Mohon tunggu...
James P Pardede
James P Pardede Mohon Tunggu... Freelancer

Menulis itu sangat menyenangkan...dengan menulis ada banyak hal yang bisa kita bagikan.Mulai dari masalah sosial, pendidikan dan masalah lainnya yang bisa memberi pencerahan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Hari Ini Diundang, Besok (Giliran) Kita yang Mengundang

16 Januari 2020   06:09 Diperbarui: 16 Januari 2020   06:19 28 1 0 Mohon Tunggu...
Hari Ini Diundang, Besok (Giliran) Kita yang Mengundang
Undangan by James P Pardede

Urusan undang mengundang dalam pesta pernikahan pasti berbeda-beda pemaknaannya bagi setiap orang. Ada yang sangat senang saat menerima undangan pernikahan dan ada yang merasa sakit hati ketika undangan secara tertulis tidak sampai ke tangan. 

Setiap orang berbeda pendapatnya dengan undangan pernikahan, suku Batak misalnya menghadiri undangan pernikahan bagi orang tua kita adalah ibarat menanam kebaikan atau piutang yang suatu saat bisa dituai hasilnya.

Seperti pengalaman penulis dimasa kecil, setiap kali ada undangan pernikahan yang disampaikan secara lisan atau secara tertulis berupa kartu undangan, orang tua saya pasti hadir. 

Terkadang, ada 2 undangan pernikahan yang waktunya bersamaan. Agar orang yang mengundang tidak sakit hati, undangan yang satu dihadiri orang tua saya yang laki-laki dan undangan satunya lagi dihadiri oleh ibu saya.

Setiap kali menghadiri acara udangan pernikahan bagi suku Batak, perlu mengetahui posisi kita dalam pesta pernikahan tersebut. Filsafat Dalihan Na Tolu (somba marhula-hula, elek marboru, manat merdongan tubu - hormat kepada pihak isteri atau tulang/paman, penuh kasih sayang terhadap adik atau anak perempuan dan hati-hati dalam menjaga hubungan baik dengan abang dan adik yang laki-laki semarga).

Kalau kita sudah mengetahui dimana posisi kita dalam undangan pesta pernikahan, maka kita akan tau kita berada diposisi mana dan tempat duduk kita dalam pesta pernikahan tidak salah tempat.

Apa yang akan kita bawa ke pesta pernikahan juga sangat berkaitan erat dengan posisi kita dalam falsafah suku Batak. Apakah kita bawa ulos, tandok berisi beras atau cukup bawa tumpak (kado/uang).

Ada kalanya dalam sebuah pesta pernikahan posisi kita sebagai hula-hula yang sangat dihormati, ada kalanya juga posisi kita sebagai anak atau dongan tubu. 

Ketika posisi kita sebagai boru dalam sebuah undangan pesta pernikahan, maka kita harus bisa menempatkan diri kita sebagai parhobas (pelayan/pekerja) dalam hajatan tersebut.

Terlepas dari posisi apa kita dalam sebuah undangan pesta pernikahan, ketika kita sebagai tamu atau undangan maka kita akan mempersiapkan segala sesuatunya sebagai buah tangan dan penghargaan kita kepada orang yang mengundang.

Demikian sebaliknya, pada saat giliran kita yang mengundang kita sangat mengharapkan kedatangan orang-orang yang kita undang agar bisa hadir dan (tidak terlalu berharap) bisa mendapatkan tumpak (buah tangan) sebagai hadiah untuk pernikahan anak kita.

Di era sekarang, ada keprihatinan kita dengan kepedulian generasi muda kita dalam hal undang mengundang ini semakin memudar. Untuk mengundang seseorang saat ini sudah bisa dikirim secara bersamaan lewat SMS atau pesan berantai lewat media sosial. 

Urusan kartu undangan sudah semakin tidak terlalu penting lagi bagi kaum millenial. Ada kekhawatiran, sikap kita untuk menghadiri undangan demi undangan semakin memudar.

Mari kita pupuk dan tanamkan kembali kepada generasi muda penerus bangsa ini untuk tetap perduli dengan yang namanya undangan. Kalau kita diundang, kita harus berusaha untuk datang. 

Hukum timbal balik akan berlaku. Ketika kita menghadiri pernikahan anak teman satu sekolah, kita tidak bisa hadir dengan alasan yang tepat mungkin tidak jadi persoalan. 

Akan tetapi ketika alasan yang kita lontarkan tidak masuk akal, maka jawabannya adalah jangan pernah berharap orang-orang yang kita kecewakan dimasa lalu terpaksa mengurungkan niatnya untuk hadir di acara pesta pernikahan anak kita atau mereka akan enggan untuk memenuhi undangan kita. Kenapa? Karena pada saat kita diundang kita tidak datang.

Undangan pernikahan jangan dijadikan beban, tapi jadikanlah itu sebagai investasi masa depan, dimana pada saat berbalik menjadi pengundang, orang-orang akan ramai datang karena mengingat kerajinan kita selalu datang setiap kali ada undangan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x