Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

(Cerita Wayang Series) Wayang Saga Series Episode 12

21 November 2017   16:38 Diperbarui: 21 November 2017   16:52 0 1 0 Mohon Tunggu...
(Cerita Wayang Series) Wayang Saga Series Episode 12
Ilustrasi Sanghyang Tunggal memberi sayembara kepada ketiga putranya

Baca Kisah Sebelumnya

Setelah Sanghyang Tunggal menyerahkan tahta Kayangan Keling kepada putra sulungnya Sanghyang Rudra, ia pergi ke Kayangan Suralaya demi memenuhi ambisinya menjadi penguasa Tribuana. Ketika Sanghyang Tunggal bertapa ia dipertemukan dengan Dewi Wirandi, putri siluman kepiting. Mereka menikah dan melahirkan sebutir telur. Dan telur pun pecah menjadi tiga bagian, ia menyiramnya dengan Tirta Kamandalu dan mewujudlah menjadi tiga orang putra bernama Sanghyang Antaga, Ismaya, dan Manikmaya. Nah apakah yang akan terjadi selanjutnya? Ikuti terus kisahnya yang semakin seru. Selamat menikmati... 

Episode 12: MANIKMAYA JADI RAJA : PERTIKAIAN ANTAGA DAN ISMAYA

Hari bergerak menjadi bulan, bulan merayap menjadi tahun. Waktu terus berlari tanpa ada yang mampu menghalangi. Tak terasa, kini ketiga putra Sanghyang Tunggal telah tumbuh dewasa. Mereka semua telah, menguasai dan menyerap seluruh ilmu pengetahuan dan kesaktian sang ayah. Menjadikan mereka satria-satria dewa yang pilih tanding.


Sewaktu ketika di Jonggring Salaka, kayangan Suralaya. Sanghyang Tunggal yang sudah menua memanggil ketiga putranya menghadap, didampingi kedua permaisurinya." Ketiga putraku Hyang Antaga, Hyang Ismaya, dan Hyang Manikmaya kemari kalian semua."


"Ya, Ayahanda. Ada apa gerangan Ayahanda memanggil kita semua?" Tanya Hyang Antaga.


"Anak-anakku, beberapa hari ini memikirkan kebingunganku." Sanghyang Tunggal menceritakan perihal kelahiran mereka bertiga, yang berasal dari sebutir telur. Karena merasa ajal Sanghyang Tunggal sudah dekat. Ia merasa bingung memutuskan siapa yang lebih tua diantara mereka, seningga berhak mewarisi tahta Kayangan Suralaya. Lantaran dulu saat ia menyiramkan Tirta Kamandalu ke telur itu bersamaan hingga tak ada istilah tertua diantara mereka.


"Anak-anakku. Kalian Bertiga tumbuh bersama, berlatih bersama, bermain dan bercanda bersama. Aku..." Sebelum sempat Sanghyang Tunggal bersabda, Hyang Antaga Menyela.


"Maaf Ayahanda. Sudah jelas 'kan, kulit telur adalah yang tertua. Kulitlah yang lahir lebih awal. Iya 'kan? Sebab kulit berada di luar, dan ditakdirkan untuk melindungi isi telur yang lemah." Kata Hyang Antaga, yang terlahir dari kulit telur.


"Tunggu!" Sergah Hyang Ismaya. "Menurut saya, isi dan kulit merupakan satu kesatuan yang lahir bersamaan. Tanpa adanya putih dan kuning telur yang menjadi isi, maka kulit telur pun tidak akan ada. Tidaklah mungkin telur terlahir hanya kulitnya saja, tanpa adaya isi yang ikut menyempurnakan keadaannya." Bantah Hyang Ismaya diplomatis.


Lalu Hyang Ismaya mengingatkan seraya menepuk pundak Hyang Antaga. "Putih dan dan kuning telur yang menjadi isi merupakan cikal bakal tanda-tanda adanya kehidupan. Sedangkan kulit. Kulit hanya ragangannya saja, akan tetapi isilah yang menjadi keutamaannya." Sambung Hyang Ismaya.


Merasa terhina, dianggap hanya ragangan kosong yang tak memiliki keutamaan. Tak memiliki arti. Hyang Antaga yang tercipta dari kulit telur menepis tangan Hyang Ismaya, menyanggah dengan jumawa (sombong). "Kulit merupakan bagian yang terkuat dengan wujud keras dibandingkan isi."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
21 November 2017