorang kakak. Dan Winata tak pernah melaporkan lagi keburukan Kadru kepada Sang Maharesi, meski Winata mengetahuinya.


Sementara Dewi Muni bersikap tak acuh, tak peduli apapun urusan yang dilakukan kakak-kakaknya, baginya pertikaian yang dilakukan kakak-kakaknya itu hanya menguntungkannya. Memperoleh perhatian lebih dari sang Maharesi.


Sampai sewaktu ketika di suatu senja yang muram, Dewi Winata menelurkan dua buah telur Garuda yang besar. Dieraminya setiap hari calon-calon bayinya itu dengan sabar dan telaten.


"Anak-anakku, siapa yang berani memecahkan telur Dinda Winata?" kata Kadru kepada anak-anaknya. Salah satu putra yang dikenal paling berani maju mengajukan diri. "Oh, kau Taksaka, kau memang Putra kebanggaan Ibu."


Dan dimulailah misi itu, misi untuk menghancurkan keturunan Garuda Winata. Taksaka Siluman Ular yang pemberani, melata merayap melingkar-lingkar menuju puncak pohon beringin besar dimana sarang atau kediaman Winata berada.


Istri-istri Maharesi Kasyapa memang hidup terpisah dan bersemayam secara terpisah namun masih dalam lingkungan yang sama. Dewi Kadru bersemayam di sebuah gua di samping sebuah gubuk kecil milik Dewi Muni. Gubuk Dewi Muni berada di bawah sebuah pohon beringin besar nan rindang meneduhi tempat itu, tempat bersemayamnya Garuda Winata. Setiap hari Sang Maharesi rutin bergiliran mengunjungi mereka secara adil.


Taksaka terus merayap hingga ke puncak beringim raksasa itu, dan tampaklah sarang burung itu, sarang raksasa Burung Garuda yang terbuat dari ranting dan dahan yang dialasi tumpukan jerami sebagai penghangat. Dinaungi dahan-dahan pohon merimbun sebagai peneduh.


Seperti yang telah direncanakan, Dewi Winata pergi meninggalkan telur-telurnya lantaran disuruh Sang Kakak mencari hewan buruan untuk anak-anak Dewi Kadru. Melihat sarang Winata yamg sepi, tanpa membuang waktu merayap dengan cepat menghampiri kedua buah telur Garuda itu, dengan seringai licik Taksaka bersiap mematuk memecahkan salah satu telur, namun...


"Hei mau apa kau Taksaka?!" seru Winata memergoki Taksaka.

"
"Eh, a-anu, anu bibi Winata," Taksaka tergagap gugup tak tahu harus ngomong apa. "Eee anu bibi. Saya cuma mau liat, telur Bibi udah netas belum. Saya udah nggak sabar mau main sama anak bibi."


"Oh gitu, kirain kau mau.. Apa gitu."


"Ah nggak, saya nggak mau apa-apa kok, Bi." seraya mengulur waktu dari balik punggung Taksaka tanpa diketahui, ekor panjangnya perlahan menjulur bergerak mendekati salah satu telur dan berhasil meretakkan sedikit telur besar itu.


"Oh ya, ini buruan yang diminta Ibumu, tangkap." Winata melemparkan seekor kijang yang cukup besar hasil buruannya yang ditangkap dengan sempurna oleh Taksaka "Aku tak bisa ninggalin telur-telurku terlalu lama. Jadi aku berburu secepat kilat, heheheh." Winata tersenyum tanpa menyadari niat jahat Taksaka.


"Oh gitu, pantesan." gumam Taksaka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4