Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series Episode 29

10 Maret 2018   17:52 Diperbarui: 10 Maret 2018   17:53 0 1 1 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series Episode 29
Ilustrasi Nagatatmala dilebur di kawah candradimuka

Nagatatmala palastra (mati)

"Kenapa kita harus kabur? Aku bisa menghadapinya." kata Nagatatmala.

"Kau takkan menang menghadapinya, Kakang." sahut Dewi Mumpuni seraya terus berlari. "Kita mau lari kemana, Kakang?!"

"Tenang, Dinda Mumpuni. Kita lari ke Kayangan Saptapertala, dalam perut bumi." Bambang Nagatatmala mengheningkan cipta, dan menghentakkan kakinya ke tanah. Ajaib, sekali hentak tanah menyusur membentuk sebuah gerbang megah, Gerbang Saptapertala. Mereka berlari masuk ke pintu gerbang yang terbuka sendiri. Seiring masuknya mereka, tanah sekitar gerbang meluruh. Longsor menimbun pintu gerbang yang perlahan menutup. Hingga rata seperti semula.

Dalam pengejaran, Batara berwajah raksasa Batara Yamadipati dihadap seorang prajurit yang melihat Dewi Mumpuni dan Nagatatmala masuk ke dalam tanah. Tanpa pikir panjang, dengan kesaktiannya Batara penguasa neraka itu menghantam tanah sekuat tenaga hingga amblas puluhan kilometer. Matanya merah menyalang-nyalang penuh amarah layaknya bahan bakar memanaskan otot. Menambah energi membor menembus bumi. Diikuti prajurit-prajurit Kayangan di belakangnya.

Tak berapa lama, sampailah Batara Yamadipati di Kayangan Saptapertala, lapis perut bumi ketujuh. Sekali tendang gerbang kokoh Saptapertala itu roboh. Bersama prajurit-prajuritnya Batara Yamadipati menyerbu masuk Istana Kayangan Saptapertala. "Nagatatmala!! Dimana kau!? Jangan sembunyi di bawah ketiak Ibumu! Ayo keluar hadapi aku!"

Dua orang wanita anggun keluar menuruni tangga dari lantai dua istana. Mereka adalah Ibunda dan Kakak Nagatmala, Dewi Supreti dan Dewi Nagagini. "Ada apa ini, Keponakanku Yamadipati? Dimana sopan santunmu? Bertamu di rumah orang, triak-triak gitu." ujar Dewi Supreti

"Nagatatmala ayo keluar! Putra kesayanganmu itu, Bibi! Telah membawa kabur istri orang! Ayo keluar Nagatatmala!"

"Nagatatmala belum pulang, Kakang Batara."


 "Tak perlu disembunyikan, Nagagini! Aku melihatnya masuk ke Saptapertala! Kalau kau memang jantan! Ayo keluar! Hadapi aku! Jangan terus-terusan sembunyi di balik ketiak wanita! Pengecut!"


 Nagatatmala yang memang bersembunyi di sebuah kamar di lantai atas bersama Dewi Mumpuni, bergemeretak menarungkan gigi-giginya menahan amarah. Jiwa ksatrianya berontak mendengar hinaan yang memanaskan telinga itu. "Jangan.. Jangan keluar Kakang!" rajuk Mumpuni, memeluk erat lengan Nagatatmala menahannya keluar. Bercucur air mata.


 "Tidak bisa, Dinda! Aku harus keluar menghadapinya. Dia tidak bisa menghinaku lebih dari ini! Kalau tidak Jiwa Ksatriaku akan ternoda. Kita tidak mungkin lari dan sembunyi terus kayak gini, Dinda. Lepaskan!"


 Kalau kau memang Ksatria, Nagatatmala! Ayo keluar dan hadapi tantanganku!"


 Nagatatmala tak lagi menghiraukan rajukan sang kekasih dan keluar langsung meluncur ke bawah berhadapan dengan Batara Yamadipati. Diikuti Dewi Mumpuni yang tak bisa menahannya lagi. Dewi Mumpuni hanya bisa bertekuk lutut menangisi nasibnya.
 "Oh Anak Mamah akhirnya keluar juga. Kukira kau tak akan keluar. Pengecut!"


