Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series [Episode 30]

18 Maret 2018   16:35 Diperbarui: 18 Maret 2018   16:39 0 2 0 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series [Episode 30]
Ilustrasi Batara Guru berdiskusi dengan Narada

Baca Kisah Sebelumnya

Dewi Mumpuni yang ketahuan selingkuh dengan Bambang Nagatatmala, melarikan diri ke Kayangan Saptapertala di bawah bumi. Yang akan dikejar Batara Yamadipati. Mereka bertarung dan dipisahkan Sanghyang Guru. Karena terbukti dan mengakui perbuatannya Nagatatmala dihukum mati lampu dilebur di kawah candradimuka. Bagaimanakah kisah selanjutnya simak terus kisahnya, selamat menikmati...

Kabar dari Samudralaya

"Sudah setahun lebih sudah sejak Kakang Nagatatmala meninggal. Namun, Yunda (sebutan kakak perempuan) Mumpuni agaknya belum bisa sepenuhnya melupakan Kakang Tatmala." kata Dewi Komini adik Dewi Mumpuni yang tengah berkunjung menjenguk Sang Kakak di Kayangan Paranggumiwang, pintu neraka. kepada Batara Yamadipati, suami Dewi Mumpuni yang bertugas menjaga pintu neraka.


"Aku nggak tau apa lagi yang harus kuperbuat, untuk meyakinkan Yundamu. Berbagai cara telah kulakukan untuknya, agar dia melupakan Bocah Kurang Ajar itu! Tapi semua itu sia-sia, aku nggak bisa menyentuhnya, bahkan kulit arinya sekalipun. Aku... Aku nggak tega." suara Batara berwajah raksasa itu bergetar, menunjukkan rasa sedih dan kecewa yang teramat dalam.


Melihat Batara Yamadipati sedemikian sedihnya, membuat hati lembut Dewi Komini menyimpan simpati, yang lama-kelamaan berkembang rasa yang aneh. Rasa yang menimbulkan degub jantung berdetak lebih kencang, rasa yang perasaan lebih senang, rasa suka yang membuatnya gugup nggak ketulungan. "Apakah ini rasanya jatuh cinta?" begitulah benaknya. Tapi rasa itu harus dia pendam dalam-dalam demi menjaga perasaan Sang Kakak Dewi Mumpuni.


"Rayi Kamajaya menasehatiku, agar aku melepas saja Dinda Mumpuni. Katanya, membuat orang yang kita cintai bahagia itu juga merupakan bagian dari cinta, walaupun terkadang kita nggak bisa memilikinya. Kadang hanya dengan melihat senyum orang yang kita cintai di kejauhan, bisa membuat hati kita ikut merasa bahagia. Walau disaat bersamaan, hati kita menjerit penuh kecewa lantaran tak bisa memiliki hati orang yang kita cintai." kata Yamadipati menerawang menatap Mumpuni, yang termangu sedih membisu di tepi jendela seolah menanti kedatangan Nagatatmala yang takkan pernah kembali. Dengan mata yang bengkak menyembap.


"Seperti itulah perasaanku saat ini kepadamu Kakang..." benak Dewi Komini, memandang wajah keras Batara Yamadipati.


Sementara di Istana Jonggring Salaka, Kayangan Suralaya, Sanghyang Guru sedang berdiskusi dengan penasehatnya Batara Narada. "Di dunia ini, konon terdapat tiga Tirtamarta suci (air suci), air kehidupan. Dua diantaranya sudah kita miliki, alangkah baiknya kalau ketiganya disemayamkan di tempat sama, disini di pusat Tribuana, di Istana Jonggring Salaka." ujar Batara Guru, mengutarakan keinginannya.


"Ya, Tirta Kamandalu, air yang memberi keabadian. Dibuat dari intisari awan mendung, tersimpan dalam Cupumanik Astagina agar tak pernah habis, yang diwariskan turun-temurun kepada penguasa Tribuana." jelas Narada. "Kedua Tirta Mahayadi, dalam Cupu Linggamanik warisan Ayahku. Pemberi ketenangan dan ketentraman bagi warga Kayangan. Dan yang ketiga adalah Tirta Amerta, pemberi kehidupan. Yang tersimpan jauh di dasar Samudralaya, Kayangan Dasar Samodra, lapisan ketujuh dasar samudra. Tempat yang sulit ditembus, yang dijaga Batara Baruna, Sang Penjaga Laut, Raja para ikan dan biota laut. Karena arusnya terlalu kuat dan menyesatkan, sekali kau terseret sulit untuk menemukan kembali jalan yang benar."


"Tirta Amerta yang tersimpan dalam sebuah cupumanik bernama Cupu Maya Usadi disebut juga sebagai inti dari samudra itu sendiri. Jadi mustahil untuk mengambilnya, meskipun itu mungkin. Usaha itu sebanding dengan khasiatnya yang luar biasa. Konon dikatakan hanya dengan setetes saja, Tirta Amerta dapat membangkitkan orang yang sudah mati. Walau sudah menjadi abu sekalipun, sepanjang itu belum menjadi takdirnya." terang Batara Narada panjang lebar.


