Mohon tunggu...
Jannuary Biru
Jannuary Biru Mohon Tunggu...

Penulis novel Wayang Saga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wayang Saga Series Episode 10 (Cerita Wayang Series)

19 November 2017   17:29 Diperbarui: 20 November 2017   09:16 0 1 0 Mohon Tunggu...
Wayang Saga Series Episode 10 (Cerita Wayang Series)
Ilustrasi Kayangan Suralaya (WallpaperUP.com)

Baca Kisah Sebelumnya

Kayangan Malwadewa lebur! Oleh Nabi Sulaeman dengan menanam pusaka Kasang Tumbal, meski Sanghyang Wenang berusaha mencabutnya, namun kehancuran Pulau Malwadewa tak dapat dicegah dan akhirnya Sanghyang Wenang dan keluarganya mengungsi ke Saptapertala. 

Bagaimakah kelanjutannya, ikuti terus kisahnya dalam kisah kedua Wayang Saga yang bertajuk Jonggring Salaka, yang pastinya lebih seru dan lebih banyak konflik. Selamat menikmati...

Episode 10: KAYANGAN SURALAYA

Setelah beberapa tahun hidup di Kerajaan Saptapertala. Sanghyang Wenang di karuniai dua orang cucu berwujud naga kembar, yang dinamainya Anantaswara dan Anantadewa. Hasil dari pernikahan putrinya Dewi Suyati dan Naga Ananta Wisesa.Sewaktu ketika, Prabu Hari mertua Sanghyang Wenang, yang dikira telah tewas dalam bencana dahsyat beberapa tahun silam. Muncul dan mengunjungi Saptapertala. Prabu Hari datang untuk mengabarkan bahwa Nabi Sulaeman telah wafat dua tahun silam, karena usia tua.


Mendengar itu, Sanghyang Wenang dan keluarganya muncul kembali ke dunia, ke permukaan bumi. Setelah mendapat izin dari orang tuanya, Sanghyang Tunggal melesat kembali menuju Kayangan Keling, untuk menempati tahta yang sudah lama ia tinggalkan. Betapa terkejutnya Sanghyang Wenang ketika ia kembali ke Pulau Malwadewa, yang telah dataran yang amat berbeda. Pulau Malwadewa telah menjadi sebaran pulau-pulau kecil. Menjadi puing-puing tak terurus. Dan Gunung Tunggal? Sudah tak ada yang namanya Gunung Tunggal. Gunung Tunggal kini berganti menjadi sebuah telaga, yang dikelilingi karpet hijau padang savana nan luas.


Sanghyang Wenang pun pergi ke tempat lain. Untuk mencari tempat bermukim yang baru. Tersebutlah sebuah pegunungan di Jazirah Hindustan, yang bernama Pegunungan Himalaya. Dengan puncak tertingginya Gunung Tengguru, terpililih sebagai tempat bermukim yang ideal bagi keluarga Sanghyang Wenang.


Dengan menggunakan pusaka Lata Maosadi, yang terbuat dari Oyod Mimang akar dari pohon kehidupan Kalpataru. Sanghyang Wenang mengangkat daratan yang luas ke udara, membuatnya melayang di angkasa. Lata Maosadi menumbuhkan bunga-bunga dan pepohonan. Merembeskan titik-titik air. Mengalir menganak menjadi sungai-sungai. Menderas memberi kehidupan, menuju pantai dan lautan yang maha luas. Sebuah dataran melayang indah nan asri. Mirip dengan yang ada di bumi.


Sanghyang Wenang menamakan daratan itu sebagai Kayangan Suralaya. Selanjutnya ia membangun istana yang tak kalah megah dan indah dari Kayangan Malwadewa, yang bernama Jonggring Salaka, yang menjadi tempat persemayamannya. Lalu ia menyelimutinya dengan selubung ghaib hingga tak kasat mata. Terakhir Sanghyang Wenang menyematkan sepasang pintu gerbang ghaib di bagian terluar Kayangan Suralaya, bernama Pintu Gerbang Selamatangkep.


Begitulah, Jonggring Salaka, Kayangan Suralaya, menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sanghyang (dewa), yang menguasai tiga lapis dunia yang terdiri atas Mayapada (dunia para Dewa), Madyapada (dunia halus tempat jin dan siluman), dan Marcapada (dunia manusia), yang dikenal dengan Tribuana. Menggantikan Kayangan Malwadewa yang telah lebur.

Bersambung 

Baca kisah 1 Wayang Purwa

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
19 November 2017