 "Jangan bawa-bawa nama Ibuku, Kakang. Ayo kita selesaikan ini secara jantan. Aku trima tantanganmu sebagai seorang Ksatria, Kakang. Jangan ada yang ikut campur! Ini adalah pertarunganku! Pertarungan antar Ksatria!"


 "Kuhargai keberanianmu itu Tatmala. Baik ayo kita mulai!" Dan perang tandingpun dimulai dengan benturan kesaktian yang mengguncang bumi. Saling sepak, saling terjang, saling tangkis tak terelakkan di antara keduanya. Mereka benar-benar mengadu kesaktian, dan aji-aji andalan.
 Dinding-dinding dan tiang Istana Kayangan Saptapertala sampai meretak meruntuh tak kuat menahan aura kesaktian dua ksatria dewa itu. Serangan cepat bertubi-tubi yang dilancarkan Batara Yamadipati, membuat Nagatatmala kerepotan. Dalam keadaan terdesak, seberkas cahaya dari langit turun memisahkan mereka berdua.


 Sosok yang tak asing muncul memisahkan mereka. Sosok Penguasa Tribuana, Sang Batara Guru. Disusul Batara Antaboga ayah Nagatatmala. "Tenanglah kalian berdua." kata Batara Guru menghentikan pertikaian mereka.

Baca Kisah Sebelumnya ---Rumah tangga Batara Yamadipati dan Dewi Mumpuni tidak berjalan harmonis. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai kehidupan mereka. Sampai suatu ketika kabar itu sampai ke telinga seorang ksatria yang tak pernah tega melihat ketidakadilan di depan matanya Bambang Nagatatmala. Ia lalu mengunjungi Mumpuni, tak disangka kecantikannya membuat Nagatatmala terpesona. Dan menumbuhkan benih-benih cinta terlarang...  Bagaimanakah kelanjutannya simak terus kisahnya yang seru. Selamat menikmati... 

Nagatatmala palastra (mati)

"Kenapa kita harus kabur? Aku bisa menghadapinya." kata Nagatatmala.

"Kau takkan menang menghadapinya, Kakang." sahut Dewi Mumpuni seraya terus berlari. "Kita mau lari kemana, Kakang?!"

"Tenang, Dinda Mumpuni. Kita lari ke Kayangan Saptapertala, dalam perut bumi." Bambang Nagatatmala mengheningkan cipta, dan menghentakkan kakinya ke tanah. Ajaib, sekali hentak tanah menyusur membentuk sebuah gerbang megah, Gerbang Saptapertala. Mereka berlari masuk ke pintu gerbang yang terbuka sendiri. Seiring masuknya mereka, tanah sekitar gerbang meluruh. Longsor menimbun pintu gerbang yang perlahan menutup. Hingga rata seperti semula.

Dalam pengejaran, Batara berwajah raksasa Batara Yamadipati dihadap seorang prajurit yang melihat Dewi Mumpuni dan Nagatatmala masuk ke dalam tanah. Tanpa pikir panjang, dengan kesaktiannya Batara penguasa neraka itu menghantam tanah sekuat tenaga hingga amblas puluhan kilometer. Matanya merah menyalang-nyalang penuh amarah layaknya bahan bakar memanaskan otot. Menambah energi membor menembus bumi. Diikuti prajurit-prajurit Kayangan di belakangnya.

Tak berapa lama, sampailah Batara Yamadipati di Kayangan Saptapertala, lapis perut bumi ketujuh. Sekali tendang gerbang kokoh Saptapertala itu roboh. Bersama prajurit-prajuritnya Batara Yamadipati menyerbu masuk Istana Kayangan Saptapertala. "Nagatatmala!! Dimana kau!? Jangan sembunyi di bawah ketiak Ibumu! Ayo keluar hadapi aku!"

