Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series Episode 32

31 Maret 2018   16:59 Diperbarui: 31 Maret 2018   17:01 0 3 0 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series Episode 32
1517016725-picsay-5abe6d6ddd0fa845564bed32.jpg

Baca Kisah Sebelumnya

Pencarian inti Samudralaya dimulai dengan mengerahkan segenap warga Tribuana. Setelan beberapa jam mereka mengebor samudra  dan saat rasa putus asa mulai menghinggapi mereka, ide cemerlang Batara Antaboga yang mencabut dan mengebor lautan dengan gunung Mandiri mengakhiri pencarian itu. Dengan diambilnya Cupu Maya Usadi yang berisi Tirta Amerta air kehidupan oleh sang penguasa Tribuana Batara Guru. Nah bagaimanakah kelanjutannya simak kisah selanjutnya yang bikin baper. Selamat menikmati... 

Dua Pelaminan

Malam itu di Kayangan Saptapertala, Batara Antaboga bersama seluruh keluarga dan punggawa, serta tak ketinggalan Batara Yamadipati ikut menyaksikan momen bersejarah kebangkitan Bambang Nagatatmala. Seorang prajurit menuangkan abu Nagatatmala yang tersimpan dalam sebuah cupu, sejenis guci kecil dari emas ke sebuah kain putih lebar yang dibentangkan di tengah Balairung.


Batara Antaboga bergerak mendekati tengah balairung, dimana abu putranya berada. Ia mengeluarkan duplikat Cupu Maya Usadi yang berisi setengah Tirta Amerta pemberian Batara Guru. "Kita akan membuktikan apakah benar air ini bisa membangkitkan kematian walau hanya setetes." kata Antaboga seraya meneteskan air suci itu ke abu Nagatatmala.


Ajaib! Begitu Tirta Amerta menyentuh abu, perlahan abu yang berasal dari pembakaran mayat Nagatatmala itu menggumpal dan mengeras, membentuk mewujud sesosok tubuh yang mereka kenal. Tubuh ksatria tampan berperawakan mungil dan ramping, dengan sorot mata tajam penuh keberanian. Berwatak jujur dan pemberani, Bambang Nagatatmala yang lebur dilalap Kawah Candradimuka, kini bangkit kembali seperti sedia kala.


"Ayah, Ibu dimana aku?" kata Nagatatmala kebingungan. Dewi Supreti menyongsong dan memeluk putra kesayangannya dengan hangat dan erat, berurai air mata kerinduan yang meluap penuh emosional.


"Ini bukan mimpi 'kan? Ini bukan mimpi 'kan Nak?" melihat-lihat wajah putranya mencari-cari apa mungkin ada kecacatan yang tertinggal.


"Sepertinya bukan deh Bu. Ibu ngapain sih?" Nagatatmala masih kebingungan seraya lehernya terus meliuk-liuk menghindari agar kepalanya tak dipegang-pegang sang ibu.


"Kau berada di Balairung Kayangan Saptapertala Nak," jelas sang ayah Antaboga.


"Di Balairung?" Nagatatmala berusaha mengingat-ingat. "Bukankah aku sudah ma... Sudah mati? Aku ingat... Aku ingat, bukankah aku dihukum mati... Dan Kawah itu... Kawah Candradimuka... Dan Mumpuni... Dimana dia? Dimana Dinda Mumpuni?"


"Kau rupanya masih mengingatnya ya, Bocah Kurang Ajar. Ikatan hati memang kuat ya, heheheh" sahut Yamadipati muncul dari kerumunan.


"Aku sama sekali tak menyentuh Istrimu, Kakang."


"Ya, ya aku percaya. Aku percaya..."


"Sudah, sudah! Jangan diteruskan Nagatatmala! Seharusnya kau berterimakasih kepada sepupumu Batara Yamadipati!" Bentak Antaboga menggelegar seperti guntur menggetarkan dinding-dinding istana. "Biar kujelaskan." Antaboga memulai ceritanya yang panjang. Sesekali Nagatatmala memandang wajah Yamadipati yang mengangguk-angguk tersenyum lega, sepanjang cerita.


Belum lagi selesai cerita Antaboga, Nagatatmala langsung menubruk berlutut menangis berurai air mata dipangkuan Yamadipati. "Aduuuh... Ampun beribu ampunn." tangis Nagatatmala lirih. "Maafkan aku Kakang Yama.. Aku yang buta, tak bisa melihat kebaikan dan kelembutan hatimu. Aku yang buta tak bisa melihat kelapangan hatimu. Dibalik perangaimu yang segalak raksasa, ternyata tersimpan hati yang lapang seluas angkasa. Dibalik kata-katamu yang kasar, tersimpan hati selembut awan. Kakang maafkan aku  yang sudah berprasangka, yang sudah salah menduga."


"Ah sudah, sudah jangan nangis lagi, kayak anak kecil aja. Bangun,  bangun. Dasar Bocah Kurang Ajar." Yamadipati memeluk hangat Nagatatmala layaknya saudara kandung, dengan mata memerah berkaca-kaca. "Udah, udah aku maafin, aku maafin, makanya jangan sekali-kali menduga-duga, ya." Pelukan itu disambut tepuk tangan dan sorak-sorai para hadirin.


Keesokan harinya mereka sepakat memberi kejutan untuk Dewi Mumpuni. Seperti hari-hari sebelumnya Mumpuni menyiapkan makanan dengan lesu, menyantapnya bersama suami juga dengan lesu, matanya menatap kosong tanpa gairah. Sementara sang suami Yamadipati terus nyerocos membicarakan berbagai topik sambil makan untuk menghibur sang istri. Sementara Dewi Mumpuni terus menyantap hidangan dengan lesu tanpa peduli apa yang dikatakan sang suami. Hanya sesekali menanggapi dengan sepatah dua patah kata dengan nada datar. Baginya tubuhnya hanyalah raga tanpa nyawa.


Selepas makan. Mumpuni akan masuk kamar pribadinya duduk termangu, melamun berjam-jam di tepi jendela, menerawang, menatap kosong dengan ekspresi yang juga kosong. Tanpa keluar kamar sampai jam makan malam tiba.
Makan malam tiba semuannya dijalani seperti makan siang tadi. Selepas makan malam dia akan langsung duduk di tepi jendela sama seperti siang tadi. Semua itu akan terus berulang dan berulang setiap hari. Selama setahun lebih seperti ritus yang tak pernah putus. Sungguh kehidupan yang menyedihkan. Namun di hari ini ritus itu akan terputus selamanya.


Karena hari ini kekasih tercintanya, Nagatatmala akan datang. Selepas sarapan seperti biasa Mumpuni akan langsung terduduk di tepi jendela. Namun, di pagi yang cerah itu tampak sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat mata Mumpuni terbelalak hidup berkilau penuh cinta. Sesuatu yang membuat seulas senyum terlukis kembali di bibirnya yang telah lama membeku. "Kakang Tatmala! Kaukah itu?" gumamnya.


Seketika Dewi Mumpuni menjadi hidup, semangatnya telah kembali mencetuskan adrenalin yang membuatnya bangkit dan berlari tanpa peduli. Tanpa peduli riasan, tanpa peduli rambut yang awut-awutan, tanpa peduli sekitar. Dia berlari kesetanan dengan masih mengenakan gaun tidurnya, dia berlari tanpa alas kaki, melewati koridor dan menuruni tangga Istana Paranggumiwang, untuk menemui cinta sejatinya, Bambang Nagatatmala.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4