Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Wayang Saga Series Episode 31

25 Maret 2018   15:35 Diperbarui: 25 Maret 2018   15:46 0 3 0 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series Episode 31
Ilustrasi Baruna membuka gerbang samudralaya (dokpri)

Baca Kisah Sebelumnya 

Kayangan mengumumkan akan mengambil Tirta Amerta di kedalaman Samudralaya yang konon dapat mengembalikan kematian. Tak disangka saat Batata Antaboga datang meminta izin agar membangkitkan putranya Nagatatmala yang telah tiada, Batara yamadipati saingan Nagatatmala datang dengan maksud yang sama. Dan memilih mengorbankan cintanya. Bagaimanakah jutaan warga Tribuana melawan ganasnya arus Samudralaya. Simak kisah serunya disini ok, selamat menikmati. 

Tirta Amerta

Sejak saat itu hubungan Yamadipati dan keluarga Antaboga semakin akrab. Mereka sering bercakap-cakap hingga larut malam. terkadang Dewi Supreti datang ke Paranggumiwang sekadar membawa makanan dan camilan atau menjenguk Dewi Mumpuni, tanpa memberitahu bahwa Nagatatmala akan dibangkitkan. Mereka semua sepakat untuk memberi Mumpuni kejutan.

Hari yang ditentukan pun telah tiba, ribuan bahkan mungkin jutaan warga Tribuana telah berkumpul di langit, di atas pusat Samudralaya memenuhi undangan sang penguasa Tribuana, Batara Guru, untiuk menjalankan sebuah misi yang amat berbahaya. Yakni mengambil Tirtamarta suci yang terakhir, Tirta Amerta, inti dari Samudralaya. Air kehidupan yang konon berguna membangkitkan kematian.

Selain ribuan Batara dan bala tentara Kayangan sendiri, ribuan Bangsa Jin, Demit, Siluman, dan Raksasa, termasuk para Kuda Ucirawas yang berkulit hitam legam. Berkumpul bersiap dalam satu komando. Berbagai motivasi mewarnai misi pengambilan air pembangkit kematian ini, yang setengahnya akan dihadiahkan bagi siapapun yang sanggup mengambilnya. Mulai dari yang sekadar ikut-ikutan, sampai mereka yang ingin membangkitkan orang-orang yang mereka cintai. Salah satunya ialah Batara Antaboga.

"Wahai penguasa Samudralaya, Raja para ikan Sanghyang Batara Baruna keluarlah!" seru Batara Guru memanggil Batara Baruna pelindung samudra. "Wahai putra Sanghyang Heramaya, paman buyutku. Aku meminta izinmu untuk mengambil inti Samudralaya, Tirta Amerta!"

Air laut yang tenang bergolak perlahan memutar, mengulir, membeliung membentuk pusaran yang kian lama kian membesar. Dari tengah uliran yang membentuk sebuah lubang, perlahan keluarlah sesosok ganjil, manusia bersisik ikan, dengan mahkota megah menghiasi kepalanya. Manusia berwajah ikan itu terbang mendekat dan memberi hormat kepada Sanghyang Guru. "Salam hormat Kakang Prabu Batara. Wah, banyak banget pasukanmu Kakang. Serius Kakang Prabu ingin memiliki Tirta Amerta?"

"Ya, aku tak pernah seserius ini." jawab Batara Guru mengangguk tegas.

"Hm, ambisi yang besar ya, ingat Kakang ambisi dan keserakahan sangat tipis perbedaannya. Jangan sampai ambisimu menjerumuskanmu ke dalam kubangan keserakahan."

"Ambisi memang harus besar 'kan? Kalau ambisi kecil, mana bisa dibilang ambisi. Jangan kuatir Rayi Baruna, aku takkan mungkin jatuh kesana."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6