Dua orang wanita anggun keluar menuruni tangga dari lantai dua istana. Mereka adalah Ibunda dan Kakak Nagatmala, Dewi Supreti dan Dewi Nagagini. "Ada apa ini, Keponakanku Yamadipati? Dimana sopan santunmu? Bertamu di rumah orang, triak-triak gitu." ujar Dewi Supreti

"Nagatatmala ayo keluar! Putra kesayanganmu itu, Bibi! Telah membawa kabur istri orang! Ayo keluar Nagatatmala!"

"Nagatatmala belum pulang, Kakang Batara."


 "Tak perlu disembunyikan, Nagagini! Aku melihatnya masuk ke Saptapertala! Kalau kau memang jantan! Ayo keluar! Hadapi aku! Jangan terus-terusan sembunyi di balik ketiak wanita! Pengecut!"


 Nagatatmala yang memang bersembunyi di sebuah kamar di lantai atas bersama Dewi Mumpuni, bergemeretak menarungkan gigi-giginya menahan amarah. Jiwa ksatrianya berontak mendengar hinaan yang memanaskan telinga itu. "Jangan.. Jangan keluar Kakang!" rajuk Mumpuni, memeluk erat lengan Nagatatmala menahannya keluar. Bercucur air mata.


 "Tidak bisa, Dinda! Aku harus keluar menghadapinya. Dia tidak bisa menghinaku lebih dari ini! Kalau tidak Jiwa Ksatriaku akan ternoda. Kita tidak mungkin lari dan sembunyi terus kayak gini, Dinda. Lepaskan!"


 Kalau kau memang Ksatria, Nagatatmala! Ayo keluar dan hadapi tantanganku!"


 Nagatatmala tak lagi menghiraukan rajukan sang kekasih dan keluar langsung meluncur ke bawah berhadapan dengan Batara Yamadipati. Diikuti Dewi Mumpuni yang tak bisa menahannya lagi. Dewi Mumpuni hanya bisa bertekuk lutut menangisi nasibnya.
 "Oh Anak Mamah akhirnya keluar juga. Kukira kau tak akan keluar. Pengecut!"


 "Jangan bawa-bawa nama Ibuku, Kakang. Ayo kita selesaikan ini secara jantan. Aku trima tantanganmu sebagai seorang Ksatria, Kakang. Jangan ada yang ikut campur! Ini adalah pertarunganku! Pertarungan antar Ksatria!"


 "Kuhargai keberanianmu itu Tatmala. Baik ayo kita mulai!" Dan perang tandingpun dimulai dengan benturan kesaktian yang mengguncang bumi. Saling sepak, saling terjang, saling tangkis tak terelakkan di antara keduanya. Mereka benar-benar mengadu kesaktian, dan aji-aji andalan.
 Dinding-dinding dan tiang Istana Kayangan Saptapertala sampai meretak meruntuh tak kuat menahan aura kesaktian dua ksatria dewa itu. Serangan cepat bertubi-tubi yang dilancarkan Batara Yamadipati, membuat Nagatatmala kerepotan. Dalam keadaan terdesak, seberkas cahaya dari langit turun memisahkan mereka berdua.


 Sosok yang tak asing muncul memisahkan mereka. Sosok Penguasa Tribuana, Sang Batara Guru. Disusul Batara Antaboga ayah Nagatatmala. "Tenanglah kalian berdua." kata Batara Guru menghentikan pertikaian mereka.


 "Salam Paman Prabu Batara. Saya minta keadilan dari Paman Prabu Batara. Bocah ini! Bocah ini, telah kedapatan berselingkuh dengan istri saya, Mumpuni, dan menculiknya, membawanya kabur kemari! Ke Saptapertala!" Batara Yamadipati memulai pengaduan.


 "Semua itu tidak benar, Sang Prabu Batara!" Dewi Mumpuni turun memburu Nagatatmala, memeriksa luka dan memar di wajahnya. "Saya! Saya yang membawa kabur kakang Tatmala! Saya yang memintanya dibawa kemari! Dan itu! Itu bukan perselingkuhan saya hanya curhat! Kami hanya ngobrol..."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3