"Jadi gimana cara mengambilnya Kakang?" sahut Batara Guru.


"Caranya? Hmm... Mungkin satu-satunya cara adalah dengan menyibak satu-persatu lapisan demi lapisan pusat Samudralaya, Kayangan Dasar Samodra. Mustahil jika melakukannya seorang diri. Namun, jika mengerahkan seluruh sumber daya Tribuana, mungkin semua itu bisa dilakukan." kata Batara Narada menjelaskan rencananya.


Keesokan harinya Batara Temburu alias Sanghyang Patuk, yang bertugas sebagai Kebayan Kayangan, atau orang yang bertugas menyampaikan sabda-sabda atau pesan-pesan Kayangan kepada seluruh warga Tribuana. Menyampaikan titah Sanghyang Guru di alun-alun Kayangan Suralaya, nan megah, didampingi Batara Narada dan Sanghyang Guru sendiri. Mengingat pengumuman itu sangat penting.


"Woro-woro! Pengumuman! Pengumuman!" seru Batara Temburu sang Kebayan. "Kepada seluruh warga Tribuana, beramai-ramailah kalian datang untuk memenuhi titah Sanghyang Prabu Batara Guru. Sanghyang Guru memerlukan bantuan kalian semua, dalam sebuah misi yang sangat berbahaya. Misi untuk mengambil Tirta Amerta, Tirtamarta suci yang terakhir, yang merupakan inti dari Samudralaya."
"Barangsiapa yang berhasil mendapatkannya, berhak memiliki setengah dari Tirtamarta tersebut, Tirta Amerta bermanfaat untuk membangkitkan kematian, meski telah menjadi abu sekalipun. Sementara mereka yang ikut berpartisipasi akan diberi imbalan yang pantas. Demikianlah titah Iangsung dari Sanghyang Guru. Kami harap seluruh warga Tribuana berpartisipasi dalam misi ini." begitulah isi pengumuman yang disampaikan Sang Kebayan.


Di malam harinya, Batara Antaboga berkunjung menghadap Sanghyang Guru, di Istana Jonggring Salaka, Kayangan Suralaya. "Ampun Sanghyang Prabu Batara, ampun beribu ampun." kata Antaboga mengiba. "Maaf kalau saya lancang, Sanghyang Prabu Batara. Izinkan menceritakan perihal kegelisahan yang dialami Istri saya."


Setelah mendapat izin dari Sanghyang Guru, Batara Antaboga melanjutkan kembali unek-uneknya. "Bukannya saya mau menentang takdir atau menyalahi sabda yang telah tertitah, namun perihal mimpi Istri saya. Istri saya Dewi Supreti selalu memimpikan hal yang sama. Dia selalu bermimpi melihat putra kami Bambang Nagatatmala bangkit dari kematian. Apakah itu mungkin?"


"Ya, itu mungkin saja, selama itu belum merupakan takdirnya." terang Batara Narada. "Ada beberapa peristiwa kematian yang memang merupakan takdir, atau bukan bagian dari takdir, melainkan sebuah nasib. Misalkan orang yang mati karena tua atau sakit, jelas itu  merupakan takdir, karena memang jatah umur mereka sudah habis. Lain halnya kematian yang disengaja, misalnya dibunuh atau bunuh diri, itu bukan bagian dari takdir, tapi itu merupakan kemalangan dari sebuah garis nasib. Karena jelas kalau tidak dibunuh atau bunuh diri orang tersebut masih tetap bisa hidup. Nah kematian seperti itulah yang dapat dibangkitkan kembali. Nasib bisa dirubah, sementara takdir itu merupakan ketetapan-Nya, ketetapan Sang Penguasa Jagat." terang Narada.


"Setiap teringat mimpi itu, Dewi Supreti menjadi sedih. Lantaran teringat akan peristiwa itu, peristiwa dimana putra kesayangannya dilalap Kawah Candradimuka. Sepanjang hari dia hanya melamun menerawang menatap kosong. Meski sudah setahun lebih, sepertinya dia takkan pernah bisa melupakan kejadian itu." cerita Antaboga.


"Sampai suatu hari, pengumuman sang Kebayan seolah melecut semangatnya kembali, memberi harapan untuk membangkitkan putra kesayangannya kembali. Untuk itu saya kesini menghadap Sanghyang Prabu dengan maksud menanyakannya langsung kepada Sanghyang Guru dan meminta izinnya, untuk kembali membangkitkan Bambang Nagatatmala. Bukan saya bermaksud lancang, tapi ini demi istri saya. Saya mohon izinkan saya membangkitkan dia." ujar Batara Antaboga memelas...


"Mimpi istrimu akan segera menjadi kenyataan, sebentar lagi." kata Batara Guru. Sedetik kemudian suara langkah mantap mendekati Aula Kedaton.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2