Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

(Cerita Wayang Series) Wayang Saga Series Episode 20

9 Desember 2017   15:28 Diperbarui: 9 Desember 2017   17:22 0 0 0 Mohon Tunggu...
(Cerita Wayang Series) Wayang Saga Series Episode 20
Sumber:http://cdn-tehran.wisgoon.com

Baca Kisah sebelumnya

Hyang Kanekaputra menantang Sanghyang Jagatnata dalam adu kecerdasan dan kesaktian untuk membuktikan siapa yang lebih pantas menjadi Raja Tribuana. Dan ia pun takluk di hadapan Sanghyang Jagatnata. Lantaran sikap konyolnya yang di rasa sudah keterlaluan disabdalah ia menjadi berwajah jelek dan berperawakan cebol bergelar Batara Narada. Apa yang akan terjadi selanjutnya ikuti terus kisahnya yang seru!

Episode 20 : CUPU LINGGAMANIK

Suasana Kayangan Suralaya semakin ceria dengan hadirnya Batara Narada, Gareng, dan Petruk. Setiap harinya, ada saja gurauan dan candaan yang memicu saraf tawa penghuni Kayangan. Ditambah ketenangan dan kedamaian yang ditebarkan aura Tirta Mahayadi dalam Pusaka Cupu Linggamanik. Pusaka warisan Sanghyang Caturkaneka ayah Batara Narada, yang kini disemayamkan di ruang pusaka Kayangan.

Kerap kali terdengar suara Gending atau Kidung yang menenangkan dari dalam cupu itu. Menurut Batara Narada, selain Tirta Mahayadi, di dalam Cupu Linggamanik terdapat seorang Dewi bernama Dewi Lokawati, yang kerap mendendangkan Gending Lokananta. Kidung yang mendamaikan jiwa. Menurutnya Dewi Lokawati sejak dulu memang sudah bersemayam disana. Dan tak ada yang tahu persis asal-usulnya. 

Penasaran akan wujud sang Dewi, Batara Guru diam-diam membuka tutup keemasan Cupu Linggamanik. Matanya melongok mengintip ke dalam cupu pusaka itu. Mencari-cari sesuatu di antara kilau jernih samudra Tirta Mahayadi. Benar saja, mata Batara Guru membelalak melihat seorang Dewi nan cantik bertubuh sintal dan anggun. Tertunduk termangu-mangu. Bermain air dengan gaun yang basah. Mendedang Gending Lokananta lirih damai mendayu.

"Ambooi.. Siapa gerangan Dewi jelita yang disana? Mari keluarlah, izinkan saya mengenalmu sang Dewi." seketika sang Dewi menghentikan dendangnya. Mendongak melihat apa yang terjadi. Makin terpesonanya ia begitu memandang wajah manis sang Dewi. Mendesirkan hati Sanghyang Guru. Sang Dewi kembali menunduk tanpa mengindahkan seruan Batara Guru. 

Beberapa kali Batara Guru merayu sang Dewi. Namun, dia tetap tak bergeming. Teguh pada pendiriannya. Hingga membuat Batara Guru jengkel dan menumpahkan Tirta Mahayadi untuk memaksanya keluar. Tak mau Tirta Mahayadi terbuang percuma. Sang Dewi terpaksa keluar dari persemayamannya. Dari dalam Cupu Linggamanik. 

"Ahh, keluar juga. Dewi nan ayu... Sudikah sang Dewi menjadi permaisuriku?" Dia tetap tertunduk, mulutnya tetap  terkatup. Batara Guru menawarkan harta dan kemewahan. Namun, si jelita masih membisu. Batara Guru murka lantaran tidak dianggap. Dewi nan manis itu dianggap tidak menghormati. Tidak mematuhi perintah penguasa Tribuana. Maka...

"Hmm, baik! Kalau kau tetap membisu. Tertunduk dan membisulah selamanya!!" disabdalah sang Dewi Lokawati Sakecap Netra menjadi setangkai padi. Dilemparnya tangkai padi itu kuat-kuat. Tangkai padi itu melesat. Meluncur melintasi rimba dan samudra. Melewati gemunung dan benua. Hingga akhirnya melesak. Menancap kuat di pulau panjang tak berpenghuni. Sebuah pulau bertanah miring dan gersang. Pulau Jawa. Di tanah yang kelak berdiri sebuah kerajaan. Dimana padi menjadi bahan pangan utamanya. Kerajaan pertama di pulau jawa. Kerajaan Medang Kamulan.

Sang Narada yang mengetahui itu, buru-buru menghampiri Batara Guru.  Dan memperingatkan Batara Guru agar tidak memaksakan kehendak nafsunya. Dan sembarang menjatuhkan Sabda Kawastraman. Karena dapat membuat orang lain menderita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x